I'll always be yours
"Kamu tau ga... hari ini aku lelah sekali. Aku mau kamu tau kalau aku mengadu cuman sama kamu dan Tuhan. Aku lelah deh. Manusia kantor lagi lucu-lucu tingkahnya. Kamu gimana?"
Separuh badan ku bersandar pada tubuhnya sementara dia bersandar pada tumpukan bantal yang ada di kamar kecil ini sambil ku peluk tangan yang memeluk ku separuh, seperti ku jadikan bantal sekaligus guling kepala ku. Aku sangat menyukai sesi bercerita kami. Seperti saat ini dimana aku mencurahkan kalau dunia sedang tidak berada di pihak ku.
Hening, hanya elusan tangan yang ku rasakan di kepala ku dan beberapa kecupan ringan yang menguatkan ku.
"Entah kenapa, semakin lama aku merasa semakin lemah dan semakin cepat ingin menyerah. Tolong jadi lebih baik. Jangan sama-sama menghancurkan diri." Aku mulai menggenggam tanganmu.
Aku seperti bermonolog. Kamu hanya mampu diam mendengar celotehan ku yang ke sana kemari tidak tahu ujung dan tujuannya. Entah mungkin aku tidak mengetahui apa yan kamu rencanakan, atau bahkan kita berjalan sama-sama tanpa rencana.
Semakin aku tahu, semakin aku tersiksa. Semakin berisiknya isi kepala ku. Semakin aku tak tahan. Semakin aku ingin menyerah.
"Tolong aku boleh? sama seperti pertama kali kamu menyelamatkan aku dari orang lain, tolong selamatkan aku lagi dari diri kamu. Tolong."
Semakin ku memohon maka semakin memudar rasa hangat itu. Perlahan aku tidak lagi merasakan dekapan hangat. Semua hanya ilusi ku....
Aku tidak pernah bersandar padamu. Kamu tidak pernah ada... kamu hanya ada dalam ilusi yang ku ciptakan untuk ku bisa bertahan. Begitu aku merindukan mu. Begitu aku sangat menyayangi mu. Begitu pula aku memohon kamu untuk tetap tinggal. Maka semakin jauh kamu pergi.
Ajarkan aku untuk tidak lagi menjadi punya mu? Ajarkan aku melepaskan kamu? sama saja seperti mengajarkan aku untuk berhenti hidup.
Tolong hidup... tolong jadi lebih baik, seperti kamu pertama kali menemukan ku. Tolong...
Tolong sama-sama bertahan. Tolong... sayangi aku kembali.

0 comments: