Curcol : Sore : Istri dari Masa Depan

11:47 LuqyLugy 0 Comments

Hallloooo pembaca blog ku. Udah lama banget kayaknya aku ga buat sesi curcol soal buku ataupun film. Lama sekaliiiii... Iya nih lagi terjebak di dunia imajinasi yang berisik. Tapi memang lagi cukup sibuk aja sama drama dunia kehidupan nyata. Mohon doanya kawan-kawan. I can do this. It will pass, everything will be okay. 

Kali ini aku mau bahas soal film yang baru aja rilis, Sore : Istri dari Masa Depan. Sebelum film ini keluar sebenarnya Yandy Laurens udah mengeluarkan versi web seriesnya which is very goooowwwdddddd. Tahun 2017, kalau ga salah aku juga suka banget dari segi gambarnya. Oke satu satu yaaa kita bahas. Postingan kali ini akan bercerita tentang filmnya. Kita mulai dari ceritanya. 

oiya, [Spoiler Alert]! Aku mau kasi saran sedikit sih. Aku suka banget filmnya jadi sebelum kamu scroll ke bawah kayaknya lebih baik kamu nonton dulu, terus balik lagi deh ke sini. 

Seorang perempuan datang dari masa depan untuk mengubah hidup pasangannya jadi lebih baik. Namanya… Sore. SORE (Sheila Dara) hanya punya satu tujuan, yaitu mengubah kebiasaan dan gaya hidup JONATHAN (Dion Wiyoko) sebelum semuanya terlambat. Namun, saat Sore mengungkap rahasia masa depan, sesuatu yang tak terduga terjadi. Apakah usaha Sore untuk mengubah hidup Jonathan berhasil? - source: https://m.21cineplex.com/id/movies/15SIDM
Kamu akan sangat marah? atau kesal yaa? Sekilas ceritanya sama sekali ga masuk akal. Sama sekali tidak realistis. Tapi entah kenapa aku suka. Aku tersentuh sama ceritanya. Sore yang harus terus menerus mengulang scene yang sama dengan keadaan Jo sama sekali tidak kenal Sore tiap Sore melakukannya dari awal. 

mau seribu kali diulang. Aku akan tetap memilih kamu.
Kurang lebih monolog Sore begitu. Mau berkali-kali diulang dan berkali-kali mengulang hal yang sama akan tetap dilakukan oleh seorang Sore sampai akhirnya dia menemukan kalau Tuhan memberikan kesempatan untuk diperbaiki. Adaloh titik jenuhnya Sore (dan ini sangat manusiawi), ketika berkali kali kembali untuk membuat Jo menjadi lebih baik agar hidup lebih lama akhirnya Sore memilih pergi. Memilih untuk memulai hidup baru. Tapi tau tidak? kalau ternyata mereka dipertemukan lagi. Tidak dengan dialog, hanya rasa kerinduan Sore yang membucah dengan sedikit pelajaran hidup kalau, 


Berarti kalau manusia bisa berubah? manusia itu akan berubah bukan karena dipaksa untuk berubah, karena di dalam dirinya dia mau berubah dan dia merasa dicintai. Dalam diri dia mau berubah untuk menjadi lebih baik. 

That's hit me harder. Pada titik ini aku sadar aku berubah... bukan karena terpaksa, awalnya memang ga baik sihhh aku berubah karena lelaki yang ku sayangi bukan karena aku sendiri. Tapi ternyata atas seluruh permintaan perubahan yang dia minta untuk ku lakukan, aku merasa menjadi lebih baik dan nyaman. Aku merasa banyak berkah bukan hanya berubah menjadi lebih baik tetapi juga merasa sangat dicintai. Gapapa aku berubah demi orang yang aku sayang dan supaya bisa memiliki waktu yang lebih banyak dengan dia. Lalu Tuhan sedang menguji kami, aku dan dia berpisah. Tapi bukan berarti aku kembali jadi manusia yang berantakan? Berantakan sih sedikit tapi hatinya berantakan banyak. Namun sedang ku usahakan juga sehat, bahagiaku dan stabilku tanpanya karena aku menyayanginya dan menyayangi diriku sendiri. Dan aku juga mengalah... aku tidak memaksakan kebahagianku, maka aku mengalah melepaskannya. I let him go. 

Film ini mengajarkan aku untuk berhenti. Sore mencintai dan menyayangi Jo dia memilih untuk berhenti memaksa lalu ia menunggu Jo siap untuk memaafkan. Tapi di sini masalah baru muncul ada harga yang harus dibayar karena memaksa ke masa lalu, waktu. Sore kali ini bukan lagi melawan egonya, tetapi waktu. Dia sudah harus pergi. 


Anehnya dan kerennya dengan seluruh perjuangan Sore. Jo berubah dengan sendirinya tanpa ada Sore. Sore tidak lagi mengulangi kehidupannya. Dan silahkan menebak jalan cerita selanjutnya... 

Yang aku kagumi perpindahan point of view (POV) dari Jo ke Sore itu sangattttt halus. Kamu secara tidak sadar kalau tiba-tiba sudah berada di POV-nya Sore. Ceritanya juga sangat sederhana hanya berkisah tentang Jo dan Sore tetapi tidak bosen dan malah gregetan. Aku sih sepanjang cerita nangis yaa. Melloww... hahaha. 

Oke mari kita beralih ke gambar-gambarnya. Aku berharap aku bisa membagi apa yang terekam di kepala ku sih. DOP-nya top banget. Banyak gambar close-up dan medium-up yang ini tuh wajar banget buat membangun karakter dan bisa lebih merasakan apa yang lagi digambarkan karakternya. Tapi karena pengambilan gambarnya di tempat yang oke yaa.. jadi walaupun banyak gambar close-up aku sama sekali tidak boseennn. Apalagi gambar-gambar landscapenya. Duh Tuhan bagus banget. Satu lagi, tone warna gambarnya, film ini pakai warm tone. Jadi lebih berasa hangat dan kehilangan disaat yang bersamaan. *aku makin nangis...

Kesimpulannya, film ini bagus banget. Aku seneng banget bisa nonton sebelum spoiler bertebaran dimana-mana. Dan aku bersyukur nontonnya sendirian, jadi aku bisa mengekspresikan diri aku lebih banyak (maksudnya nangis ga perlu malu-malu). Aku suka semua part dicerita ini. 

kata kunci: aurora dan senja. 

Yak sekian curhatan saya. Mohon maaf apabila ada nyelip-nyelip cerita personal dan lain-lainnya. Sampai bertemu di curcol-curcol selanjutnya. 

0 comments: