Cerita Pojok Burger King
Hujan rintik membasahi bumi membuat hari itu terasa lembab dan siapa saja yang kerja dan memutuskan untuk beraktifitas akan malas untuk keluar rumah karena cuacanya, mereka mungkin hanya akan memilih bergelung di dalam kasur dan kabur dalam dunia nyata yang seolah tidak ada hentinya dengan masalah-masalah yang ada. Ada beberapa orang yang memaksakan diri demi sesuap nasi untuk keluar atau bahkan dengan keluar di cuaca seperti ini membuatnya tenang.
Sejak tadi hal itu yang direnungkan oleh sesosok perempuan yang sedang melihat jendela dari restoran cepat saji kesukaannya dengan laptop menyala di depannya. Sedangkan lawan bicaranya hanya menatap dia yang sedang menatap ke luar jendela dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Menurut lelaki itu, sudah terlalu sering melihat perempuannya menatap ke luar jendela. Maka dari itu, dia amat sangat hapal tempat kesukaannya apalagi ketika hujan seperti ini.
Pernah suatu saat waktu mereka masih dalam tahap pendekatan si lelaki bertanya “Kenapa sih lo suka banget duduk di pojokan deket jendela ngadep jalan? kek anak ilang tau.” si perempuan tersenyum “bawel lo. Gue suka aja ngeliat orang-orang yang lalu lalang sibuk sama pikirannya masing-masing”. Nyeleneh emang jawabannya tapi dia terlanjur sayang dengan pikiran perempuan di depannya itu dan dia terbiasa dengan keajaiban-keajaiban yang dibuat si perempuan begitupun sebaliknya.
Si perempuan terhenti dari lamunannya melihat jalan dan mulai menatap laptopnya kembali, sambil sesekali terlihat dahinya mengkerut memikirkan kata-kata yang cocok untuk ditulis dalam menyambung kalimat yang sedang disusunnya. Sosok di hadapannya hanya tersenyum kemudian dia merogoh saku jaketnya yang berisi sebuah tempat perhiasan lalu ditaruhnya tempat perhiasan itu di samping laptop si perempuan. Awalnya dia tidak sadar, namun karena terus menerus dilihat oleh orang yang berada di depannya akhirnya membuat si perempuan menengok ke arah orang yang menatapnya.
“Bisa gak sih gak usah ngeliatin terus?” Protes si perempuan. Si laki-laki hanya tersenyum dan memberikan kode dengan mengarahkan pandangannya pada benda yang ada di samping laptop si perempuan. Si perempuan pun mengikuti arah pandang kekasihnya itu. Namun dia kembali menatap laptop tanpa mengubris kotak perhiasan itu.
“Lah, kok diliat doang sih? buka dong.” Gantian sekarang si lelaki itu memrotes reaksi perempuannya. Yang diprotes masih diam dengan terus menatap laptop.
Ya makin kesal si lelaki. Akhirnya dia menutup paksa laptop kekasihnya. Dibalas dengan tatapan death glare oleh si perempuan namun dia tetap menurut tidak kembali membuka laptopnya malah sekarang dia fokus mengambil burgernya dengan mulut sudah manyun akibat kelakuan kekasihnya.
Karena ketidakpekaan perempuannya akhirnya si lelaki membuka kotak perhiasan itu dan menyodorkannya di hadapan perempuan yang sedang makan burger itu.
“Cincin nikah?” tanya si perempuan. Dijawab anggukan oleh siempunya cincin.
“Buat aku?” tanyanya lagi. Karena gemas, si laki-laki mencubit pipi yang sedang mengunyah roti isi daging itu.
“Aduh sakit tau. Lagian yaa kalau mau ngasi cincin tuh yang kelas dikit kek, ada sahabat-sahabat aku misalnya, atau dibikin surprise kek youtuber-youtebr gitu, akunya pas lagi cantik kek! ini mah di Burger King.” Sambil manyun tapi disudut bibirnya terdapat senyum yang tidak bisa disembunyikan juga. Tidak menggubris omelan kekasihnya dia malah bertanya “Gak dipake?”. Dengan sedikit kesal akhirnya si perempuan melepas burgernya dan mengambil cicin tersebut dan disematkan dijari manisnya sendiri.
“Nih puas?” sambil memperlihatkan tangannya yang sudah dihiasi dengan cincin tersebut.
“Akhirnya…” Jawab si laki-laki yang sekarang mungkin sudah menjadi tunangannya.
“Berarti sekarang kita akan banyak membicarakan pernikahan ya?” tanya si perempuan dengan menatap cincin tersebut. Kemudian tangan itu digenggam oleh laki-laki itu.
“Kamu gak sendirian, kan aku yang minta karena aku yakin cuman mau sama kamu, jadi ngurusnya bareng-bareng. Mulai sekarang sampai kapanpun seribet apapun ketakutan apapun itu kita bareng-bareng jalaninnya.” Ungkap si laki-laki seolah-olah menenangkan isi pikiran si perempuan yang dipenuhi dengan ketakutan akan sebuah pernikahan. Hanya di jawab dengan senyuman bahagia. Mungkin kalau dengannya aku yakin. Batin si perempuan dan mereka melanjutkan acara makan burger dengan ditemani dinginnya ac Burger King tentu saja tanpa membuka kembali latop.

0 comments: