Rutinitas Pagi

17:37 LuqyLugy 0 Comments


Hallo, how's life? :) Gue kali ini mau upload short story. Story ini terinsipirasi dari lagu DAY6 yang judulnya Afraid. Hope you enjoy it! 



I can neither let you go or hold on to you - Afraid by DAY6

Pagi yang cerah atau mendung, aku amat menyukai suasana di pagi hari. Pagi membuat ku bisa merasakan sisa dingin semalam yang seolah enggan untuk pergi, tetapi mau tidak mau dingin itu pada akhirnya tetap meninggalkan pagi seiiring dengan waktu yang bergulir. 

Jangan sangka karena aku menyukai pagi aku akan menyukai yang namanya bangun pagi. Tidak. Walaupun sewaktu sekolah dahulu aku akan menjadi orang pertama yang datang ke sekolah, tapi bukan berarti aku mencintai bangun pagi. Aku bukan bucin pagi hari seperti kata-kata puitis yang aku tulis di atas. Aku hanya menyukainya. Menyukai pagi hari. 

Berbicara sekolah, pagi itu mengingatkan aku soal dia… 
Dia orang yang tidak pernah dapat aku biarkan pergi maupun aku tahan kehadirannya. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa aku mengerti. Orang yang selalu aku tunggu kehadirannya akan tetapi tidak pernah aku sapa akan kehadirannya juga. Lucu yaa? Tapi menurut ku untuk semua kenangan itu terasa cukup. Mungkin itu juga yang membuat Tuhan memutuskan hanya memberikan serpihan-serpihan interaksi antara aku dan dia. Karena ketika aku menuntut lebih, aku akan serakah atas semua perasaan ini. 

….. 

“Ienn.. Ien… Bangun” Sosok perempuan itu terbangun sambil mengucek matanya seolah membersihkan kotoran diantara matanya. Sementara tangannya yang satu lagi dia biarkan karena masih terasa kaku tiba-tiba beralih fungsi menjadi bantal dadakannya. 

“Cuci muka dulu gih sana” Suruh sahabatnya yang tadi membangunkannya sekaligus teman sebangkunya sejak mereka masuk sekolah di SMA ini. Gien hanya menatap sahabatnya dengan mata sayunya yang seolah masih berat untuk dibuka untuk mengikuti upacara hari ini. Bukan hari ini saja sebenarnya, setiap hari juga kalau sudah dibangunin sahabatnya itu dia malas. Botol berisi air minum yang ada di pojokan mejanya diambil begitu saja untuk diminum perempuan itu setidaknya untuk membersihkan mulutnya yang terasa tidak enak sehabis bangun tidur. 

“Ayokk cuci muka dulu, nanti gue tungguin di baris belakang.” Karena paksaan sahabatnya itu akhirnya Gien ke kamar mandi yang terletak tidak jauh dari kelas mereka. Hanya saja barisan untuk anak kelas 12 SMA itu paling ujung sesuai urutan kelasnya. Jadi agak jauh dari kamar mandi tempat Gien membasuh mukanya. Dia males, sampai barisan dia ingin melanjutkan mimpinya. Yap, Gien itu sosok jenius tidur, dia bisa tidur dengan kondisi berdiri saat upacara. Kadang pernah ketauan juga sama guru BP. Tapi karena guru BP-nya adalah sohib Gien, dia hanya mendapat jeweran di telinganya tanpa menimbulkan kegaduhan. 

Sampai barisan dia melihat sahabatnya yang sudah menyiapkan tempat di sampingnya. Sebenarnya barisan diatur sesuai dengan tinggi yang minim akan menempati tempat paling depan diikuti dengan siswa-siswa yang tingginya dikasi kelebihan sama Tuhan. Gien ini termasuk yang tingginya gak dikasi kelebihan sama Tuhan, tapi dikasi kelebihan buat bisa dekat dengan guru BPnya yang galak itu. Jadi dia bisa ngelobby Ibu Sarina-Guru BP yang sering jewer Gien gara-gara ketauan tidur- buat di barisan belakang. 

Gien gak langsung tidur sampai barisan, bisa-bisa dia disuruh jaga oleh Bu Sarina di barisan kelas sebelas kalau langsung ketauan tidur. Dia males banget negur-negur anak-anak yang ketauan ribut. Soalnya dia juga gak suka ditegur-tegur pas lagi tidur apalagi diganggu jam tidurnya buat ngurus begituan. Ogah. Jadi dia memutuskan untuk mengalah mengurangi sedikit kesempatan tidurnya sampai dirasa situasi aman buat tidur. 

Gien menangkap sosok sahabat masa kecilnya, Gian yang sedang berada di bagian sound yang digunakan untuk upacara. Gian salah satu sahabat Gien, dari mereka masih kecil banget. Mereka juga punya teman sepermainan di sekolah ini juga, hanya saja tersebar di bagian kelas-kelas lainnya. Kadang-kadang kumpul kalau emang lagi mood aja, atau sama-sama lagi ada jam kosong. Tapi Gian dan Gien itu berbeda. Mereka beda bukan lagi temanan yang masa kecil yang dulu mungkin bisa mandi bareng. Gien merasa terkadang terasa jauh dengan Gian padahal mereka hanya berjarak sejengkal telapak tangan Gien. 

Tiba-tiba dia merasa rindu dengan sahabatnya yang berada tidak jauh darinya. 

“Lin, gue ke barisannya Castalia dulu yaaa” Pamit Gien ke Halinka. Halinka menjawab dengan anggukan dan senyuman keibuan. Gien juga heran kok mau Halin yang ngomongnya pelan, baik, kadang sifatnya itu sudah seperti kaka perempuan yang rela tinggal kelas buat ngemong adeknya. 

“Hati-hati ketauan sama bu Sarina” Jawab Halin. Tuhkan baik banget memang Halin itu. 
Baru saja Gien hendak puter badan, salah satu teman sekelasnya Obi yang di barisan samping, barisan laki-laki tau gelagat Gien mau kabur ke pasukan sebelah “Kemana lo? di belakang di jaga Mami lo” Obi menahan tangan Gien menghentikan badannya yang hampir separuhnya ingin berbalik. 

“Hah? Bu Sarina?” tanya Gien. 

“Iyalah siapa lagi Mami lo disekolah ini?” Jawab Obi sedikit berbisik. Kemudian Halinpun menengok ke samping pura-pura bersin sambil melirik belakang mereka . 

“Iyaa Bu Sarina di belakang Ien..” Halin memverifikasi keberadaan guru satu itu yang tiba-tiba sudah berganti status sebagai Mami Gien di kelasnya. 

Gien hanya menghela nafas, gagal dirinya untuk kabur menemui sahabat se oroknya, dan kembali menatap anak-anak yang dibagian sound. Kalau begini tidur juga gak akan melepas penat Gien, yang ada dia bisa mimpi yang bangun-bangun bikin dia capek. 

Upacarapun selesai dengan Gien yang tidak mampu tidur berdiri hanya mengawasi gerak gerik sahabatnya. Sampai sekarang pun mereka sedang kumpul di depan kelas karena guru pertama mereka belum datang Gien masih menatap anak-anak di sound yang sedang membereskan kabel. Sebenarnya Gien salah satu dari mereka, akan tetapi memang untuk upacara dikhususkan buat team laki-laki karena harus mengangkat speaker yang besar-besar, Gien juga sudah bosen, sudah tua dari semester dua kelas sepuluh tugasnya begituan terus. Gian aja yang gegayaan masih aktif batin Gien, pengen tebar pesona ke adik kelas kali. 

Gian, Gien, Castalia, Jere, Riyo, dan Ima merupakan sahabat-sahabat kecil Gien yang tersebar di sekolah ini. Jere, Riyo juga seharusnya membantu Gian buat bebenah sound tapi Gien yakin mereka males dan lebih memilih buat jaga di belakang tadi. Toh mereka pikir sudah ada Gian. Tau banget Gien tuh sama tabiat dua bocah itu. 

“Ienn ku sayaaaangggg, Giann manaaa?” Suara Riyo memecah lamunan gue, ah anak-anak sound sekarang sudah tinggal membereskan kabel-kabel saja. 

“Hmm… Tuh” Dagu gue menunjuk tempat dimana Gian berada. Kalau sudah datang Riyo biasanya teman-teman kelas Gien yang berkumpul pelan-pelan akan meninggalkan kursi mereka dan masuk ke dalam kelas. 

“Dih udah kelas dua belas masih juga. Temen lo tuh Ien dikasi tau” Sewot banget nada Riyo gak terima banyak anak kelas sepuluh yang menatap Gian dari lantai atas sepertinya. 

“Eh Cas siniiiii!” Teriak Jere memanggi Castalia sahabat mereka yang Gien ingin temui saat upacara tadi tapi gagal gara-gara Bu Sarina. Gien melihat Castalia menghapiri mereka langsung saja berhamburan memegang lengan gadis yang lebih tinggi darinya itu. 

“Liaaaaaaa gue kangeeeennnnnn” Gien hanya bisa manja ke Castalia. 

“KOK GUE GAK DIGANDENG GITU SIH IEN!” Protes Riyo yang sudah ingin mengamit lengan Castalia tapi keduluan di keplak kepalanya oleh Jere. 

“Diem gak! Sekolah bukan punya bapak lo! Lo mau batal lulus gara-gara bermesraan sama Cas. Dikira di rumah kali” 

Riyo mendelik tajam ke arah Jere yang sudah mengganggu kemajaannya bersama Castalia lalu mengarahkan pandangannya pada Gien yang malah mendapatkan muka ledek dari Gien.

“Kok pada disini? Kagak pada masuk kelas?” Tanya Gian yang jalan menghampiri Jere. 

“GIAAAANNNN! JERE TUHH KEPALA GUE JADI KORBAN KEGANASAN DIA” Riyo mengadukan Jere dan hendak melakukan hal yang sama seperti yang akan dilakukannya kepada Castalia. Tetapi Gian menghindar membuat Riyo jatuh dengan tidak elit. 

“Mampus lo” Kata Gien lalu kemudian ikut tertawa bersama sahabat-sahabatnya. Emang begitu kelakuan Riyo tidak pernah tidak absurd, Jere yang lebih tenang, Gian sebelas sama Jere tapi kalau Gian lebih pinter gabung sama anak-anak yang lain life skillnya mantap banget. 

“Ima mana?” Tanya Riyo tiba-tiba yang tidak melihat sahabat cantiknya itu ikut gabung. 

“Udah masuk dia, mesti bete banget tuh anak. Pak Jono gak ngasi napas banget.” Jawab Castalia. Nah bedanya Gien, Ima, dan Castalia itu kalau yang paling tenang itu Ima. Tenang banget, kalau marah juga diem aja. Tapi gak akan ada yang berani. Nah kalau Castalia itu supel banget anaknya, ceria, jadi gak heran kalau Castalia sama Gian itu terkenal. Mereka itu punya adek dimana-mana. Sayang aja Castalia udah taken sama adik tingkat juga. Sedangkan Gian, hubungannya mungkin complicated. Kalau mereka sama-sama sendiri mungkin bakal ada gosip yang beredar. Sebenarnya mereka sudah sering terima gosip-gosip begitu tapi gak pernah ada yang mau ngomong, cenderung cuek. Gien sendiri anaknya cuek, tukang rusuh sebelas dua belas sama Riyo, tapi dia cuman bakal ngerusuh sama sahabat-sahabat kecilnya. Kalau Riyo kan semua orang. 

Gak ada yang pernah tau kalau Gien ada perasaan sama Gian. Gak ada. Tapi Castalia tau itu, Ima juga tau tanpa Gien bilang. Pandangan Gien ke Gian itu beda. Mungkin Jere sadar, tapi Jere gak pernah tanya, mereka semua takut. Takut kehilangan perasaan nyaman ini. Ketika ada diantara mereka yang mengaku maka akan ada yang sakit, maka semua itu akan berubah. Terdapat hal yang menyakitkan yang hanya bisa sembuh dengan waktu dan tidak tau berapa lama penyembuhan itu. Mereka… mereka semua tidak berani mengambil resiko itu. Bahkan jika mereka tau tanpa sadar mereka semua diam. Mereka terlalu nyaman dengan ketenangan ini, setidaknya untuk saat ini. 

…. 

Gien mengingat masa-masa SMAnya bersama sahabat-sahabat kecilnya. Sudah bertahun-tahun itu berlalu tapi rasanya hidup bersama itu sulit. Ributnya Riyo yang sekarang udah punya anak tiga tapi gak berubah mulut comberannya. Akhirnya Ima dan Jere sama-sama bisa jujur sama perasaan masing-masing, berani buat ambil resiko dan tahun lalu mutusin buat nikah. Castalia yang masih mencari jodoh, setelah akhirnya berhasil nyembuhin lukanya yang dibawa sejak SMA. Pacarya pas SMA selingkuh. Parah. Ima sama Gien udah bar-bar aja mau nyamperin dia tapi ditahan sama Castalia. Gien hanya tersenyum lebar mengingat itu semua seolah dia sedang bernostalgia dengan sahabat-sahabatnya 

“Kenapa senyum-senyum gak jelas?” Tanya sosok yang berada di depan Gien saat ini. Gian. 

“Udah buka grup?” Tanya Gian lagi. Gien langsung buka grup berisi notifikasi yang mengabarkan Riyo yang gak bisa karena tiba-tiba anak keduanya demam tinggi jadi harus jaga, dan Castalia yang baru bisa nyusul satu jam setelahnya. Sementara pasangan baru setahun menikah itu, memang tidak bisa hadir karena mereka tidak tinggal di kota yang sama bersama mereka. 

“Gue juga baru buka grup tadi kok pas di mobil.” Yaudah berarti kita berdua aja yaa. Yap, Gien dan Gian memang sama-sama belum menikah. Tapi bukan berarti mereka juga selama ini jomblo. Tidak kok. Mereka hanya belum bertemu dengan pasangan yang cocok untuk dibawa ke pelaminan. 

“Ohh.. em berdua berarti yaa?” Jujur, Gien merasa canggung dengan keadaan ini karena memang mereka tidak pernah berdua. Tidak pernah berbicara berdua yang intens. Kalaupun mereka bersama Gien dan Gian juga jarang berinteraksi bersama. Kecuali jika memang ada tugas bersama Gian dan Gien akan berhubungan berdua. Gian dan Gien sadar juga kalau hubungan mereka tanpa sahabat-sahabat mereka yang lain hanyalah kecanggungan. Entah dimulai sejak kapan, Gien dan Gian tak pernah tau. 

“Yup Berdua. Sambil nunggu Talia datang.” Ujar Gian yang kelihatan santai sambil mebolak balik menu. Gien tidak pernah tahu kalau Gian juga merasa aneh canggung, bahkan dia tidak fokus membaca menu. Hanya membolak-balik menu tanpa tau apa yang ingin dia pesan. Menyerah dengan urusan pesan memesan, akhirnya dia memutuskan pesan ice americano ketika pesanan Gien datang. Karena suasananya cukup canggung dan gak mungkin menunggu Castalia datang hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. 

“Gi, Gue pikir pas sampai bakal nemuin lo tidur lagi kayak pas jaman SMA” Gian membuka percakapan. Tema nostalgia jaman mereka SMA mungkin akan ampuh buat mencairkan suasana canggung itu 

“Ha? Gue tidur? Yakali Ian” Jawab Gien sambil tertawa dan mengingat bagaimana dia dibangunkan sama Halinka kalau bel jam pertama sudah mulai. 

“Yakan lo kalo pagi ketemu meja pasti tidur.” Jawab Gian sekenanya. 

“Yaa gue kan bangun pagi, supaya gak telat Ian. Lagian yaa gue mah lebih suka main aman. Tidurnya di kelas aja. Emangnya elo dateng telat terus.” Pembelaan yang dilontarkan Gien sekaligus serangan balik untuk sahabatnya itu. 

“Gak gitu yaa, gue lebih milih buat sedikit lebih lama di kasur. Gue juga gak pernah telat, gue dateng selalu mepet bel.” Gian tersenyum bangga dengan kemampuannya itu seolah dia tidak perlu bangun pagi-pagi hanya untuk menghindari telat. 

Gian dan Gien saat itu menyadari kalau Gien akan selalu memanggil Gian dengan sebutan “Ian” sedangkan teman-teman yang lain bahkan lingkungan mereka yang lain akan memanggil Gian dengan sebutan “Gi”. Lainhalnya dengan dengan Gien semua teman-temannya akan memanggilnya dengan “Ien” sedangkan hanya Gian yang akan memanggilnya dengan “Gi”. Mereka serba kebalikan. 

“Gi… Lo gak kangen SMA?” Gian tiba-tiba bertanya. 

Andai Gian tau, kalau Gien mungkin orang yang paling kangen sama dunia SMA mereka. Dimana Gien lagi sejatuh, sesakit apapun Gien, Gien punya mereka. Sesuka apapun sebahagia apapun Gien ngejalaninnya juga sama mereka. Gien mungkin orang yang terlalu bergantung dengan sahabat-sahabatnya itu. Tapi Gien berbeda ke Gian. Karena Gien tidak pernah mau Gian melihat Gien dan segala ketergantungannya itu. 

Tanpa Gien sadari Gian selalu melihat ke arah Gien. Saat Gian dengan terburu-buru dari depan gerbang sekolah menghindari amuk Bu Sarina, dia akan menyempatkan melihat ke bangku belakang yang berbeda baris darinya, tempat Gien tertidur atau saat Gien sakit dan hanya memutuskan berada di dalam kelas saat istirhat karena tidak nyaman tidur di UKS. Gien lebih sayang tangan yang digunakannya sebagai bantalnya itu. Gian akan bercengkrama dengan orang yang duduk di belakang Gien sambil melihat dan berjaga-jaga keadaan Gien. Tanpa mereka sadari mereka saling memperhatikan. 

Saat Gien dibangungkan oleh Halinka, Gien akan mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memastikan bahwa bangku yang berada di depannya hanya berbeda baris itu sudah terisi dengan tas. Lalu kemudian akan beralih pandangan yang berlawan dari bangku itu ke arah depan pintu kelas melihat Gian yang sedang tertawa dengan teman-teman laki-laki lainnya. Tanpa Gien sadari saat Gien melihat untuk memastikan tempat duduk yang terisi tas itu, Gian pun sedang memperhatikan Gien sejak dia tertidur sampai dia dibangunkan oleh Halinka. Rutinitas pagi mereka tanpa ada yang tau. Hanya mereka dan Tuhan yang tau menjadi rahasia manis di dalam diri Gian dan Gien. 

…..

Lagu Afraid dari DAY6 kembali terputar di cafe ini. Aku melihat wajah Castalia yang sedang berbincang seru dengan Gian. Ah… percakapan singkat ku dan Gian membawa kenangan-kenangan SMA setidaknya berhasil untuk membuat hubungan kami tidak lagi canggung. Tetapi aku pun terlalu sungkan untuk berharap lebih. Aku lebih suka seperti ini. Berada di zona nyaman persahabatan ini. Aku tidak seberani Jere maupun Ima yang secara frontal bisa memperjelas hubungan mereka. Aku tidak berani memastikan apapun. Ahhh.. aku terlalu takut untuk luka. Bagaimana bisa lagu Afraid ini mewakili perasaan ku? 

“Emang apa artinya Gi?” Tanya Gian tiba-tiba, mendengarku bergumam lagu ini. 

“Gien mah mesti tau orang dia anaknya suka banget sama lagu ini.” Jawab Castalia sambil menyeruput minumannya. Aku tersenyum. 

“What should I do? You who are hurting because of me. What should I do? Me who hurt without you” Aku menterjemahkan lirik yang sedang dinyanyikan oleh Sungjin dkk itu, sambil menatap kedua mata Gian dengan senyuman.

...

0 comments: