Into You

06:43 LuqyLugy 0 Comments


Ada sosok laki-laki yang selalu diperhatikan diam-diam selama setahun ini oleh Agatha Yumna. No. Jangan anggap dia freak. Dia perempuan baik-baik kok, hanya saja entah sejak kapan dia mulai memperhatikan laki-laki itu dan dari kampus yang sebesar ini mereka selalu bertemu.

Lelaki jangkung berkacamata, terkadang dia menenteng tas kamera. Laki-laki itu juga kadang-kadang terlihat oleh Yumna menggunakan kaos dan kemeja flanel yang dijadikan luaran olehnya.

“Jangan diliatin terus Yum, samperin.” Tegur Lia salah satu sahabatnya.

“Lo lama-lama bisa dibilang stalker.” Kali ini si cerewet Laura.

Yumna menantap kedua sahabatnya sedih. Inginnya juga seperti itu, menghampiri sosok laki-laki itu. Namun dia sama sekali tidak berani.

“Haiii power puff.” Sapa Aldo pada ketiganya.

“Sapa maksud lo power puff hah?” Laura sudah mencondongkan badannya galak pada Aldo.

Aldo mundur perlahan lalu mengabari mereka, “Sowwy. Gue cuman mau ngabarin semester depan kita udah bisa ambil mata kuliah tambahan dari jurusan lain.”

Mendengar kabar itu membuat mood Yumna menjadi lebih baik setelah UAS barusan.

Thanks.” Yumna tersenyum amat manis lalu meninggalkan mereka bertiga begitu saja.

“Heh stalker kemana lo?” Teriak Lia kali ini membuat semua mata yang sedang berada di lobby kampus itu memandang ke arah mereka.

Yumna menengok ke arah Lia dan buru-buru memukul kepala sahabatnya itu.

“Sembarangan lo! ngatain gue stalker.”

Laura hanya mampu berdecak memisahkan kedua manusia itu dan menggandengnya.

“Bik Jum ajalah yuk, gue mau makan pecel.”

Tanpa Yumna sadari sosok yang diperhatikannya sejak tadi, memperhatikan tingkahnya juga. Sosok itu tersenyum melihat kelakuan ketiga sahabat itu.


Setelah puas libur semester selama hampir dua bulan mereka kembali memasuki semester baru.

Geng Power Puff kali ini sedang berada di kantin kampus setelah mata kuliah pertama mereka sudah diterpa dengan konflik antar negara yang sama sekali tidak dimengerti oleh mereka.

“Capek banget gue kuliah Pak Suyono mana suaranya bikin ngantuk lagi.” Oceh Lia yang kepalanya saat ini sudah berada di atas meja. Kasian, otaknya terlalu berat sampai leher dan badannya gak bisa nopang kepala itu.

“Gue masih ada mata kuliah tambahan abis ini.” Sedih Yumna.

Lia bangun menatap Yumna sinis.

“Lagian lo bisa-bisanya ambil mata kuliah Pengantar Fotografi. Gue tanya, sejak kapan lo suka fotografi?” Kata Lia.

Laura hanya menatap kedua temannya itu lelah. Lagian Yumna bisa-bisanya salah ambil mata kuliah. Harusnya ketiganya mengikuti pengantar filsafat dia malah mengambil pengantar fotografi. Jauh sekali!

“Gue gak habis pikir sama lo. Bodoh.” Laura kali ini menatap Yumna.

Yumna hanya bisa pasrah, dia akan berada di medan perang ini sendirian tanpa kedua sahabatnya.

….

Saat dia memasuki ruang kelas dia sama sekali tidak mengenali siapapun, dia familiar dengan beberapa muka tetapi dia sama sekali tidak mengetahui nama mereka.

Sekitar lima belas menit dosen memulai mata kuliahnya Yumna sudah benar-benar mengantuk dan tidak mengerti penjelasan dosen itu. Dia sejak tadi berusaha menatap penjelasan dengan mata yang difokuskan untuk terbuka.

Seseorang memasuki ruangan dengan terburu-buru.

“Atha Taradhipati, telat di hari pertama?” Jawab dosennya itu.

“Maaf Pak.” Ucap laki-laki bernama Atha itu sedikit menunduk.

Dosennya hanya mengangguk dan menyuruh Atha untuk mencari tempat duduk.

Kedatangan laki-laki itu benar-benar membuka mata Yumna sepenuhnya. Seperti adegan slow motion yang berada di film-film sosok laki-laki itu mengambil tempat duduk di samping Yumna.

“Baru pertama kali liat mahasiswa telat?” Ucap Atha yang sedari tadi diperhatikan Yumna.

Sontak saja Yumna salah tingkah dan langsung menatap dosen bergantian dengan menatap buku catetannya yang sama sekali tidak tergores tinta pulpen.

Atha tersenyum kecil melihat tingkah Yumna, mungkin bukan merupakan senyuman karena tidak pernah ada yang tahu senyuman itu. Sama sekali tidak terlihat.

Ini keputusan yang tidak pernah disesalin lagi oleh Yumna, tidak lagi. Atha Taradhipati nama yang akan selalu dia ingat mulai hari ini.

“Untuk project satu semester ini kalian bisa pilih sendiri.” Kata dosen mereka sambil menutup mata kuliah itu.

Matilah Yumna. Dia sama sekali tidak mengenal seorangpun di kelas ini, dia melihat sekitar banyak yang sudah mulai membentuk kelompok.

Bahkan Atha sudah dikerumuni beberapa orang, tiba-tiba dia menengok ke arah Yumna.

“Lo udah ada kelompok?” Tanya Atha memandang ke arah Yumna

dengan cepat Yumna menggelengkan kepalanya.

“B-boleh bareng?” Tanya Yumna pelan.

“Gue sama dia.” Ucap Atha pada teman-temannya.

Yumna tersenyum senang dia mengulurkan tangannya, “Gue Agatha Yumna.”

“Atha Taradhipati”

This day will be her best day!

….

Laura melihat Yumna sejak tadi heboh dengan hpnya. Sahabatnya itu benar-benar jatuh cinta.

“Kalo ada Lia bisa abis sih lo diledekin kayak baru pertama kali pacaran.” Ucap Laura yang sejak tadi menarik Yumna untuk menghindari dia dari orang yang berlalu-lalang karena terlalu sibuk dengan hpnya.

“Biarin.” Ucapnya singkat tersenyum amat manis lalu memasukan hpnya ke dalam tas.

“Sabtu kita jadi girls time kan?” tanya Laura

Yumna langsung teringat dan memasang muka sedihnya.

Sorry.”

Laura langsung menghentikan langkahnya, membuat Yumna juga ikut menghentikan langkahnya.

“Jangan bilang lo bikin janji, terus lupa sama janji kita?” Laura menghadapkan dirinya ke arah Yumna dengan tatapan penuh selidik.

Yumna hanya mampu memamerkan giginya tersenyum aneh.

Fix gue gak mau temenan sama lo lagi.” Laura pura-pura meninggalkan Yumna.

“Gak gitu. Gue ada tugas bareng Atha.” Ucap Yumna sambil mengejar sahabatnya yang ngambek itu.

“Sapa tuh Atha?”

“Cowok itu!” Ucap Yumna gembira sekali. Benar-benar Laura baru pertama kali melihat Yuman segembira ini.

“Cowok yang lo stalker-in?”

Langsung saja Yumna memukul bahu sahabatnya itu, “Sembarangan. Jadi karena kebodohan gue yang salah ambil matkul tambahan ternyata berbalik gue amat sangat beruntung. Gue bisa kenalan sama cowok itu, namanya Atha Taradhipati.”

“Hah? Atha? Gue pikir cewek.”

“Enak aja.”

“Terus kenapa lo gak bisa girls time?”

“Jadi….” Muka Yumna sudah tersenyum malu-malu, Laura sudah benar-benar eneg dengan perempuan di depannya ini.

“Buruan gak!” Ancam Laura.

Yumna tertawa sangat senang mengerjai sahabatnya ini juga senang memberi tahu kabar ini.

“Gue mau ngerjain tugas kelompok sama Atha. Jadi yaa si Atha ini baik banget, tau gue gak kenal siapa-siapa di kelas dia ngajakin gue buat kerja bareng. Satu semester gue bakal bareng dia terus!” Yumna mengatakan semua itu dalam satu tarikan napas tanpa titik dan koma.

Laura langsung gantian tersenyum iseng, “Cieeeeeee. Ada yang mau nge-date.”

Yumna langsung menggelengkan kepalanya, “No. No. Kerja kelompok yaa Lauuuuuuu.”

“Bilang aja nge-date sih.”

“Ihhh apaaaann cuman kerja kelompok.” Tapi Yumna sudah tersenyum-senyum sendiri entah apa yang dia bayangkan.

“Yaudah kalau begini gak papa deh lo gak ikut girls time.”

“Makasih Laura cantiknya akuhhh.”

“ewww”

….

Yumna dan Atha bertemu di sebuah halte busway rencananya mereka hanya akan memfoto beberapa hal yang menarik di jalan saja. Bahkan Yumna hanya menggunakan kamera hp saat memfoto sebuah momen. Ada sedikit penyesalan di dalam diri Atha memilih anak ini sebagai partner tugasnya. Sedikit. Selebihnya Yumna cukup asik dijadikan partner. Dia akan cukup mengerti jika saat Atha memotret dan tidak bisa diganggu.

“Agatha bisa minta tolong buat cari-cari momen yang menurut lo bagus gak?”

Atha memanggil Yumna tidak seperti kebanyakan orang. Salah Yumna yang memperkenalkan dirinya hanya dengan nama panjangnya membuat Atha akhirnya menyimpulkan bahwa dia dipanggil dengan nama depannya.

Yumna tersenyum dia senang dipanggil Agatha oleh Atha, nama mereka jadi terdengar mirip.

“Oke.”

Saat mereka menyebar Yuman memotret beberapa momen saat orang mengantri untuk masuk pada halte busway, atau dia melihat bapak-bapak yang tersenyum ramah saat pembelinya memberikan uang.

Yumna menengok ke arah Atha yang serius memotret beberapa anak jalanan yang sedang bermain kejar-kejaran sangat bahagia. Atha tersenyum memlihat hasil bidikannya. Buru-buru Yumna menangkap momen itu dimana Atha yang sedang tersenyum melihat kameranya dengan background blur anak-anak yang sedang bermain.

Untuk pertama kali Yumna melihat senyum tulus seorang Atha Taradhipati. Senyum yang dia lihat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Bahkan Yumna tidak pernah tahu kalau memotret akan memberikan dia perasaan sebahagia ini.

“Gimana?” Tanya Atha yang entah sejak kapan menghampiri Yumna.

Yumna gelagapan menunjukan foto bapak-bapak tadi.

“Lumayan.” Gumam Atha.

Menurut Yumna kata lumayan yang keluar dari Atha menjadi makna teresendiri baginya. Tuhan sepertinya sedang sangat baik pada Yumna.

“Lo foto apa?” Tanya Yumna untuk menghilangkan kecanggungan. Karena rasanya benar-benar aneh dan tidak biasa dipuji oleh seseorang yang kita harapkan.

Atha memperlihatkan fotonya. Foto anak-anak yang diambilnya tadi. Foto yang membuat dia tersenyum. Siapapun yang melihat foto-foto itu juga pasti akan langsung tersenyum.

“Bagus banget. Fotonya kayak nularin kebahagian.” Ucap Yumna sambil terus memperhatikan foto itu. Foto sederhana yang bahkan orang-orang tidak bosan melihatnya.

“Padahal kalau kita lihat begini kita ngerasa kasian, soalnya mereka bisa main bola bukan di bawah sini tapi di lapangan, sesuatu yang gak didapat sama anak seusia mereka.” lanjut Yumna mengalihkan pandangannya dari kamera menuju anak-anak yang sedang bermain.

“Tergantung kamu pilih lensa yang mana kamu mau liat.” Ucap Atha menanggapi Yumna.

Yumna menghadap Atha untuk meminta penjelasan, “Maksudnya?”

“Lensa itu banyak sama kayak pemikiran manusia. Tergantung kamu memilih buat pakai lensa mana buat meng-capture moment itu. Sama juga kayak gimana kamu ngeliatnya, mungkin kita ngeliat dari sini akan memandang mereka kasian. Tapi kalau dari pandangan mereka, mereka bahagia Agatha. Sama halnya dengan lensa ketika kita pakai lensa wide buat ngasi cerita pada foto itu keadaan mereka yang harus main di tempat seperti ini akan beda dengan lensa tele yang kita fokusin buat capture ekspresi mereka, kebahagian mereka. Semua benar-benar tergantung dengan apa yang kamu pilih buat melihat moment itu.”

Yumna tersenyum kalimat ini benar-benar membuat Yumna semakin yakin bahwa dia telah jatuh hati pada orang yang berbeda.

Atha menatapnya, “Jadi gimana kalau kita pakai lensa untuk ikut bahagia sama mereka?”

Yumna menangguk tersenyum tulus.

Cantik.

….

Beberapa kali mereka hunting foto membuat hubungan mereka jadi semakin dekat. Yumna amat sangat bersyukur sama Tuhan karena kebodohannya ini. Kalau dia tidak bodoh hari itu mungkin dia tidak akan bertemu dan mengenal sosok Atha Taradhipati lebih jauh.

Atha yang dilihat Yumna dahulu sangat berbeda dengan Atha yang dilihatnya sekarang. Jika dia melihat Atha yang dulu adalah sosok yang pendiam, tersenyum seadanya, tidak bisa dibilang amat ramah dan Atha akan menjawab seadanya. Namun Atha yang sekarang akan menjelaskan hal-hal yang sama sekali tidak diketahui oleh Yumna dengan sabar. Atha juga amat sangat care. Pernah saat mereka memotret Yuman menggunakan sepatu tali dan talinya terlepas. Jangan harap Atha akan membantunya mengikatkan tali itu seperti drama-drama Korea.

Atha menarik lengan Yumna yang sedang berjalan membuat Yumna menghentikan langkahnya.

“Sepatu lo benerin dulu.”

Yumna melihat sepatunya, nyengir karena ketidak pekaannya lalu menunduk memperbaiki ikatan tali sepatu itu.

Ketika Yumna berdiri Atha mengucapkan, “Hati-hati” sambil mengelus kepala Yumna lalu lanjut berjalan mencari objek untuk difoto.

Beberapa kali Yumna memikirkan itu dia akan selalu tersenyum sendiri sampai sahabatnya akan mengatakannya gila.

Hari ini mereka akan pergi ke sebuah bukit yang langsung menghadap pantai. Mereka akan menggunakan kereta cepat antar kota dan bertemu sahabat Atha. Yumna tidak masalah, namun rasanya seperti mereka sudah di tahap yang lebih jauh karena Atha mengenalkan sahabatnya pada Yumna.

Ale dan Leo. Sahabat perempuan Atha yang bernama Ale ini sangat ramah, supel, dan sedikit cerewet berbanding terbalik dengan sahabat cowoknya yang bernama Leo. Namanya saja Leo tetapi dia lebih banyak diamnya tidak ingin menjadi pusat perhatian sama seperti pertama kali melihat Atha, pikir Yumna.

“Ini yang namanya Agatha yaaa? Cantik banget.” Ucap Ale saat melihat Yumna dan Atha yang menghampiri mereka.

“Makasih. Lo juga manis.” Yumna mengatakan itu sambil tersenyum.

“Lihat lah laki-laki kaku ini yang tidak bisa melihat kemanisan gue. Gini caranya ketemu orang tuh, memuji.” Kata Ale sambil menatap kedua sahabat laki-lakinya.

“Berisik.” Sahut Atha galak.

Yumna cukup terkejut karena Atha bisa jutek pada orang. Walaupun mukanya terkadang menyuruh orang-orang untuk menjauh namun dia tidak pernah mengatakan secara gambalang pada orang-orang seperti yang dia lakukan saat ini.

“Liat deh dia. Galak banget. Jangan mau sama dia yaa Agatha.” Ale mengatakan itu sontak membuat Yumna tertawa.

“Iyaaa nanti gue pikir-pikir lagi kalau mau sama dia.”

“Bagus.”

Kedua lelaki itu berjalan menjauh, tanpa mengatakan apa-apa.

“Heh! Malah ditinggal!” Ale langsung menghampiri mereka diikuti dengan Yumna.

“Bawel sih kamu.” Leo memelankan jalannya agar bisa diikuti oleh Ale sementara Atha terus saja berjalan.

Yumna tertawa dan memilih melihat interaksi mereka. Lucu. Satu orang perempuan dengan dua laki-laki kulkas menurut Yumna.

“Atha.” Panggil Yumna membuat Atha langsung menengok ke arah Yumna menggapai tangannya hati-hati.

Mereka sedang berada menuruni sebuah bukit yang di depannya pemandangan laut. Sangat indah.

Ale dan Leo sudah berada di depan. Ale dengan kamera hpnya sama seperti Yumna sedangkan Leo dengan kameranya sendiri beberapa kali Ale memaksa Leo untuk memotretnya.

“Atha gue mau nanya deh tapi kayaknya agak privasi.” Ucap Yumna yang sudah sangat penasaran akan hubungan Leo dan Ale.

Hanya dengan Ale, Leo menyebutkan aku-kamu dan perhatian kecil Leo yang membawakan Ale minum atau menyamakan langkahnya ketika Leo merasa dia berjalan terlalu cepat hingga membuat Ale kesulitan untuk menyamakan langkahnya.

“Kenapa?”

“Ale sama Leo pacaran?”

“Pernah.” Ucap Atha sambil memandangi kedua sahabatnya itu, tersenyum.

Sudah Yuman duga pasti di antara ketiganya ada sesuatu.

“Berarti sekarang udah putus?”

“Udah, beberapa tahun yang lalu. Gue gak tau tapi setau gue perempuan bawel itu udah punya pacar lagi. Sementara Leo lagi cari pacar. Kenapa? Mau sama Leo?” Tanya Atha tiba-tiba.

Langsung dijawab gelengan cepat oleh Yumna, “Enggak. sumpah enggak.” Dia berusaha meyakinkan Atha.

Laki-laki itu justru tertawa melihat tingkah Yumna.

Tanpa mereka sadari objek yang mereka bicarakan sejak tadi memperhatikan tingkah mereka sejak dari stasiun. Jika Yumna memperhatikan bagaimana Leo memperlakukan Ale. Ale amat sangat peka dengan perubahan sikap sahabat laki-laki yang sedang menenteng kamera analog itu.

Ale melihat Atha akan selalu menengok ke belakang jika Yumna agak tertinggal lalu berhenti pura-pura untuk memotret objek yang bahkan itu bukan sebuah objek yang disukai oleh Atha. Atau ketika Yumna mulai kecapekan Atha akan mencari tempat istirahat. Biasanya Ale akan protes terlebih dahulu baru Atha mencari tempat istirahat.

Ale tersenyum melihat senyum Atha yang sudah lama tidak terlihat oleh dia juga Leo.

Someone is falling in love.” Ucap Ale pada Leo.

Indeed.” Balas Leo sambil memperlihatkan foto yang baru diambilnya.

Sebuah pemandangan bukit dengan awan yang begitu indah yang menjadi background Yumna dan Atha sedang tertawa.

Mereka mengakhiri hari dengan berpisah sambil menunggu kereta masing-masing.

Atha dan Leo sedang mengantri roti bakar sementara Yumna dan Ale lebih dulu masuk ke dalam stasiun. Ale malas ikut mengantri dan lebih memilih untuk duduk di kursi tunggu stasiun. Awalnya dia mendapatkan tatapan galak Atha tetapi karena Leo baik-baik saja dan setuju akhirnya mereka berdua mengantri.

“Atha udah sering bawa kamera analognya?” Tanya Ale tiba-tiba pada Yumna.

Yumna yang sedang mengabari kedua sahabatnya itu langsung menutup aplikasi pesannya menatap Ale,

“eh.. Iya sejak tugas ambil foto ke dua kali, dia mulai sering bawa kamera analog sama kamera yang biasa.”

“Hmm… effort banget ya.” Ucap Ale sambil memandang rel kereta.

“Tadi gue liat chat room lo fotonya Atha.” Ale tersenyum jail menatap teman barunya itu.

Yumna langsung salah tingkah. Karena sangat suka dengan foto Atha yang memotret anak-anak sedang bermain, Yumna menjadikan foto itu wallpaper chat roomnya. Dia tidak menyangka Ale akan melihatnya.

Ale tertawa, “Makasih yaa udah suka sama manusia itu, minta tolong dijagain soalnya kita berdua jauh. Dan dia orang yang paling bodoh buat ngejelasin perasaannya sendiri. Kalo dia gak bisa jujur sama perasaannya sendiri lo paksa aja buat dia ngaku sama lo.”

Yumna tersenyum, “Hehehe. Gue bantuin jagain yaa.”

Rasanya seperti diterima oleh Ale. Jujur awalnya dia sempat takut perempuan itu akan marah karena Yumna menyukai salah satu orang berharganya. Namun dia sempat kepikiran dengan kalimat akhir Ale. Dia tidak ingin ke-pede-an tetapi sebodoh itu kah seorang Atha sampai sulit mengungkapkan perasaanya?

Begitu Leo dan Atha datang bersamaan dengan kereta Ale dan Leo. Walaupun bisa menunggu kereta selanjutnya tetapi Ale memaksa Leo untuk ikut kereta yang saat ini. Leo akhirnya menurut walaupun dia terlihat sebal.

“Duluan yaaaaaa.” Ucap Ale dan lambaian tangan Leo.

Sepeninggal Ale dan Leo, Yumna terdiam dan ikut menatap rel kereta lalu dia teringat saat Ale menanyakan Atha yang sekarang lebih sering menggunakan kamera analog.

“Eh gue mau tanya deh Ta.. Kenapa lo lebih sering pake kamera analog?” Tanya Yumna.

“Orang pernah bilang sama gue, ketika lo ambil foto pakai kamera analog, momen itu sudah menjadi kenangan. Soalnya gak bisa lo liat langsung, lo bisa liatnya nanti di masa depan.”

“Hmm… gue jadi mau pake kamera analog. Emang kenangan apa yang lo coba ambil?”

Atha menatap Yumna dalam. Atha tidak pernah menyadari bahwa sosok di depannya ini akan menjadi manusia istimewa tiap kenangan yang diambil dalam roll kamera analognya. Dia merekam hal-hal yang seolah ringkih, mudah hilang dan hanya dengan kamera yang dibawanya ini momen itu bisa bertahan.

“Kenangan istimewa.” Jawab Atha.

Yumna menatap mata kecoklatan itu menebak apa yang sedang dipikirkan dan disembunyikan oleh laki-laki ini. Mata indah itu yang hampir setahun ini membuat dia bertahan, sampai Tuhan memberikan dia jalan. Entah keberanian darimana Yumna mengungkapkan sebuah pertanyaan,

“Gimana kalau gue Agatha Yumna menyayangi dan mau memotret hampir sisa hidupnya bersama Atha Taradhipati?”

Atha langsung memutus tatapan itu memandangi rell kereta cepat yang ada di depannya. Dia tersenyum menjawab pertanyaan itu.

-fin

0 comments: