Curcol : a spark of light
Huyyyy... huyyy...
Welcome to my blog! Sekarang ini gue mau bahas sebuah novel karya Jodi Picoult yang judulnya a spark of light. Ini novel dia yang pertama kali gue baca. She is amazing. Gue baca yang terjemahan Indo, mungkin bagi yang biasa baca buku English version bisa baca yang English versionnya. Gue abisin dua minggu lebih sedikit buat selesain novel ini.
Beberapa hal yang menurut gue unik dari novel ini alur yang dipakai mundur dan gak bikin bingung. Tbh, gue orang yang agak males baca novel beralur mundur, ngerasanya lagi seru tiba-tiba disuruh flashback. Nah, awal baca ini benar seperti itu. Tapi lama kelamaan lo akan dibimbing kenapa tokoh ini melakukan penembakan masal.
Novel ini mengangkat isu yang sulit. Menurut gue, menerjemahkan sebuah cerita dengan isu yang sensitif jadi tantangan terbesar bagi seorang penulis. Karena dia harus memiliki prinsip yang kuat atas isu tersebut. Bercerita tentang hukum aborsi, hak-hak perempuan dan juga hak minoritas, membuat cerita di novel ini tidak pernah mudah. Sedikit menyinggung tentang ras tapi cukup buat lo berpikir dua kali jika mau mengutarakan sesuatu tentang ras, suku.
Ada banyak tokoh yang membuat gue beberapa kali mengulang atau lihat bab sebelumnya buat ingat-ingat lagi dia siapa. Namun lama-lama terbiasa. Ada berbagai macam cerita. Dalam satu tokoh, setiap orangnya memiliki masalah yang gak bisa dibandingkan sama masalah tokoh lainnya. Hal yang gue suka juga dari novel ini, bukan jenis novel yang harus membayangkan keindahan sebuah cinta. Tetapi sebuah ironi yang sebenarnya ada dan dekat.
Isu besar yang diangkat novel ini adalah tentang hak perempuan melakukan aborsi. Namun ada banyak cerita-cerita kecil yang bisa ditemukan juga di novel ini. Seperti, kisah si kaya dan si miskin. Seorang yang akhirnya mengakui kalau dirinya mencintai perempuan yang mana juga orang itu adalah perempuan. Perselingkuhan dan memaafkan. Kisah kasih seorang ayah kepada anak perempuannya.
Yap, of course yang besar adalah cerita tentang seorang ayah yang dendam karena anak perempuannya mengalami pendarahan hebat akibat mengaborsi sendiri. Itu awal ceritanya tetapi banyak sekali yang bisa dipetik dalam novel ini.
Hal yang masih berkesan tentang novel ini tetapi di gue pribadi tidak mengamini ini adalah,
"Ketika seseorang berlomba-lomba untuk menghukum orang-orang yang melakukan aborsi, mengadakan hak hidup bagi sosok daging yang mungkin belum berbentuk manusia dengan meniadakan hak ibu yang mengandungnya. Siapa yang melindungi perempuan yang mengandung? Siapa yang melindungi hak-hak perempuan yang ingin melakukan aborsi?"
Maka akan menjadi sebuah isu yang menarik. Jodi Picoult sangat jelas dia berada atas hak perempuan. Kenapa kita harus meniadakan hak si ibu? Padahal bayi itu sendiri belum ada?
Waw menurut gue itu salah satu kalimat tanya yang strong dan sampai sekarang gue sendiri gak tau mau jawab apa. Tapi lo bisa liat kok di bagian tentang penulis tentang sikap Jodi atas itu.
Gue akan menutup ini dengan dua quotes dari buku ini,
Seperti inilah artinya menjadi manusia, pikir Bex.
Kita semua hanya kanvas bagi luka-luka kita.
Kekerasan, dari satu sudut, tampak seperti belas kasihan dari sudut lain.
Ah iya, ada plot twist yang buat lo kaget di akhir cerita. Nah... bukan. Ini bukan novel sekedar yang penembak diringkus terus cerita selesai. Ini lebih dari itu.
Selamat membaca!

0 comments: