ˈmänəlˌôɡ (Monologue)

13:21 LuqyLugy 0 Comments


Aku tersenyum menatap sisi samping dari wajahnya yang sedang memperhatikan jalan. Jika bukan karena pinjamannya pada ku untuk pernikahan teman kami, mungkin saat ini tidak pernah ada aku dan dia duduk bersama di sebuah kedai kopi. Hanya berdua.

Dia menengok tiba-tiba, “Kenapa?”

“Apa?” Refleks ku menjawab dan menghadap depan.

Kami sudah bersahabat cukup lama tetapi jika itu hanya ada aku dan dia, kami bukan seperti dua manusia yang bersahabat lama. Melainkan dua orang asing yang dipaksa bertemu untuk saling berdiam mengamati diri masing-masing. Lagi-lagi aku tersenyum memikirkan sekelebat kenangan masa lalu tentang betapa jauhnya kami.

Hening kembali mengisi ruang dan jarak di antara kami. Aku sibuk memikirkan apakah kami baik-baik saja? apakah kenangan dahulu akan mengusik hubungan baik-baik ini? Apakah aku boleh meminta sebuah kejelasan? Aku ragu perasaan ini sebuah kasih sayang, cinta, suka atau hanya sebuah perasaan yang tidak pernah menemui lembar akhir.

Ada satu hal yang selalu ingin ku buktikan. Jika aku mengungkapkan ini akan kah rasa penasaran itu mati? atau akankah aku mendapatkan patah hati terberat ku? Apakah Tuhan justru memiliki jalan cerita yang tidak pernah terbayangkan plot ceritanya oleh ku?

“Aku mau jujur.” Ujar ku yang langsung mendapatkan penuh seluruh atensinya.

“Soal surat yang dulu banget aku kasi kamu. Aku minta maaf. Aku jelek dalam mengingat hal-hal yang sudah lama tapi perasaannya gak pernah aku lupain. Dua belas tahun? Sampai saat ini aku pikir aku dan kamu sudah selesai. Khususnya aku. Aku pikir perasaan aku sudah selesai. Ternyata perasaan itu tertidur lelap ketika dia merasa lelah. Sampai saat ini rasa itu masih tersimpan utuh di tempatnya. Terkadang aku mengutuk diri sendiri. Mengasihaninya. Kenapa tidak bisa untuk berlabuh melihat orang lain saja? Kenapa ketika sudah bersama dengan orang lain perasaan untuk mu masih juga berada di tempatnya tanpa pernah berkurang?”

Aku tertawa dalam hati menertawakan diriku bahwa mengungkapkan hal ini padanya. Jika memang kami tidak ada apa-apa, kenapa dia tidak pernah jujur di hadapan ku kalau memiliki orang lain. Sedangkan di depan orang lain semua mengungkapkan kalau dia telah menjadi orang spesial bagi orang lain. Kenapa perempuan itu hanya menghapus aku dari pertemanan yang tidak ku pernah tahu dimana letak kesalahan ku? Banyak ‘kenapa’ yang tidak pernah terjawab.

Ada perasaan-perasaan ganjil yang ku takutkan ini hanya imajinasi ku. Sebuah pertanyaan dan jawaban yang ku rangkai indah di dalam kepala dan memupuk perasaan itu semakin tumbuh subur. Ketakutan ku bahwa jika ini tidak pernah diungkapkan akan menjadi penyesalan terbesar. Sangat besar. Hingga aku lupa bagaimana caranya berpijak dan bertahan. Aku takut bahwa ini hanya sebuah monolog bukan dialog.

“Jadi… apakah ini perasaan ku saja? atau perasaan ini pernah terbalas bahkan bisa saja akan terbalas nantinya?”

Dia menatap ku tanpa satu buah kata. Dia selalu seperti itu sejak pertama kali aku mengenalnya bagai sebuah buku yang tidak pernah bisa terbaca alur ceritanya dan tidak pernah menemui akhir.

0 comments: