J
Suatu hari aku berkata pada diriku sendiri. Apakah telah usai?
Apakah ini akhirnya?
Aku pikir jika nanti akan berlanjut juga akan disertai pikiran, ah usai?
Ketika ini semua hanya sebatas mimpi dan angan ku
itu indah, dan beberapa kali diwujudkannya.
Berhenti? teripikir oleh ku.
Amat sangat terpikir. Berulang-ulang.
Aku bukan siapa-siapa. Aku pergi tidak akan berpengaruh apa-apa dalam sebuah kehidupan.
Terulang bagai mantra.
“Kamu tidak dibutuhkan”
“Kamu bukan siapa-siapa”
Orang-orang berfikiran “Kok bisa dia bertahan sama aku?”
Maka aku sekarang berpikir, “Mengapa aku bisa bertahan sama diriku sendiri?”
“Haruskah aku mulai menyerah dan berlaku jahat? menyusun skenario yang tidak menyakiti siapa-siapa ketika ku pergi?”
Sakit semakin sakit.
Tak bisa, jika hanya dilihat dengan kata-kata.
Tidak. aku bisa memanipulasi semuanya. Apalagi dia.
Hal sekecil ini bagi dia bukan apa-apa. bersikap jahat dan mengabaikan segalanya adalah keahliannya.
Aku menyalahkannya? tidak. Dia membuatku kuat disaat aku merasa menjadi orang terlemah.
Bahkan dia tidak akan mengasihi dirinya sendiri yang berjuang tertatih.
Aku dan dia dua orang berbeda. Dan tak tertebak kapan bertukar.

0 comments: