Surat untuk Altair
Haii... aku manggil kamu apa ya? Alt? Tair? Air? Ir? Al? asal jangan mmm.. oke itu gak enak buat ditulis sih. Hehehe.. bercanda. Oke? Gak usah marah gitu dong.Apa kabar? Aku selalu ingin menanyakan kabar mu.. tapi tak pernah berani untuk bertanya langsung.
Jangan bilang aku pengecut, siapa suruh kamu yang terlalu sibuk dengan kerjaan kamu disana. Sekali-kali dong makanya hubungi aku!
Aku tau kamu sedang asik kan sekarang dengan teman-teman baru mu, walau kamu tidak pernah mengupdate status di media sosial mu tapi aku tau. Tau darimana? Tau aja :p
Al.. boleh aku bercerita? Apa pendapat mu mengenai pertemuan dan perpisahan? Aku tau kalau kita pernah mengalaminya. Hanya saja kali ini rasanya berbeda Al.. Aku seperti terikat selamanya oleh pertemuan itu. Pertemuan yang aku takut ku sendiri tak pernah sanggup untuk mengakhirinya. Apa seharusnya aku tidak pernah memulai pertemuan itu? atau sebaliknya pertemuan itu memang seharusnya tak pernah diakhiri?
Mereka bilang, tidak ini tidak boleh ada akhirnya. Entah kenapa aku takut. Aku amat sangat takut membuat mereka kecewa dan ditinggalkan mereka. Atau mereka yang membuat ku kecewa? Apakah perasaan semacam ini wajar? Kadang aku berpikir aku tak pernah benar-benar bisa menjadi tempat bersandar mereka? Tapi aku selalu merasa kuat bersama mereka. Apakah boleh?
Apa aku bodoh ya Al? Emang dari dulu jangan-jangan? Al... Jika kamu mebacanya apakah aku bisa menjadi lemah sejenak? Tapi aku terlalu takut ketika aku melemah aku tidak cukup kuat untuk kembali. Terperangkap dengan pikiran-pikiran yang selalu melemahkan ku.
Hahh.. menakutkan, aku bahkan tidak bisa membayangkan bertemu dengan perpisahan lagi. Sudah cukup rasanya ditinggalkan. Sebuah komitmen. Hahh.. terlalu menakutkan bagi seorang aku untuk menjalaninya. Hei, Al.. kamu harus memberitahu aku bagaimana bisa percaya akan sebuah hubungan.
I miss you Al.. bercerita dengan mu dengan secangkir kopi dan tawa sambil melihat padatnya kota, membicarakan segala hal yang membuat kita akhirnya mengenal satu sama lain, bertukar pikiran dengan mu, membuat aku amat sangat merindukan mu disini. Kapan bisa bertemu? Ahh.. pulanglah. Jangan terlalu serius belajar. Aku merindukan mu.
with Love,
Yang katanya sahabat.

0 comments: