Makan Siang Apa ya?

 
"Hai Iblis kecil..." Sahut Jova dari bilik kantor. 

Terlihat Dee hanya menengok sedikit dari balik monitor. Kakak perempuannya itu sudah kembali setelah drama cuti melahirkan si kembar. Lebih tepatnya berhenti bekerja dan kembali menjadi wanita karir. Siapa yang bisa melarang seorang Jovanka untuk tidak kembali ke agensi mereka. Secara suaminya salah satu yang memegang kekuasaan sekarang. Hmmm.. sepertinya bahasa kekuasaan berlebihan. 

"Gilaaaa yaaa, gue menyapa dengan kelembutan hati sambil bawa kopi kesukaan lo, ga ditengok sedikitpun." Jova masuk sambil duduk di sofa dan menaruh bawaannya di atas meja. 

Setelah menyelesaikan beberapa ketikan dari dalam layarnya dia menghampir Jova dan mengambil satu buah kopi itu.

"Lo balik?" Tanya Dee yang jelas-jelas sudah mengetahui kabar kembalinya Jova sejak seminggu yang lalu. Eits... tentu saja bukan dari suaminya tetapi dari Kian. 

"Menurut lo? Mahe ga kasi tau lo?" 

Dee menggeleng dan menjatuhkan sebagian tubuhnya pada sofa tersebut setelah menyesap sedikit kopi sambil memejamkan matanya. Menatap layar terus menerus membuat kepalanya sedikit pening dan kafein yang dibawakan oleh Jova membantu untuk meredakan nyeri di kepalanya sedikit. 

"Emang bener-bener laki gue tuh. Susah banget izinin bininya balik kerja." Jova ikut ngedumel. Dee tersenyum dia sangat tahu sifat proketif kaka iparnya itu yang tidak mau Jova kelelahan karena mengurusi kantor dan juga anak-anak mereka. 

"Lagian lo gila, udah dikasi dua anak yang lucu-lucu dan imut masih mau ngantor aja. Sini kasi satu aja itu anak lo buat gue sama Saga." 

Tatapan Jova langsung berubah datar tidak berkespektasi kalau asbun-nya Dee akan seperti itu. 

"Usaha bikin sendiri lah. Walaupun lu adik gue, gila aja anak dibagi. Gue masih sanggup apalagi bapaknya. Bapaknya aja yang lebay. Gue kan kerja juga suka-suka gue." 

Memang beda kalau perusahaan dia yang punya bisa ambil libur kapan aja, kalau capek tinggal cabut aja. Walaupun Dee tahu Jova bukan karakter orang yang seperti itu. 

"Lagian kenapa sih keukeh banget mau balik kerja? Bang Mahe sampe ngedumel mulu kerjaannya sama laki gue. Di strap kadang tuh Saga sama Kian buat nemenin dia ngelembur." Dee menatap kakaknya meminta penjelasan. 

"yaaa.. Lo kayak gak tau Mahesa aja. Dia ngomel, ngambeklah akhirnya sibuk banget kerja. Kayak semuanya diburu-buruin." 

Dee mengangguk-angguk sebenarnya khas karakter laki-laki. Jova ga kekurangan apapun dari Mahesa. Uang? ada. Liburan? Mau kemana aja, gas. Mereka hidup berlebih. Kurangnya? waktu. Untuk dapetin itu semua kan memang harus ada yang dikorbanin. Mahesa jadi jarang sama anak-anaknya. Kadang-kadang si kembar nemenin bapaknya kerja tapi yaa ga sesering itu juga. Imbasnya? kalau Mahe sibuk otomatis waktu dengan Jova juga jadi lebih sedikit. 

"Tapi Mba, lo pernah mikir ga kalau lo ikut kerja si kembar bakal kurang sosok bapak dan ibunya?" Dee bertanya dengan nada bisa saja tidak maksud untuk memojokan Jova dengan pertanyaan yang terlihat lebih berpihak pada sisi Mahe. 

Jova menarik nafasnya panjang, "Sebenarnya itu juga jadi pikiran buat gue. Tapi gue juga ga bisa diem. Kayak ada hal yang kurang ketika gue jadi Ibu. Apalagi pas anak-anak gue tidur siang. Coba lo bayangin apalagi nanti pas anak-anak gue udah sekolah. Pas mereka sekolah gue ngapain? sekarang aja pas mereka udah mulai mau pre-school gue udah mati gaya di rumah." 

"Gila ponakan gue persaan baru tiga tahun dah kok udah mau pre-school aja?" Dee mendengar itu sedikit terkejut. Sudah berapa lama dia tidak melihat si cantik dan si ganteng itu yaa? ahh.. sepertinya terakhir saat hari pernikahan dia dan Saga. 

"Lo sudah hampir setahun ga ketemu ponakan-ponakan lo yang cantik dan cakep itu Dee Suraiyaaa. Jadi wajar dong gue minta balik kerja sama Mahe." 

Dee menatap Jova senyam senyum, "Pasti syarat dan ketentuan berlaku kan?" Sangat paham dengan watak Mahesa. 

Jova tersenyum jahil. Dee mengerti arah pembicaraan ini. Pantes saja banyak pekerjaan dilimpahkan ke dia sejak dua bulan yang lalu. Banyak project yang seharusnya bisa di direct langsung oleh Mahe tiba-tiba saja diserahkan ke Dee padahal Dee sudah memperingatkan Kian kalau dia mau rehat seminggu untuk menikmati Bali atau Lombok. 

Dee melempar bantal yang ada di sofa, "Dasar. Pantesaaaannn kerjaan gue menggunung tuh. Elu mauu bulan madu lagi yaa. Yaa Tuhan bisa bentar dulu ga? Gantian gue sama Saga dulu kek?? Hellooowww gue juga butuh yang kecil-kecil imut membuat diriku dan Saga pusing." 

"HAHAHAHAHAHA. Kan gue udah bawain lo kopi, berarti udah setuju dong. Sekalian dong sebelum punya trial dulu yaa pas gue hanimun. Liatin sehari dua hari lah anak-anak gue." Jova tertawa terbahak-bahak. 

"Gila gue disogok cuman sama kopi seharga tiga puluh rebu." Dee mengomel kecil tapi tetap meminum kopi tiga puluh ribu itu. 

"Tapi lo sama Saga lagi baik-baik aja kan?" Tanya Jova. Membuat Dee memberikan muka pertanyaan kenapa? setau Dee kehidupan rumah tangganya sedang baik-baik saja, yaa walaupun akhir-akhir ini cenderung datar tapi mereka menjalaninya dengan sangat baik. 

"Yaa gue liat nih kayaknya lu makin sibuk. Hp ga tau ada dimana. Ini aja kayaknya gue mesti mencuri waktu lo." 

Dee tertawa karir. Jova sangat hapal, "Jangan pernah pake muka topeng lu ya Dee." 

Dee semakin tertawa, "Iyaaaaa sibuk sih. Tapi gue suka di sini. Gue suka ngatur ini itu, kerja sama orang vendor. Yes. I know. Saga suka ngomal - ngomel sih kalau udah ga kenal waktu ngatur project sampai kadang sehari sebelum project gue udah mulai susah banget dihubungi. Saga hapal banget. Tapi yaudah, Saga juga ngerti toh abis project dikasi waktu sehari dua hari tanpa gangguan full hepi-hepi. Kecuali sekarang yaaa gegara lakik luu tuh duh kerjaan gue banyak banget." 

"Nah kalau kayak gitu Saga gimana?" 

"Yaudah paling bentar lagi nongol karena bininya ga jawab telfon. Atau kadang kalau lagi ada waktu nemenin gue kerja sambil vicall. Nanti pas gue lagi bingung dia bantuin gue brainstorming. Dia kalau lagi kerja di studio gue temenin juga. Disempet-sempetin asal bisa sama-sama aja. Pulang kantor peluk-pelukan, pacaran lagi. Emang elu balik kantor direcokin buntut." Ledek si Iblis kecil. 

Gak lama ada suara langkah kaki seorang laki-laki yang sedang mereka bicarakan. 

"Sayang, hpnya dicek dong? Mau makan siang dimana? dari tadi aku telfon-telfonin kayaknya kamu ga ngeh." Saga memasuki ruangan Dee tanpa mengetahui ada Jova di dalamnya. 

"Haiii..." Sapa Jova ramah karena sudah lama tidak bertemu adik iparnya ini. 

ohhh pantes. Batin Saga. 
Nambah lagi ini mah saingan, mbaknya udah masuk kantor. 

"Ngerti kan kenapa aku dari tadi gak pegang hp? Nenek lampir ini telah bersekongkol dengan suaminya menabah pekerjaan ku, Babe. Marahin lah sekali-kali itu Si Jovanka." dumel Dee segera memeluk suaminya di depan orang yang dikatainya nenek lampir itu. 

Saga berbisik sedikit, "Mana berani aku. Kamu aja yaa bagian ngomal ngomel." 

"Bisa ga yaa pelak peluknya tidak di sini wahai adik-adik ku. Lo gapain Ga ke sini? Bukannya tadi di studio?" Tanya Jova. 

"Si iblis kecil ini tidak menjawab ketika ditanya mau makan siang apa. Jadi gue sekalian mau jemput dia makan siang Mba. Lo mau ikut?" 

"Engga deh, gue mau ke ruangan Mahe aja makan di sana. Kayaknya juga udah disiapin makan." 

"Kalo bos mah emang beda sayang." celetuk Dee. 

Saga mengangguk, "Iyasih. Kamu mau makan di studio aja? Nanti aku minta disiapin di studio?" 

"Tuh Pak Bos sebelah juga bisa siapin makan kalau Bu bosnya mau." Ledek Jova. 

Dee mengambil tas-nya memasukan hp, "Enggak, Bu bos mau makan di luar sambil kencan sama bos sebelah." Dia mengamit lengan Saga dan langsung pamit keluar. 

Saga tertawa dan sekilas pamit juga dengan Jova.  

Jova hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Dee. 

Tiba-Tiba Ganti Presiden


"Tante, apa itu bahagia?" Seorang anak kecil dengan rambut dibiarkan terurai sampai bahunya bertanya pada ku. Tercetus begitu saja... aku yang sedang membaca sebuah novel menutup novel itu. Novel dengan sampul berwarna pink bertema ceria, ternyata... kita memang tidak bisa menilai sebuah buku dari sampulnya. Jangan...

"Hmmm... apa yaaa? pas Ema lagi merasa senang banget, dibelikan nenek mainan yang Ema pengen banget. Pas Ayah beliin Ema permen yang banyak sekali."

"Tapi kalo Ema makan permen yang banyak nanti Ema batuk. Berarti Ayah mau Ema batuk yaa?"

Aku tertawa, Yaa Tuhan semoga nanti celetukan-celetukan anak ku tidak seajaib sepupunya ini.

"Yaa ga gitu konsepnya cantikk..." Ku cium dengan gemas hidung keponakan ku.

"Kalau Tante? Apa yang buat Tante bahagia?" Walaupun aku tau ujungnya akan ditanyai hal seperti ini oleh keponakan ku. Aku masih saja kagum dengan umurnya yang akan menginjak tujuh tahun sudah menanyakan konsep bahagia.

Orang 'dewasa' saja sekarang amat sangat lelah mencari definisi bahagia, mungkin sekarang kami terlalu sibuk dengan bagaiaman caranya bertahan agar tidak sinting.

"Apa yaaa?"

"Masa Tante ga tau sih apa yang buat Tante bahagia? Kayak Ema dong nih dapet uang dari Tante, Ema bahagia sekaliiiii..." Ucap gadis kecil sambil memperlihatkan muka imutnya. Aku tau pasti habis ini dia akan minta yang aneh-aneh.

"Hmmm... bisa main sama Ema, Tante bahagia kok ini."

"Huh... gak asik." Dia berlali menyusul Om-nya yang sedang bermain di pantai. Aku tersenyum melihatnya berlari dan mulai bermain air. Suasana pantai kala itu sangat cerah tapi tidak sampai membuat pusing saking panasnya. Angin sepoy-sepoy menyapa kami dengan ramah seolah memberi izin untuk kami menikmati hari.

"Jadi apa bahagia itu Ra?"

Ku lempar novel yang sudah ku tutup tadi pada sahabat ku.

"Shut up. Lo paling tau gue lagi ga bisa mendefinisikan perasaan berat."

"Mau sampai kapan Ra?"

"Apanya sihhh? Gue baik-baik aja. I'm totally fine." Aku menatap matanya dengan sungguh.

"Gue tau yaaa, sampe anak gue mau berojol yang kedua, gue tau banget lo getting worse day by day. Sekarang gue tanya deh insomnia lo emang makin baik? Lo tidur sama obat hari demi hari. Kemana-mana sama obat. Ayok dong Ra... ke sini mau membaik kan? kita semua ada di sini."

Setets air mata jatuh di sore yang cerah itu.

"Pada akhirnya manusia itu sendirian Sas, kalian emang ada di sini. Tapi ga benar-benar ada. Pada akhirnya gue yang ciptakan bahagia gue sendiri, gue yang harus ciptain gak papanya gue sendiri. Gue harus tetap memilih percaya gue bisa hadapin ini semua. Gue harus percaya sama diri gue sendiri. Gue harus mampu, gue harus bisa. Jatuh bangunnya setengah mati Sas... diabaikan, ketidakpedulian titik terendah dimana gue harus terima kenyataan kalau dia udah tidak akan menengok lagi. Tidak akan."

Sasa langsung memelukku dengan erat, pertahanan ku runtuh dengan sebuah pelukan yang rasanya sudah lama sekali mencari tempat bersadarnya untuk sejenak saja.

"Kenapa yaa? Perasaan gue udah hati-hati banget buat ngasi tau diri gue jangan jatuh banget. Jangan. Sampai akhirnya gue yakin dan tulus banget. Kapan sih lo liat gue setulus dan sesayang ini sama orang? Kapan gue pernah minta ke Tuhan kalau bakal ada orang yang jadi tujuan akhir gue? Dari kecil gue harus ngerasain hidup sendirian berperang terus menerus, kali ini ajaa tolong gue mohon benar-benar menangkan gue dari pertarungan diri gue sendiri..."

"Gue benar-benar takut kalau suatu saat nanti gue bakal lupa suara dia kayak gimana, gue takut banget kalau nanti bakal ada orang yang gantiin dia, gue takut banget kalau cerita gue bukan berakhir sama dia, gue takut banget. Padahal ga seharusnya gue takut Sa. Gue yang dulu pasti bakal bilang 'Yaudah lo mulai lagi semuanya sendiri' kali ini gue ga mau. Gue mau nunggu dengan bodoh sangat bodoh sampe dia sadar, keras kepalanya bisa liat kalau gue sungguh dan benar-benar sama dia. Pengen rasa gue keplak kepalanya, terus gue bilang 'liat gue yaaa, lu keras kepala banget. Kesel banget gue elu ngeraguin gue terus' gue mau buktiin ke dia kalau ada orang yang sayang sama dia dengan sungguh bakal terus ngedukung dia ga bakal kemana-mana selelah apapun orang itu sama dia, gue tetep mau bertahan. Tapi gue takut banget Sa ketika Tuhan justru ga mau kalau gue buat begitu. Gue takut banget. Makanya sebenci-bencinya gue sama dia, senyakitin apapun perlakuan dia ke gue, kenyataan nampar gue berkali-kali, dia mengabaikan gue berkali-kali, gue selalu buka pintu buat dia. Karena gue takut... gue takut kehilangan gue dan dia."

"Terus kalau begini kapan mau sembuhnya Ra?"

"Buat apa sembuh? gue ga sakit Sasa... dan dia bukan penyebab gue sakit. Gue aja yang lemah. Justru hadirnya dia buat gue kuat. Ini karena gue lagi capek banget aja kali yaa. Please Sa... kali ini aja, biarin gue baik-baik aja. Jangan paksa gue buat sembuh atau pun berubah atau cari yang lain atau apapun. Gue sayang dia."

"Janji satu hal yaa, jangan letakin bahagianya di dia?"

"Janji. Bahagianya tetap di diri gue sendiri. Gue janji. Gue selalu janji. Gue Janji. Asal Prabowo Gibran di ganti."

Sasa melepaskan pelukannya, "Gila. emang sinting lagi nangis tiba-tiba minta ganti Prabowo sama Gibran. Ke laut aja lo sono"

Aku tertawa dengan muka ku yang jelek dan mata sembab ku.

Ya Tuhan, tolong menangkan aku.

Beradu.

 

Lautan kali ini sedang menunjukan emosinya. Tidak tenang namun tidak bisa juga dikatakan bergerumuh kencang. Protes alam semesta yang tidak pernah didengar manusia yang menempatinya seolah sealu mempunyai ruang maaf. 

Berbeda dengan manusia yang sedang merenung menikmati riuhnya suara ombak dan lautan yang sedang beradu. 

"Seperti bertengkar." Ujarnya pelan mendengar kembali. Rintik hujan perlahan mulai turun menambah berbagai macam suara dah gemuruh riuh suasana saat itu. 

"Kali ini seperti isi kepala ku." Ia merebahkan dirinya membiarkan air rintik hujan yang berubah menjadi butir butir hujan membasahi tubuhnya. 

Isi kepala yang sudah tidak lagi mengamuk tetapi terus berbicaa tiada henti. 

"Apakah bisa aku serakah?" 

"Apakah bisa aku meminta lebih?" 

"Padahal Tuhan adala sekay-kaya tempat meminta." 

"Tuhan adalah segalanya, manusia memberi batas." 

Hujan yang kembali menemui Laut, dan Laut yang kembali menemui Hujan. Riuh seolah keduanya saling tidak ingin menemui. 

Teringat sebuah kalimat. Bolehkan aku bahagia? 

Hanya Cukup Satu Buah.

 
"Kenapa sekarang lebih banyak diamnya?" 

Seketika aku memandang laki-laki di hadapanku ini. Maksudnya? 

"Kamu lebih tenang. Hanya saja terlalu tenang..." 

Ah... dia mengerti maksud dari tatapan ku. Aku kembali memandang laut mendengar suara gemericik air yang bertemu dengan tepi pantai. Hari ini cuaca sangat cerah, cerah sekali. Hari yang sangat baik untuk melakukan hal-hal baik. Berdoa hal baik. 

"Hmm... diam aja nih? Pertanyaan ku ga dijawab?" 

Aku menengok, tersenyum, "Harus bicara apalagi?"

Dia diam.. harus bicara apalagi yaa? sepertinya penjelasan yang selama ini sudah coba untuk ku urai mulai tidak ada artinya. Aku mulai berhenti melihat sekitar dan mulai melihat diri sendiri. Mencoba untuk berhenti melihat dan mengasihani orang lain. Terkadang banyak luka yang tidak dilihat orang-orang kok dan tidak perlu juga orang-orang untuk melihat. Maksud ku adalah... seberapa sering aku menceritakan rasa sakit atau rasa bahagia tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Sekitar ku, di sekitar ku. Jadi kali ini aku lebih memilih untuk menikmati aku. 

"Seperti bukan kamu. Sehat kan?" 

Sehat ya?

"Sehat." jawab ku singkat tapi pandangan ku akan laut kembali berubah. 

"Orang itu?" Tanyanya. 

Orang itu. Sosok laki-laki yang tidak pernah ku ceritakan kepada dunia, tetapi dia tahu. Sosok yang selalu ku yakini akan menjadi akhir dari cerita ku. Sosok yang ntah sejak kapan mengubah aku secara perlahan. Menjadi lebih baik... ku yakini hingga saat ini baik. 

Aku kembali tidak pernah menyalahkan hidup. Terkadang merasa sangat lelah, seperti katanya kalau lelah, istirahat bukan pergi. Aku tidak pernah pergi... aku beristirahat. Aku memiliki kebiasaan baru menutup kepala ku yang berisik dengan selimut agar dapat menghalau perkata-kataan atas aku kepada aku yang jauh lebih kejam daripada perkataan orang-orang. 

Aku menengok ke arahnya tersenyum meyakinkan, "baik dan selalu ku sayangi dengan sangat." 

"Palsu." 

Senyum ku kah? atau perkataan ku? 

"Percaya lah. Entah senyum ku yang palsu atau perkataan ku yang palsu. Atau bahkan diriku penuh kepalsuan. Ku pastikan aku berkata jujur hari itu karena aku tidak mau menyayanginya dibayang-bayang sebuah kebohongan. Dan aku tidak mau mengatakan aku menyayanginya dibayangi rasa 'bagaimana jika dia tahu bukan dari aku.'. Jika memang kesalahan ku sangat fatal. Maka aku tidak pernah menyesalinya. Yang justru ku sesali adalah tidak pernah berkata jujur kepadanya jika hubungan kami diwaktu itu masih baik-baik saja. Aku tidak pernah menyesal, dan bahkan sangat ingin terus berjuang. Aku hanya terlalu lelah berjuang sendirian." 

Dia merangkul ku pelan... 

"Maaf." 

"Apa yang harus dimaafkan?" aku menarik nafas panjang. 

Tanpa pernah tahu harus menjelaskan apapun lagi, "Aku hanya sangat menyayanginya. Kali ini aku menyayangi seseorang dengan sungguh." 

Kembali, tetesan air mata lolos dari kelopak mata ku, merindukannya. 

Hi, Lover.

 
Hallooo Om, hari untuk ucapan tahun ini singkat saja Om... karena anak Om lagi menyebalkan sekali. 
But, I still love him, so much

Happiest Birthday, beautiful soul. 

Tahun ini lebih banyak lagi yang mendoakan dia kok Om. Tentunya penuh dengan hal-hal baik. Aku berusaha pastikan itu. 

Kapan-kapan aku ceritakan yaa Om tentang masa ini masa itu. Doakan masa nanti akan lebih, lebih baik. 

Al-Fatihah. 


Battlefield

 
Apa hal di dunia ini yang belum pernah kamu rasakan? banyak. 

Namun ada suatu hal jahat yang sudah ku lakukan lebih dari sekedar menyakiti hati seseorang lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Tidak memperdulikan seseorang atas perasaannya adalah rutinitas ku untuk hidup akhir-akhir ini. 

Dikelilingi orang-orang yang sangat peduli dan sangat menyayangi ku adalah sebuah berkah. Sangat penuh berkah tetapi akhir-akhir ini sepertinya berkah itu aku hempaskan. Ku membuat masalah yang sebenarnya tidak perlu ada. 

Benar kalau rasa cukup itu tidak pernah ada. Semu. 

Ada orang yang tidak pernah cukup harta menjadikannya semakin maruk. Sebutlah aku maruk akan rasa kasih dan sayang. Aku tidak pernah merasa cukup dicintai dan disayangi. Aku pernah membaca tulisan, bagi seseorang mencintai itu adalah sebuah perperangan, sementara bagi seseorang yang lain mencintai itu adalah berada di sebuah taman yang indah. 

Aku ingin berhenti merasa kurang dalam mencintai seseorang. Aku ingin dalam mencintai seseorang aku sudah merasa penuh sehingga orang tersebut tidak perlu khawatir atas luka-luka ku. Aku bisa menceritakannya dengan mudah, tanpa mengganggu hubungan ini. Dan membersamai juga dibersamai tidak lagi terasa seperti berperang. 

Ah... tapi bagaimana bisa merasa cukup, aku baru saja menjadi orang terjahat, teregois. Berperang, menyakiti hati orang yang melahirkan ku bahkan dengan hal yang jauh lebih tajam dari sebuah pedang, lalu meninggalkannya dalam kesunyian. Aku berhenti bercerita dan menjadikan semua baik-baik saja kabur dari hal yang ku sebut rumah. 

Semakin dewasa ternyata kabur menjadi jalan pintas yang semakin sering ku gunakan. Diam yang tidak bisa kulakukan secara otomatis kulakukan. Tanpa perintah. Mengabaikan menjadi hal yang biasa ku lakukan. Pura-pura tidak melihat pemberitahuan pesan maupun sambungan telfon yang masuk. Merasa bersalah namun rasa egois dan menjadi jahat kali ini pemenangnya. 

Bagaimana bisa mencintai orang lain sementara dalam mencintai aku selalu memasang mode bertahan? selalu merasa tidak lengkap? Bagaimana bisa mencintai ketika dalam diri banyak puzzle yang berantakan dan sudah lelah untuk dirapihkan?

Combo Yakiniku

 
Suasana bandara saat itu tidak terlalu ramai. Mungkin karena kami masih terlalu pagi untuk keberangkatan suatu pesawat. Rencananya memang aku dan lelaki ku ini sengaja berangkat lebih awal untuk menikmati suasana bandara dan makan siang sebelum akhirnya lelaki ku ini akan meninggalkan aku selama beberapa hari. Aku kembali manyun membayangkan untuk beberapa hari tidak ada sosok tubuh tegap yang siap aku jahili kapanpun ini. 

"Hmm.. mulai manyun-manyun ga jelas lagi." Dia yang sedang makan combo yakiniku pesanan favoritnya di tempat makan cepat saji Jepang, menegur ku. 

"Aku ga mau ditinggal sih Mas." Rengek ku lagi sambil mengaduk-ngaduk makanan ku. Kali ini aku hanya memesan yakiniku original biasa. Yang tidak biasa side dish ku pesan berbagai macam menu. 

Aku jadi teringat tadi saat memesan Saga mengomeli aku, "Diabisin loh. Awas kalau ga diabisin." Ku jawab hanya dengan anggukan. Sebenarnya aku yakin kalau pesanannya hanya akan ku take away

"Dee Suraiya... mulai deh manjanya pas udah mau deket-deket aku flight. Kemarin kan sepakat ga mau ikut. Kamu juga sibuk project di sini ga bisa ditinggal." Saga sekarang sudah meletakkan sendoknya dan mulai mengelus-elus tangan ku. 

"Yaa udah ga usah pergi nanti aku deh yang bilang Bang Kian, suruh siapa kek. Bang Mahe lah... ih kenapa sih harus kamu." 

Liat aja si Kian sipit itu akan ku omeli habis-habisan besok. Memisahkan aku yang lagi rindu-rindunya dengan lelaki ku. 

"Yaudah terus gimana? aku gausah pergi aja nih?" 

"Huhu.. aku ga mau ditinggal Sayang... tapi aku juga ga mau ga profesional. Aku lagi mau deket-deket kamu aja." Rengek ku. Kali ini aku sudah menahan tangisku. Melihat reaksi ku yang begitu lebay Saga buru-buru duduk di samping ku. 

"Sayang kamu tuh kenapa sih? semalem juga aku mau ke kamar mandi sampe kamu ikutin ke depan pintu. Lagi manjanya pas aku ga lagi ada kerjaan ke luar bisa ga sih?" 

"Ga tau. Pokoknya lagi ga mau ditinggal. Mau ikut aja." Aku menggamit lengannya untuk ku peluk dan ku biarkan separuh kepala ku bersandar di lengan Saga. 

"Kayaknya tiap aku mau tugas ke luar kamu tuh begini. Rewel." Protes Saga tapi sekarang dia sudah pasrah. Untung saja ide berangkat lebih awal agar bisa di bandara lebih lama dan menghadapi rewel ku sepertinya berhasil. 

"Jangan lama-lama yaa di Aussie. Selesai langsung cus balik. Besok beres juga langsung balik. Pokoknya pulang. Aku masak lauk kesukaan kamu deh, kamu boleh makan kacang seharian penuh. Aku masak apa aja request kamu deh." Kata ku mengancam, mengomel dan membujuk sudah menjadi satu agar dia tidak lama-lama meninggalkan aku. 

"Hahaha... bener yaa Sayang. Masak yaaa.. aku pulang, kamu masak." Dia tertawa mendengar ku. Senyumnya pasti akan ku rindukan. Biarin deh orang bilangnya aku lebay atau manja. Terserah. Intinya aku lagi amat sangat merindukan manusia ini dan tidak mau ditinggal olehnya. 

"Iya janji. Walaupun rasanya biasa-biasa aja. Tapi pulang yaaa. Cepet yaa.." bujuk ku lagi.

"Iya sayangggg..." dibawa aku ke dalam dekapannya, erat. 

Haaahhh... aku mau menangis, ku benamkan kepala ku di curuk lehernya. 

"Sayang jangan bikin aku berat tinggalin kamu dong." Dia mengurai pelukan kami dan sudah melihat aku dengan mata berkaca-kaca. 

"Heh, berani-beraninya pake kata tinggalin. Ralat ga, 'jangan bikin aku berat buat berangkat tugas.'" Kata ku dengan muka galak. 

Aku juga tidak tahu apa yang sedang salah dengan ku, yang ku yakini adalah aku sedang sangat ingin bersamanya. Titik. 

"Iya iyaaa... galak banget. Sayang udah yaa... nanti pas di ruang tunggu aku telfon. Sampai mendarat langsung aku video call juga. Udah yaa.. tuh bentar lagi aku boarding." Bujuk Saga, kali ini suaranya sudah setengah memohon. Saga tidak tahan melihat aku yang terus menerus merengek dan rewel. 

Ku kuatkan diriku, melepaskan pelukannnya, "Yaudah gih sana berangkat. Aku udah gapapa." 

"Ga gitu dong cantik, nanti aku temenin di jalan yaaa. Jangan ngambek dong." Saga hapal banget kalau aku sudah sok kuat tidak akan memohon lagi kepadanya. Ujung-ujungnya aku akan sebal sendiri dan ga menghubunginya. 

"Gimana caranya mau temenin kamu kan di pesawat. Huh..." Aku semakin bete, tapi aku ga mau ini berlarut-larut ku peluk kembali beruang ku, iya Saga kadang kayak beruang cokelat besar, hangat, galak. 

"Sayangku, Cintaku, Kekasih hatiku, hati-hati yaaa... nanti kamu pulang aku tetep manja. Kamu kerja yang bener, gausah aneh-aneh yang aku yakin kamu ga bakal aneh-aneh, aku percaya banget kamu. Aku sayang sekali kamu sampe kamu ga bisa liat deh pokoknya. Aku sayang kamu." aku berusaha menenangkannya dan membiarkannya pergi.

"Kamu tuh kalau lagi manis, manja banget aku jadi susah pergi kan." 

Aku tersenyum cekikan, "Maafin hormon PMS ku yaaa. Mau mens kali makanya mau deket-deket kamu aja mau dielus-elus punggungnya pas lagi keram." 

Ditoelnya hidungku, "Mensnya sekarang aja yaa Sayang. Nanti aku pulang udah bersih." 

Aku pelototi dia. Dasar.  

"Hahahaa... udah yaa tuh udah second call. Aku berangkat yaa Sayangku." 

Aku melepas kepergiannya yang padahal hanya beberapa hari dengan lebay dan hampir ada air mata yang menetes. Aku aja sih yang lagi lebay.

Memasuki parkiran mobil dan mulai menyetir membelah kemacetan kota ini sendirian membuat ku termenung. Saga sudah berpamitan tadi jadi yang menemaniku saat ini adalah celotehan Andre Taulani bersama pasukannya di Lapor Pak. 

Jika tidak ada Saga apa yang sedang ku lakukan yaa sekarang? Belum apa-apa aku sudah sangat merindukannya. Aku tidak mungkin membeli tiket untuk menyusulnya bisa-bisa aku kena amuk Bang Mahe. 

"Hahhh... kangen banget." 

... 

Beberapa hari ini Dee sangat sulit dihubungi, membuat Saga beberapa kali harus menelfon Ethan untuk mengetahui keberadaan istrinya itu. 

"Lakik lo telfon lagi tuh. Lagian kenapa ga diangkat sih?" Ethan memasuki ruangan Dee sambil mengomel. 

"Gatau hp gue dimana." Jawab Dee asal memunggungi Ethan sambil menatap hiruk pikuknya Jakarta bahkan berbalik menatap Ethan saja Dee tidak mau lebih memilih melihat jalan. 

"Lagi kenapa sih. Kalo kangen yaa susulin project di sini kan udah beres juga." 

"Hmm... gitu yaaa? kangen sih tapi gue tuh ngerasa ga dewasa aja kalau mau menghubungi dia. Apalagi dia tipe yang kalo udah kerja juga suka ga liat hpnya. Kadang malah gue telfon dia biarin aja ga angkat. Gue males aja, ganggu dan kesannya demanding. Jadi mending biarin dia kerja aja. Tapi gue jadi sebel gituloh kayak merasa sebenarnya gue berhak ga sih ngehubungi dia. Ga tau deh lagi kangen banget-banget tapi ga mau dibilang demanding." Dia berkata sambil menghela panjang. 

"Yaudah terserah lo aja, tapi itu hp dicari biar lakik lo tau lo dimana ga tiap kali harus telfon kantor nanyain lo ada diruangan udah makan atau belum, gue bukan aspri lo Dee Suraiya." 

"iyaaa udah gih sana keluar. Ini gue cari deh hpnya." Decak Dee sebal. 

Setelah terdengar suara pintu tertutup kembali Dee membalikan badannya dan terkejut ternyata Ethan datang tidak sendirian. 

"KOK PULANG GA BILANG-BILANG SIHHHHH." Dee langsung menghampiri sosok yang amat sanagt dia rindukan itu. 

"Makanya Sayang hp jangan beneran dibuang." Kata Saga mendekap Dee erat. 

"Cium semuka dulu sih Sayang." 

Saga tertawa lalu langsung melakukan apa yang diminta Dee. 

"Langsung pulang yuk, kamu pasti capek. Aku kan janjiin juga mau masak tuh. Yukk... yukk aku beres-beres bentar." 

Saga duduk melihat perempuannya merapihkan barang-barang dan tersenyum mendengar Dee bercerita tentang pekerjaannya kemarin. Lalu akhirnya dia menemukan hpnya. 

"tapi aku sebel sama kamu, pulang ga ngabarin aku." Protes Dee. 

"Mau ngabarin kamu super susah dihubungin apalagi kemarin. Terus tadi pagi aku udah siap-siap, mau ngabarin kamu chat aku yang semalem aja ga kamu bales. Aku tau kamu udah pulang selesai project dari status wanya Ethan. Aku udah hapal banget pasti kamu tidur ga ngabarin paginya aku udah berangkat pulang ke kamu." 

"Hehehee maaf yaa Mas Saga paling ganteng semuka bumi." 

"gitu aja baru bilangnya paling ganteng. Dasar. Sayang dengerin aku yaa, kalau mau ngehubungin aku yaa gapapa. Kan aku punyanya kamu. Kalau emang aku ga angakt ya berarti aku lagi sama klien atau lagi ada tamu. Tapi selama ga ada siapa-siapa atau lagi ga ada kerjaan yang penting aku tetap angkatkan." Saga memberikan pengertian kepada Dee.

"Aku paham banget, cuman kali ini tuh kayak ga wajar aja. Aku lagi kayak anak SD pacaran yang mau lait kamu 24 jam. Kamu harus sama aku terus." 

"Masih manjanya berarrti nih?" Saga tersenyum jahil. 

Dee sudah tahu arahnya dan hanya mengangguk, "Jadi mau pulang sekarang atau masih mau ngomal ngomel Pak Saga yang Super Duper Sibuk?" 

Saga tertawa, "Ayok pulang aku makan kamu dulu baru makan masakan kamu." 

"Astagfirullah Saga Bramantya, makan duluuu aku laperrrrrr..." 

"Cie salting nih... salting." Saga mendekati istrinya dan mengambil tas juga menggenggam tangannya. 

"Apasih Saga, diem."