Sampai kapan akan bertahan dengan waktu?
Dahulu aku amat sangat meyakini bahwa seluruhnya akan bisa dikendalikan oleh waktu. Yaa.. waktu. Perasaan rasa sakit, bersalah, dan benci, seolah olah akan terhapus dengan adanya waktu. Aku merasa bahwa seluruhnya bisa menjadi baik ketika memang sudah waktunya.Nyatanya? semakin waktu bergulir semakin perasaan bersalah yang lebih besar muncul. Haruskah aku berusaha untuk tidak menundanya lagi? ah, bukan menunda.
Akan tetapi membiarkannya terlupa oleh waktu. Saat teringat ternyata rasanya luar biasa ya.
Menyakitkan, menyesakkan, tak peduli tempat, hal itu akan membuat terdiam beberapa saat untuk memanipulasi perasaan yang sebenarnya.
Hidup penuh dengan kepura-puraan tidak peduli dengan orang lain, bertahan dengan diri sendiri. Menjadi makhluk yang seolah-olah egois akan diri sendiri, padahal memang begitu adanya. Tidak ingin menolong, terlalu sungkan apa yang akan dilakukan cukup atau tidak, merasa pamrih dengan menanyakan akankah orang tersebut akan melakukan hal yang sama?
betapa egoisnya dunia ini. Bukan dunia, melainkan aku. dan aku terus menerus menyalahkan diriku yang lain. Hingga dia muak, lelah atas aku.
Sesungguhnya waktu itu menyembuhkan atau malah membuat rasa yang ada bertambah sakit?

0 comments: