Kalau Diberikan Kesempatan Lagi...

13:42 LuqyLugy 0 Comments

 
Mungkin dia tidak akan percaya dengan apa yang ku tulis. Akhir-akhir ini tulisanku selalu membuat dia marah dan mungkin tidak mau menemui ku lagi, atau yang terparah dia bersyukur karena tidak perlu lagi bertanggungjawab atas perasaan ku. 

Jauh-jauh di dalam hatiku aku merasa bersyukur dia tidak benar-benar ada di titik aku tidak bisa mengutarakan perasaan ku dan semua hal yang terjadi membuat aku semakin kuat. Dia tidak perlu merasa bersalah karena tidak bisa berada di sisi ku disaat aku sedang parah-parahnya. Di titik aku sangat amat membutuhkannya. Dia tidak perlu merasakan perasaan bersalah, aku bersyukur. Aku bukan lagi tanggung jawabnya, aku bersyukur. 

Aku bertanggungjawab sendiri atas cinta ini. Kalau boleh biarkan aku mencintai kamu yaa dengan Tuhan sebagai saksi dan tulusnya aku meminta pada Tuhan. Laut menjadi salah satu tempat favorit ku, juga menjadi saksi dimana aku sangat-sangat menyayangi mu. 

"Kalau diberikan kesempatan lagi, aku juga mau bertemu dengan kamu dari awal. Dari kita berkenalan dan aku sama sekali tidak tahu soal masa lalu mu. Aku tidak perlu merasa bertanggungjawab atas luka yang tidak pernah ku buat." Kata lelaki yang amat ku sangat sayangi dengan sorot kecewa yang sangat besar. 

Aku mengerti perasaannya. Memulai sesuatu dengan kebohongan dan luka yang belum usai di diriku sendiri sehingga membuat dia merasa bertanggung jawab untuk menyembuhkannya membuat ku semakin terluka. Aku benar-benar menyayanginya melebihi luka yang ada, maka aku mau sembuh. Terlebih Tuhan sangat amat baik memberikan sosok manusia yang menggenggam tangan ku menyembuhkan luka itu. 

Ku balas dia dengan tatapan sama terlukanya dan sedikit senyuman, "Berhenti ya. Berhenti merasa kalau luka-luka ku adalah tanggungjawab kamu untuk menyembuhkannya. Karena ada atau tidak ada kamu aku seharusnya bisa sembuh sendiri. Kamu bukanlah obat yang kugunakan atau kumanfaatkan. Bukan. Kamu yaa kamu. Sosok keras kepala yang tetap memaksa untuk berada di samping ku sampai akhirnya kamu merasa kalau ternyata berada di sampingku menyakitkan. Maaf yaaa." 

Aku menghela nafasku sejenak.

"Kalau diberikan kesempatan lagi, aku juga mau berkenalan lagi dengan kamu. Memperkenalkan nama ku dengan lugas serta senyuman yang membuat kamu jatuh hati kepadaku. Aku akan ceritakan banyak cerita-cerita baik. Sampai akhirnya kamu merasakan tempat pulang. Akan ku buat tempat yang jauh lebih aman dan nyaman dari sekarang sampai jika ditanya orang kamu mau kemana kamu akan selalu bilang mau pulang ke rumah, aku. Banyak akan yang ku lakukan jika diberikan kesempatan kembali." 

Dia menatap laut itu. Pantulan warna biru menenangkan sekaligus menyeramkan, karena tidak pernah ada yang tahu sedalam apa biru tua itu. Tidak pernah ada yang tahu dan berhasil menembus ujungnya inti bumi. Atau jangan-jangan tidak berujung? 

"Iya, berada di sampingmu sangat menyakitkan. Dipenuhi rasa bersalah. Tidak lagi nyaman, tidak lagi aman. Berada di samping mu tidak lagi terasa rumah." 

Mendengarnya, membuat nafas ku tercekat. Ku usahakan dengan sangat agar tidak lagi ada airmata yang jatuh di hadapannya. Ku genggam perlahan tangan yang biasa menguatkan aku ditiap langkah ku. 

"Aku minta maaf atas semua persaan yang tumbuh berada di sampingku. Tidak nyaman dan aman itu. Ku paksakan semakin sakit rasanya kan? Maka ku lepaskan. Walaupun aku lebih merasa kuat dan baik ketika kamu berada di sampingku. Ku lepaskan. Kamu pernah bilang ketika aku mulai merasakan sakit yang mungkin sama persis dengan apa yang kamu rasakan sekarang, 'buat apa bersama-sama jika terasa menyakitkan'. Aku lepaskan. Nanti ketika diberikan kesempatan lagi, semoga kamu bisa memilih untuk menjadikan aku tempat istirahat dan rumah kamu yaa... ku doakan selalu, sama seperti hari ulang tahun mu pertama kita bersama-sama ku doakan selalu banyak semoga terutama sehat dan bahagia mu." 

Aku tidak pernah menaruh narasi dalam cerita ku, cerita kita versi ku kalau kamu adalah orang jahat. Kamu yang aku salahkan, iya. Awalanya... sampai akhirnya dalam versi melepasmu dengan baik, kamu bukan orang jahat-ku. Jika aku menaruh kamu sebagai pemain antagonis dalam hidupku, bagaimana bisa pemeran antagonis memberikan banyak bahagia dan melengkapi luka ku? Ya... kamu yang melengkapi luka ku. Aku tidak dan tidak akan pernah melabelkan kamu sebagai orang jahat dalam hidupku. Kamu adalah orang yang ku cintai dan tempat ku belajar saling dalam hidup. Tokoh antagonis dalam hidup ku, yaa aku sendiri yang membiarkan diri ku sakit, tetapi bukan kamu penyebabnya. Jadi jangan biarkan narasi aku di cerita mu kalau kamu adalah yang membuat aku sakit, jangan yaaa. Tak apa... bersama kamu adalah pilihan ku. Kamu adalah pilihanku. Pilihan mu adalah tidak mau dipertahankan, itu yang harus ku hormati. Maka, ku mencoba melepasmu... walau dalam proses melepaskan itu aku terluka-terluka karena aku menggenggam kamu terlalu kuat. 

Semoga dengan melepasmu, melepas rasa sakit ku juga... 
Semoga dengan melepasmu, membuat mu menjadi lebih baik... 
Semoga dengan melepasmu, aku menjadi jauh jauh lebih kuat... 
Semoga dengan melepasmu, membuat mu jauh lebih tenang... 
Semoga dengan melepasmu, aku bisa mengerti bahwa tidak semua yang ku perjuangkan menuju padaku...
Semoga... 
Semoga... 
Semoga diberikan kesempatan lagi. 

0 comments: