Aku? Mereka?
Selama ini selalu meyakinkan diri sendiri "aku untuk diriku sendiri, bukan tergantung orang lain" tapi perlahan rasa empati ku akan seseorang mati juga.
Pada awalnya terasa ah menjadi lebih baik, tapi mengapa lama kelamaan hal ini semakin terasa sendiri. Dan menjadi sendiri rasanya campur aduk. Udah kayak es campur yang banyak macam aja.
Lelah dengan diri sendiri yang tiada habisnya. Akhir-akhir ini mempertanyakan "Untuk apa hidup?" aku benar-benar tidak memiliki impian dalam sebuah kehidupan. Bagi ku bermimpi memliki keluarga yang sempurna dengan seseorang yang mencintai ku sepanjang hidupnya terlalu menakutkan. Aku hampir tidak percaya bahwa ada seseorang yang mampu untuk menyayangi ku setulus itu dan mau berjuang atas aku.
Bukan hanya itu aku berjuang atas dia juga selalu menghantui "Apakah bisa?" Semenjak kejadian itu, aku mulai berfikir "Jika berjuang atas dia, dan aku benar-benar bersungguh untuk dia, apakah dia tidak akan risih? apakah dia mau untuk diperjuangkan?" Suatu hal yang sangat beresiko dan hampir tak mampu untuk ku tanggung resikonya. Berujung semua orang hanya mampu melihat permukaan akan aku.
Bahkan menerjemahkan perasaan orang lain sudah terasa sulit sejak dulu, sekarang terasa semakin sulit. "Bukan tanggung jawab kamu perasaan orang lain" Tapi entah kenapa aku harus mengerti akan perasaan mereka sebagai bentuk berkomunikasi dan aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Ah bahkan terasa semakin sulit untuk membedakan yang mana realitas dan mana yang hanya akan menjadi angan.

0 comments: