Combo Yakiniku

 
Suasana bandara saat itu tidak terlalu ramai. Mungkin karena kami masih terlalu pagi untuk keberangkatan suatu pesawat. Rencananya memang aku dan lelaki ku ini sengaja berangkat lebih awal untuk menikmati suasana bandara dan makan siang sebelum akhirnya lelaki ku ini akan meninggalkan aku selama beberapa hari. Aku kembali manyun membayangkan untuk beberapa hari tidak ada sosok tubuh tegap yang siap aku jahili kapanpun ini. 

"Hmm.. mulai manyun-manyun ga jelas lagi." Dia yang sedang makan combo yakiniku pesanan favoritnya di tempat makan cepat saji Jepang, menegur ku. 

"Aku ga mau ditinggal sih Mas." Rengek ku lagi sambil mengaduk-ngaduk makanan ku. Kali ini aku hanya memesan yakiniku original biasa. Yang tidak biasa side dish ku pesan berbagai macam menu. 

Aku jadi teringat tadi saat memesan Saga mengomeli aku, "Diabisin loh. Awas kalau ga diabisin." Ku jawab hanya dengan anggukan. Sebenarnya aku yakin kalau pesanannya hanya akan ku take away

"Dee Suraiya... mulai deh manjanya pas udah mau deket-deket aku flight. Kemarin kan sepakat ga mau ikut. Kamu juga sibuk project di sini ga bisa ditinggal." Saga sekarang sudah meletakkan sendoknya dan mulai mengelus-elus tangan ku. 

"Yaa udah ga usah pergi nanti aku deh yang bilang Bang Kian, suruh siapa kek. Bang Mahe lah... ih kenapa sih harus kamu." 

Liat aja si Kian sipit itu akan ku omeli habis-habisan besok. Memisahkan aku yang lagi rindu-rindunya dengan lelaki ku. 

"Yaudah terus gimana? aku gausah pergi aja nih?" 

"Huhu.. aku ga mau ditinggal Sayang... tapi aku juga ga mau ga profesional. Aku lagi mau deket-deket kamu aja." Rengek ku. Kali ini aku sudah menahan tangisku. Melihat reaksi ku yang begitu lebay Saga buru-buru duduk di samping ku. 

"Sayang kamu tuh kenapa sih? semalem juga aku mau ke kamar mandi sampe kamu ikutin ke depan pintu. Lagi manjanya pas aku ga lagi ada kerjaan ke luar bisa ga sih?" 

"Ga tau. Pokoknya lagi ga mau ditinggal. Mau ikut aja." Aku menggamit lengannya untuk ku peluk dan ku biarkan separuh kepala ku bersandar di lengan Saga. 

"Kayaknya tiap aku mau tugas ke luar kamu tuh begini. Rewel." Protes Saga tapi sekarang dia sudah pasrah. Untung saja ide berangkat lebih awal agar bisa di bandara lebih lama dan menghadapi rewel ku sepertinya berhasil. 

"Jangan lama-lama yaa di Aussie. Selesai langsung cus balik. Besok beres juga langsung balik. Pokoknya pulang. Aku masak lauk kesukaan kamu deh, kamu boleh makan kacang seharian penuh. Aku masak apa aja request kamu deh." Kata ku mengancam, mengomel dan membujuk sudah menjadi satu agar dia tidak lama-lama meninggalkan aku. 

"Hahaha... bener yaa Sayang. Masak yaaa.. aku pulang, kamu masak." Dia tertawa mendengar ku. Senyumnya pasti akan ku rindukan. Biarin deh orang bilangnya aku lebay atau manja. Terserah. Intinya aku lagi amat sangat merindukan manusia ini dan tidak mau ditinggal olehnya. 

"Iya janji. Walaupun rasanya biasa-biasa aja. Tapi pulang yaaa. Cepet yaa.." bujuk ku lagi.

"Iya sayangggg..." dibawa aku ke dalam dekapannya, erat. 

Haaahhh... aku mau menangis, ku benamkan kepala ku di curuk lehernya. 

"Sayang jangan bikin aku berat tinggalin kamu dong." Dia mengurai pelukan kami dan sudah melihat aku dengan mata berkaca-kaca. 

"Heh, berani-beraninya pake kata tinggalin. Ralat ga, 'jangan bikin aku berat buat berangkat tugas.'" Kata ku dengan muka galak. 

Aku juga tidak tahu apa yang sedang salah dengan ku, yang ku yakini adalah aku sedang sangat ingin bersamanya. Titik. 

"Iya iyaaa... galak banget. Sayang udah yaa... nanti pas di ruang tunggu aku telfon. Sampai mendarat langsung aku video call juga. Udah yaa.. tuh bentar lagi aku boarding." Bujuk Saga, kali ini suaranya sudah setengah memohon. Saga tidak tahan melihat aku yang terus menerus merengek dan rewel. 

Ku kuatkan diriku, melepaskan pelukannnya, "Yaudah gih sana berangkat. Aku udah gapapa." 

"Ga gitu dong cantik, nanti aku temenin di jalan yaaa. Jangan ngambek dong." Saga hapal banget kalau aku sudah sok kuat tidak akan memohon lagi kepadanya. Ujung-ujungnya aku akan sebal sendiri dan ga menghubunginya. 

"Gimana caranya mau temenin kamu kan di pesawat. Huh..." Aku semakin bete, tapi aku ga mau ini berlarut-larut ku peluk kembali beruang ku, iya Saga kadang kayak beruang cokelat besar, hangat, galak. 

"Sayangku, Cintaku, Kekasih hatiku, hati-hati yaaa... nanti kamu pulang aku tetep manja. Kamu kerja yang bener, gausah aneh-aneh yang aku yakin kamu ga bakal aneh-aneh, aku percaya banget kamu. Aku sayang sekali kamu sampe kamu ga bisa liat deh pokoknya. Aku sayang kamu." aku berusaha menenangkannya dan membiarkannya pergi.

"Kamu tuh kalau lagi manis, manja banget aku jadi susah pergi kan." 

Aku tersenyum cekikan, "Maafin hormon PMS ku yaaa. Mau mens kali makanya mau deket-deket kamu aja mau dielus-elus punggungnya pas lagi keram." 

Ditoelnya hidungku, "Mensnya sekarang aja yaa Sayang. Nanti aku pulang udah bersih." 

Aku pelototi dia. Dasar.  

"Hahahaa... udah yaa tuh udah second call. Aku berangkat yaa Sayangku." 

Aku melepas kepergiannya yang padahal hanya beberapa hari dengan lebay dan hampir ada air mata yang menetes. Aku aja sih yang lagi lebay.

Memasuki parkiran mobil dan mulai menyetir membelah kemacetan kota ini sendirian membuat ku termenung. Saga sudah berpamitan tadi jadi yang menemaniku saat ini adalah celotehan Andre Taulani bersama pasukannya di Lapor Pak. 

Jika tidak ada Saga apa yang sedang ku lakukan yaa sekarang? Belum apa-apa aku sudah sangat merindukannya. Aku tidak mungkin membeli tiket untuk menyusulnya bisa-bisa aku kena amuk Bang Mahe. 

"Hahhh... kangen banget." 

... 

Beberapa hari ini Dee sangat sulit dihubungi, membuat Saga beberapa kali harus menelfon Ethan untuk mengetahui keberadaan istrinya itu. 

"Lakik lo telfon lagi tuh. Lagian kenapa ga diangkat sih?" Ethan memasuki ruangan Dee sambil mengomel. 

"Gatau hp gue dimana." Jawab Dee asal memunggungi Ethan sambil menatap hiruk pikuknya Jakarta bahkan berbalik menatap Ethan saja Dee tidak mau lebih memilih melihat jalan. 

"Lagi kenapa sih. Kalo kangen yaa susulin project di sini kan udah beres juga." 

"Hmm... gitu yaaa? kangen sih tapi gue tuh ngerasa ga dewasa aja kalau mau menghubungi dia. Apalagi dia tipe yang kalo udah kerja juga suka ga liat hpnya. Kadang malah gue telfon dia biarin aja ga angkat. Gue males aja, ganggu dan kesannya demanding. Jadi mending biarin dia kerja aja. Tapi gue jadi sebel gituloh kayak merasa sebenarnya gue berhak ga sih ngehubungi dia. Ga tau deh lagi kangen banget-banget tapi ga mau dibilang demanding." Dia berkata sambil menghela panjang. 

"Yaudah terserah lo aja, tapi itu hp dicari biar lakik lo tau lo dimana ga tiap kali harus telfon kantor nanyain lo ada diruangan udah makan atau belum, gue bukan aspri lo Dee Suraiya." 

"iyaaa udah gih sana keluar. Ini gue cari deh hpnya." Decak Dee sebal. 

Setelah terdengar suara pintu tertutup kembali Dee membalikan badannya dan terkejut ternyata Ethan datang tidak sendirian. 

"KOK PULANG GA BILANG-BILANG SIHHHHH." Dee langsung menghampiri sosok yang amat sanagt dia rindukan itu. 

"Makanya Sayang hp jangan beneran dibuang." Kata Saga mendekap Dee erat. 

"Cium semuka dulu sih Sayang." 

Saga tertawa lalu langsung melakukan apa yang diminta Dee. 

"Langsung pulang yuk, kamu pasti capek. Aku kan janjiin juga mau masak tuh. Yukk... yukk aku beres-beres bentar." 

Saga duduk melihat perempuannya merapihkan barang-barang dan tersenyum mendengar Dee bercerita tentang pekerjaannya kemarin. Lalu akhirnya dia menemukan hpnya. 

"tapi aku sebel sama kamu, pulang ga ngabarin aku." Protes Dee. 

"Mau ngabarin kamu super susah dihubungin apalagi kemarin. Terus tadi pagi aku udah siap-siap, mau ngabarin kamu chat aku yang semalem aja ga kamu bales. Aku tau kamu udah pulang selesai project dari status wanya Ethan. Aku udah hapal banget pasti kamu tidur ga ngabarin paginya aku udah berangkat pulang ke kamu." 

"Hehehee maaf yaa Mas Saga paling ganteng semuka bumi." 

"gitu aja baru bilangnya paling ganteng. Dasar. Sayang dengerin aku yaa, kalau mau ngehubungin aku yaa gapapa. Kan aku punyanya kamu. Kalau emang aku ga angakt ya berarti aku lagi sama klien atau lagi ada tamu. Tapi selama ga ada siapa-siapa atau lagi ga ada kerjaan yang penting aku tetap angkatkan." Saga memberikan pengertian kepada Dee.

"Aku paham banget, cuman kali ini tuh kayak ga wajar aja. Aku lagi kayak anak SD pacaran yang mau lait kamu 24 jam. Kamu harus sama aku terus." 

"Masih manjanya berarrti nih?" Saga tersenyum jahil. 

Dee sudah tahu arahnya dan hanya mengangguk, "Jadi mau pulang sekarang atau masih mau ngomal ngomel Pak Saga yang Super Duper Sibuk?" 

Saga tertawa, "Ayok pulang aku makan kamu dulu baru makan masakan kamu." 

"Astagfirullah Saga Bramantya, makan duluuu aku laperrrrrr..." 

"Cie salting nih... salting." Saga mendekati istrinya dan mengambil tas juga menggenggam tangannya. 

"Apasih Saga, diem."













Tak Apa, Kali ini Angin Bersama Mu

 
Awan sepertinya sedang sangat ramah pada perjalanan ini... Aku menatap hamparan laut luas dari sebuah deck kapal laut dengan secangkir kopi yang sengaja ku letakkan dekat jendela agar angin membantu ku untuk meredakan panas membuatnya kembali hangat. 

Laut tuh sepertinya memang diciptakan untuk berpikir. Melihat laut seolah berdialog dengan diri sendiri semakin sering, terus berulang-ulang. Sampai akhirnya aku berhenti di sebuah pertanyaan, bagaimana kalau aku berhenti?

Aku terdiam... Bagaimana yaa? apakah itu suatu hal yang seharusnya tidak aku pikirkan juga? Namun akhir-akhir ini melihat dunia sangat melelahkan dan semakin ingin untuk berhenti. Tentu tidak, tidak dengan memutuskan sendiri. Hanya ketakutan tidak berdasar karena jenuh dan akhirnya tiba-tiba berhenti disaat aku belum benar-benar siap. 

Aku saat ini ternyata takut tiba-tiba menemui akhir cerita hidup ku sendiri. Apa yang sebenarnya aku takutkan? Banyak. 

Takut belum cukup memiliki amal yang menutupi dosa-dosa ku. 
Takut tidak bisa sendirian pada petak yang hanya satu kali dua meter itu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat. Bagaimana jika lidah ku kelu? 

Ketakutan yang seharusnya tidak perlu. Karena, untuk apa? 

Sampai ketakutan-ketakutan itu berubah menjadi sebuah kesedihan tidak berdasar. Komedinya adalah kesedihan itu memunculkan aku sangat merindukan mu. Kehadiran mu, menutup kedua telinga ku, lalu memeluk ku dengan erat dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. 

Kali ini aku kembali belajar sendirian dan kembali pada-Nya. Ketakutan lain muncul. Bagaimana jika bukan kamu? Bagaimana jika aku berhenti mencintaimu? Bagaimana jika Tuhan berkhendak untuk membalikkan hati ku dan tidak lagi bersama kamu? Padahal sudah banyak sekali alasan yang bisa ku gunakan untuk berpaling. Ketidak pastian dan hilangnya saling. Aku takut. 

Tak apa, hanya sejenak. Ku harap hanya sejenak. Ku harap aku tetap di sini... hanya maju beberapa langkah karena menyayangi ku. Yaa karena aku menyayangi aku, aku maju beberapa langkah semoga kamu tidak terlewat ketika berjalan ke arah ku. 

Bagaimana ini? aku tidak tahu apa-apa. Aku kembali ketakutan kita tidak pernah berada di jalan yang sama. Padahal itu adalah risiko yang ku pilih. 

Ku sisip kopi yang seharusnya tidak ku minum. Kopi kedua ku hari ini. Biarlah, hanya hari ini. Hari ini saja. Dunia tidak henti-hentinya berdengung di kepala ku. 

Angin semakin kencang, bukan lagi elusan tangan pada pungung ku yang menenangkan. Kali ini seteguk kopi secara perlahan dan angin laut yang menyapa ku dan meyakinkan ku, jika kali ini juga akan terlewat. Aku terlewat rasa sakitnya hanya sejenak lalu kembali menjadi biasa... seperti biasa. 

Ujung Doa

 
Hari ini aku melihat kamu versi terbaru. Sangat baik, jauh lebih baik... Terlihat lebih gagah, kuat, hebat dan penuh wibawa. Memang susah mengetuk pintu yang sudah terkunci itu yaa? Andai dulu lebih kuat aku mengunci pintu ku, mungkin rasanya tidak sesakit, tidak menggerogoti ku sampai ubun-ubun. 

Jika begitu, apakah kamu menyesal dengan pertemuan kita? 

Tidak. Bodoh. Aku menyesal karena tidak pernah bisa kuat, selalu lebih sayang orang lain ketimbang diri ku sendiri. Sampai melengkah untuk pergi demi kebaikan ku sendiri saja aku takut, padahal aku sudah disakiti sebegitunya. 

Karena kamu tidak sanggup maka aku yang pergi. Karena kamu ga sayang diri kamu sendiri maka aku yang pergi. Aku yang tidak mau dipertahankan.

Iya. Maafkan aku yang masih terus bertahan dalam diam dan tulisan-tulisan ku. Maafkan aku yang selalu mengharap suatu hari mungkin bisa kembali lebih baik padahal mungkin setiap hari doa-doa itu semakin menghancurkan aku. Saking jahatnya aku sama diri aku sendiri, tulisan-tulisan jahat itu ku taruh ditempat yang bisa ku selalu liat agar ketika aku ingin memohon atau berharap aku bisa ditampar oleh kenyataan secara langsung kalau kamu tidak lagi bertahan. 

"Mau ga dikenalin gue ada temen nih?" Seorang teman berkata kepada ku yang ku jawab hanya dengan senyuman dan agar lebih sepon aku menggeleng pelan. 

"Terakhir, ada orang yang menyembuhkan luka masalalu. Luka yang dibuat lebih parah dari pada luka sebelumnya." 

Iyakan? Kamu datang menyembuhkan aku. Lalu aku sembuh, tapi kamu terluka oleh luka-luka ku. Mungkin memang sejak awal kita tidak mudah yang selalu dipaksakan. Dan aku terlalu naif dengan memohon pada Tuhan kamu menjadi terakhir sampai sekarang pun masih begitu. Sampai detik ini masih begitu. 

Biarlah terlihat sangat berharap, memohon, tidak lagi memiliki harga diri. Apa yang bisa dipertahankan lagi toh kamu tidak mau mempertahankan? Mungkin memang terakhir. 

Bahkan hal yang lebih lucu adalah ketika aku memimpikan suatu kejadian yang adqa kamu didalamnya aku hanya bisa memandang kamu dari jauh. Aku tidak berlalu memelukmu padahal aku tau kalau ini adalah sebuah mimpi. Hahahaha. Lucu bahkan di dunia yang tidak ada satu pun orang yang lihat aku hanya diam. 

"Aduh makin susah deh lo nemuin orang. Terus sampai kapan mau begini?" 

Aku terdiam memandang hamparan laut yang luas... 

"Sampai kapan ya? Capek juga. Tapi ga secapek itu kok. Cuman yaa, kayak berjalan ditempat yang ga pernah maju kadang terjatuh terduduk." 

Melihat laut selalu mengingatkan aku atas perjalanan hidup, cerita-cerita yang aku tulis selalu ada laut di dalamnya. Laut, semalam sebelum tidur aku membayangkan menjatuhkan diri di laut dan tidak berusaha untuk kembali terus terjatuh ke kedalaman laut. Seoalah laut enggan mengembalikan aku pada daratan. 

"Keliatan hahahihi di luar ternyata dalamnya abis juga." 

"Semua orang seperti itu." 

"Gue engga."

"Lo bukan orang. Hanya suara berisik yang terus menerus melawan." 

Nanti kamu semakin hancur. 

Terima kasih, karena berusaha untuk tidak membuat aku lebih hancur. Aku tersenyum getir. Orang-orang di sini seolah paling paham atas aku, kehidupan ku, pilihan ku. Ku jawab dengan senyuman saja. Tau apa mereka soal kepala berisik ini, soal kehancuran ku. soal aku. Benarkan? aku sendiri bisa lebih jahat menghancurkan aku. Karena aku sendiri berusaha menyayangi aku saja lebih memilih untuk menyakiti aku berulang kali. Kalau aku sayang diri aku sendiri, tulisan ini tidak ada. 

Sebentar lagi satu tahun, aku bahkan membenci bertemu dengan bulan kelahiran ku. Aku semakin membeci bulan itu. Benci sekali.

Seseorang mendekat, menggenggam tangan ku, "Sudah menulisnya, tulisannya sudah jelek tuh. Sudah terlalu lama menulisnya." 

Aku menatapnya sendu. Dia tersenyum membantu ku berdiri membersihkan celana jeans yang sedang ku gunakan dari pasir-pasir pantai. Lalu perlahan dia mengambil tas ku dan memasukan pensil atau pulpen yang ku gunakan... ntah. 

"Mana bukunya? Kita robek yaa tulisannya." Aku menatapnya... robek? Tak ku serahkan buku berisi tuisan-tulisan itu.

"Tulisan yang jelek itu aja kok. Aku janji hanya tulisan yang jelek itu." 

Aku masih bergeming. Tidak mau. Baik buruknya harus tetap tertulis bukan? 

"Hanya yang terakhir. Aku minta boleh ya?" 

Aku menggeleng. 

"Kita robek buat kita ikhlaskan. Lembarnya kita kembalikan kepada yang memiliki Kehidupan." 

Aku masih tidak mau. 

Ada titik-titik di ujung doa-doa
Keselamatan penutup malam
Kuisi dengan namamu
Kucoba memaafkanmu selalu
Kalau disitu ada salahku
Maafkanku juga - Ada titik-titik di ujung doa by Sal Priadi

A Cup of Coffee



Hamparan laut biru yang luas dengan kapal-kapal kecil dan angin yang perlahan berhembus seperti mengelus kedua pipi Dee yang sekarang mungkin sudah cukup memerah, karena beradu dengan terik matahari. 

"Kenapa ga di bawah tenda sih Sayang?" Kedatangan Saga mengusik ketenagan Dee. 

"Lagi pengen dipinggir pantai gini..."

Dee saat ini sedang berlibur dengan Saga, dia menggunakan gaun pantai dengan bunga-bunga putih dipadukan dengan cardigan cream tipis agar kulitnya tidak langsung bertemu dengan angin pantai. Sementara Saga dengan baju kaos putih dan celana cream senada. Keduanya sengaja berpakaian senada. 

"Hmm.. kalo lagi begini biasanya lagi ada yang dipikirin. Mau dibagi?" Tanya Saga ikut duduk di samping perempuannya sambil menlingkarkan tangan dipinggang sang kekasih. 

Tawaran itu disambut dengan gelengan kepala. Sebaliknya Dee menjadikan bahu Saga sebagai tempat bersandar. 

"Begini aja. Aku udah bahagia banget, ngerasa pulang." 

Saga tersenyum mendengar jawaban si iblis kecil. Perlahan dilihat Dee sudah menutup kedua matanya hanya merasakan angin. 

Saga ikut bersandar pada kepala Dee. Benar, seperti rumah. Rumah baru yang secara perlahan mereka mulai bangun pelan-pelan dengan semua cobaan yang mereka cicipi, akhirnya benar-benar terasa seperti pulang. 

"Sayang, inget ga yang aku cemburu terus aku kabur ke Bali?" Saga membuka matanya mendengar pernyataan Dee yang tiba-tiba mengingatkan Saga kejadian yang saat itu membuat dia pontang-panting menyusul si iblis kecil ini ke Bali. 

"Ga boleh diulangi loh yaa Sayang." Saga menyentuh ujung hidung Dee, gemas. 

Dee tersenyum tanpa membuka matanya, "Ga ada yang berniat mengulangi yaa Sayang. Aku cuman mikir... kita udah sejauh itu yaaa. Pisah lalu balik lagi sama-sama. Sampai sekarang... Terima kasih ya." 

Saga duduk tegak membuat Dee membuka matanya. Mau tidak mau Dee duduk menatap kekasihnya dengan tatapan bertanya. 

"Jujur deh, kamu lagi kenapa? Jadwal mens kamu juga kayaknya masih lama. Harusnya kamu lagi ga PMS loh. Kenapa sih Sayang?" Nada Saga mulai khawatir, takut Dee dengan segala pikirannya yang berlebihan. 

"Tidak ada apa-apa Mas Saga yang gantengnya ngalahin idol K-pop ku." Kata Dee dengan mantap dan tatapan meyakinkan sambil tangannya mulai merapihkan rambut Saga yang tertiup angin. Ditatapnya Saga dengan penuh kasih. 

Lalu diambil kedua tangan Saga digenggamnya, "Saga Bramantya, terima kasih yaa sudah hadir di kehidupan anak iblis ini. Padahal kan aku ga ada iblis-iblisnya yaa Sayang... eh lanjut dulu. Aku, Dee Suraiya merasa penuh syukur kepada Tuhan karena kamu datang bukan hanya sebagai pelengkap hidupku. Kamu datang sebagai penyelamat disaat aku susah payah bertahan, kamu ngasi aku harapan lagi buat hidup. Kamu buat aku yakin kalau aku berharga dan aku bisa berharap sama diriku sendiri. Terima kasih yaa Mas Saga sudah mau membangun rumah yang nyaman dan tenang sama-sama. Banyak sekali terima kasih aku karena kamu sudah mau memilih aku untuk bertahan dan kembali sama-sama untuk melewati ini semua. Kamu tuh kayak mukjizat yang Tuhan berikan ke aku. Hm... boleh ga yaa bilang begitu? Hehehe. Pokoknya terima kasih atas tangisan dan banyak sekali senyum dan tawanya. Kalau ada kata yang lebih menggambarkan aku sayang kamu dan aku cinta kamu itu yang aku rasain ke kamu. Terima kasih yaa Saga Bramantya. Terima kasih sudah hidup dengan baik dan mau bersama Dee Suraiya." 

Dee tersenyum dengan tulus. Saga melepaskan genggaman tangan mereka dipeluk erat kekasih hatinya. Dibenamkan mukanya pada ceruk leher perempun kesayangannya. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Terasa elusan tangan Dee pada punggungnya membuat dia semakin sayang kepada perempuan yang sedang dipeluknya. 

"Gak mellow loh yaa Saga Bramantya. Aku cuman mau ngomong itu. Rasa penuh syukur ku."

"Dee Suraiya ga boleh curang yaaa." 

Dee tersenyum dia sangat merasa aman ketika Saga memeluknya erat seperti ini. Benar-benar seperti rumah. 

"Jadi aku boleh minta dibeliin Tuku ga Sayang?" 

Langsung dilepas pelukan itu oleh Saga dengan muka mengkerutnya, "Gak yaa Sayang. Kan kata dokter udah ga bisa ngopi dulu. Sayang ah, baru aja aku terharu sama makasih-makasih kamu." 

Dan dimulai lah omelan Saga Bramantya... Tapi kalau Dee ga minta kopi kayaknya mereka sekarang masih pelukan. Dee menanggapi omelan Saga cekikikan, usil. 

"Satu teguk aja deh kamu sisanya. Ngidam banget nih..." Nego Dee. 

"Ngidam, ngidam... Oh aku hamilin beneran yaa kamu..." Ancam Saga. 

"Hamilin aja, udah sah kok." Tantang Dee membuat Saga tersenyum menghentikan omelannya. 

"Bener seteguk aja? abis itu aku hamilin ya?" Tawar Saga. 

Dee tertawa mendengar tawaran lelakinya itu. "yaa kalo sampe hamil mah ga seteguk dong Sayang. Se-cup. SATU GELAS." 

Dia mulai berdiri dan membersihkan gaunnya yang masih ada sisa-sisa pasir. Saga juga ikut bangun ikut membersihkan rok Dee dari pasir-pasir pantai yang masih menempel. 

"Yaudah satu gelas, abis itu hamil yaa?" 

Dee tertawa lalu menggenggam tangan Saga. Sambil berjalan mereka merencanakan kehamilan Dee menjauhi laut dengan penuh senyuman dan tawa. 

We got that magic, baby
Sparks fly crazy every time we touch
Feels so surreal, it's otherworldly, extraordinary
Some may call it love
But you feel like magic to me 
- Magic by John Michael Howell

I'll always be yours

 
"Kamu tau ga... hari ini aku lelah sekali. Aku mau kamu tau kalau aku mengadu cuman sama kamu dan Tuhan. Aku lelah deh. Manusia kantor lagi lucu-lucu tingkahnya. Kamu gimana?" 

Separuh badan ku bersandar pada tubuhnya sementara dia bersandar pada tumpukan bantal yang ada di kamar kecil ini sambil ku peluk tangan yang memeluk ku separuh, seperti ku jadikan bantal sekaligus guling kepala ku. Aku sangat menyukai sesi bercerita kami. Seperti saat ini dimana aku mencurahkan kalau dunia sedang tidak berada di pihak ku. 

Hening, hanya elusan tangan yang ku rasakan di kepala ku dan beberapa kecupan ringan yang menguatkan ku. 

"Entah kenapa, semakin lama aku merasa semakin lemah dan semakin cepat ingin menyerah. Tolong jadi lebih baik. Jangan sama-sama menghancurkan diri." Aku mulai menggenggam tanganmu. 

Aku seperti bermonolog. Kamu hanya mampu diam mendengar celotehan ku yang ke sana kemari tidak tahu ujung dan tujuannya. Entah mungkin aku tidak mengetahui apa yan kamu rencanakan, atau bahkan kita berjalan sama-sama tanpa rencana. 

Semakin aku tahu, semakin aku tersiksa. Semakin berisiknya isi kepala ku. Semakin aku tak tahan. Semakin aku ingin menyerah. 

"Tolong aku boleh? sama seperti pertama kali kamu menyelamatkan aku dari orang lain, tolong selamatkan aku lagi dari diri kamu. Tolong." 

Semakin ku memohon maka semakin memudar rasa hangat itu. Perlahan aku tidak lagi merasakan dekapan hangat. Semua hanya ilusi ku.... 

Aku tidak pernah bersandar padamu. Kamu tidak pernah ada... kamu hanya ada dalam ilusi yang ku ciptakan untuk ku bisa bertahan. Begitu aku merindukan mu. Begitu aku sangat menyayangi mu. Begitu pula aku memohon kamu untuk tetap tinggal. Maka semakin jauh kamu pergi. 

Ajarkan aku untuk tidak lagi menjadi punya mu? Ajarkan aku melepaskan kamu? sama saja seperti mengajarkan aku untuk berhenti hidup. 

Tolong hidup... tolong jadi lebih baik, seperti kamu pertama kali menemukan ku. Tolong... 
Tolong sama-sama bertahan. Tolong... sayangi aku kembali. 

Sang Maha Penulis Cerita Hidup

 


"Lucu yaa Ga, Bagaimana Sang Maha Penulis Cerita Hidup menuliskan cerita hidup KITA." 

Lelaki itu menatap aku dengan sendu. Penuh kesedihan dan perasaan bersalah. Bagaimana aku melewati kehidupan ku setelah ditinggalkannya, hal yang tidak pernah mudah. 

Hancur, semakin hancur. Kalimat lucu yang akhir-akhir ini sering aku dengar. Yaaa... memang kenyataannya aku semakin hancur dan memungut kepingan-kepingan ku, lalu kembali hancur dengan kepingan yang sudah berada di tangan ku. 

Hari itu, aku kembali menatap panggilan video dari kamu setelah lama kita tidak melakukannya. Kamu... seperti manusia yang kembali aku kenal. Lega menghampiri ku. Ah... dia bisa kuat, dia bisa kembali. 

Lalu, sekejap aku hancurkan kembali senyum itu. Kata mu, "Aku ga mau buat kamu semakin hancur." 

Aku menjawabnya, "Siapa yang menyerah?" dan kamu menunjuk diri mu sendiri. Kamu yang menyerah, tapi kita membicarakan itu dengan tenang, tidak lagi ada air mata, ataupun teriakan protes, hanya decakan protes kamu yang menyebalkan. 

"Apa yang menjadi milik mu pasti akan menjadi milikmu." Kata mu dengan senyum yang sudah tidak bisa aku artikan. 

Benar. Aku semakin hancur. Tapi kali ini ku pungut kepingan hidup itu lebih berani, dengan cepat kembali. Mungkin yang kamu takutkan melihat aku hancur. Tapi yang terlihat oleh ku adalah ketika kamu melihat aku hancur kamu semakin hancur. Kamu... menghindari perasaan hancur pada diri mu sendiri. 

"Tolong baik-baik saja" 

tolong baik-baik saja aku. 

"Happy happy yaa..." 

tolong bahagia juga aku.

"Gapapa semuanya akan terlewati" 

tolong bertahan aku.

Apa yang aku doakan untuk mu, selalu membuat perasaan ku menjadi lebih baik. Karena mendoakan mu bagian dari rutinitas mengembalikan kepingan ku yang hancur. Melihat mu tersenyum, dilukai oleh kamu berkali-kali dengan pesan yang hanya kamu baca saja, helaan nafas panjang ku... selalu membawa ku kembali kepada kamu. 

Sampai rasanya tadi pagi aku merasa sangat lelah. Lelah sekali, dengan rasa perih yang menggerogoti perut ku semakin sering menjalar ke dada kiri ku. Rasanya aku ingin pulang ke rumah dalam pelukan mama. 

Lalu aku seperti ditampar oleh suara bisikan dalam kepala ku, "Lelah itu artinya sebentar lagi sampai." 

Dan yaa... satu lagi, ketika kamu mengatakan "Apa yang menjadi milik mu, pasti akan menjadi milik mu." 
secara tidak sadar aku menjawab "How?" "Bagaimana caranya?" "Bagaimana?" itulah kebodohan ku. Hal yang seharusnya tidak ku pikirkan. Karena kamu dihadirkan oleh Tuhan juga dengan cara yang ku tidak sangka-sangka di luar dari "how" yang ku rencanakan dalam hidup. 

Aku menangis, kali ini aku menangis hancur kembali tapi tidak ku pungut potongan-potongan diriku. 

Kenapa yaa Ga, aku memikirkan yang bahkan bukan bagian dari diri ku untuk memikirkannya. Seketika aku seperti ditampar dalam pikiranku, biarkan AKU yang bekerja. Itu adalah bagian-Ku. 

Saat itu aku tau aku melewati batas. Batas kemampuan ku. 

Maka, Gama... aku tidak hancur. Kamu, kita membentuk aku yang baru. Aku yang mungkin tidak sok tau lagi soal kita dan hidup ku. Aku yang akan mulai mengusahakan apapun dengan diri ku sendiri dan doa ku. Aku ingin pulang dengan tenang dalam dekapan mama. 

Terima kasih... yaaa, nanti kalau memang kamu adalah miliku, maka aku ingin pulang dalam dekapan mu. Dekapan hangat mu sambil kamu lantunkan kalimat yang membimbing tiap-tiap orang kembali kepada-Nya. 

Tuhan, tolong yaa jangan biarkan aku mengakhir hidup ku sendiri. Biarkan aku mengikuti jalan cerita-Mu. Permudahlah Tuhan. Mudahkan aku mengikhlaskan-nya. 

Tuhan, Tolong Aku Mau Hidup

 
“Kamu tau ga kalau orang yang berbicara tentang kematian itu adalah orang yang justru merasa ingin merasa hidup?” aku berkata kepada lelaki di sampingku. 

Saat ini kami sedang menyaksikan indahnya laut dengan banyak burung putih berterbangan. Panas sama sekali tidak mengganggu percakapan kami.

“Apasih… ngomong mati mati lagi, aku ga suka ah.” laki-laki itu mulai bersiap berdiri ingin meninggalkan aku, 

Namun aku tetap berdiam diri tidak bergerak seinchi-pun sambil tersenyum menikmati suara deburan ombak dan membiarkan panas menyakiti kulit ku secara perlahan. 

“Beneran. Dari buku psikiater yang aku baca terakhir adaloh orang yang justru pada saat dia membicarakan kematian itu, dia terlihat paling hidup. aneh kan?” 

“Udah ahh ayok bangun, pulang aja. Ga ada mati-matian” 

Dia memberikan tangannya agar aku berdiri mengikuti jejak langkahnya. Namun aku terdiam. 

“Terus aku sadar kalau aku naik pesawat. Aku ketakutan sekali padahal aku lelah menjalani hidup, tapi di saat itu aku selalu ingin hidup.” Aku menatap laki-laki itu kali ini senyum dengan genangan air mata di mata yang belum menetes. 

Aku berusaha setengah mati agar jika ada tetesan air mata pun tetap ada senyuman di wajahku. Aku berkata lagi,

“Aku mau hidup. Mau hidup yang lama… aku mau hidup. Aku mau hidup. Aku mau sembuh.” 

“Kamu sembuh, kamu ga sakit.” laki-laki itu langsung memelukku. Pelukan hangat yang sudah lama tidak pernah ku rasakan. Pelukan menenangkan kalau semuanya akan baik-baik aja. Padahal aku tahu kalau semuanya juga tidak pernah mudah untuknya. Tapi kali ini aku tumpahkan semua ketakutan ku padanya. Ku peluk erat pelukan yang sudah sangat lama tidak pernah ku rasakan kembali itu. Aku takut, aku hilang... 

Nope… lately, aku ketakutan. Looks like it’s not getting better at all. Badan aku kayak ngomong bentar lagi, bentar lagi. Ada sakit yang ga bisa aku jelasin. Aku takut. Malem tadi aku tidur sampe rasanya dada kiri aku sakit. Aku takut ga bisa bangun paginya. Aku takut, aku mau sembuh, aku mau hidup… tapi lelah.” 

Dia mengurai pelukan kami dan menatap ku sendu, “Tenanglah tenanglah… bahagialah bahagialah bahagialah.” 

“Aku mau sembuh… atas luka-luka yang hanya bisa Tuhan sembuhkan, tolong aku mau sembuh.” Kata ku memohon menggenggam erat pada ujung bajunya tidak mau melepaskannya sebentar saja. 

“Iyaa sembuh… kita usahakan sembuh itu yaaa…”

Perempuan itu terbangun dalam mimpinya, namun terasa pelukan hangat itu menyertainya selalu.

Tuhan, banyak berikan aku kekuatan untuk menahan rasa sakit yang sama sekali tidak bisa aku ucapkan. Bimbing dan temani aku Tuhan, aku coba berhenti untuk berharap pada makhluk. Tolong, kali ini... menangkan aku dalam pertempuran ku sendiri. Tolong...