Broken Promise
1/2
“Dee?” Sapa seseorang saat Dee sedang memilih cemilan di supermarket yang bahkan tidak dekat dengan apartemennya.
Dee menengok tapi tidak yakin dengan orang yang menyapanya.
“Brian.” Ucap lelaki yang bernama Brian, salah satu band mates-nya Saga. Dia mengulurkan tangannya.
“Oh haiii! gue hapal sama Bang Nat, Doni. Sama lo belum pernah ngobrol langsung.” Dee kaget langsung menyambut tangan yang terulur itu.
“Bang Saga apa kabar?” Tanya Brian sambil ikut mendorong troli sementara Dee memegang keranjangnya.
“Good.” Jawab Dee singkat.
“Well, gue rasa gak sebagus itu?”
“Pasti dia cerita ya.”
Brian tertawa, “hmm… gue tumben loh liat Bang Saga galau begitu.”
Dee hanya masih bisa menyengir sungkan. Dia tetap memilih cemilan yang ingin dia makan.
“Dee lo baik-baik aja?” Tanya Brian karena sekarang dia sudah melihat sekumpulan kopi sashet dan cemilan coklat yang sama sekali tidak ada yang sehat.
“Ahh.. gapapa. Mending ini dari pada gue minum sendirian. Mba Jo kan lagi hamil.”
“Jo?” Kali ini muka Brian udah kebingungan.
“Jovanka Kalila atasan Saga juga.” Dee benar-benar malas membahas Saga.
Sudah tiga hari ini mereka tidak saling menghubungi. Lebih tepatnya Dee mendiamkan Saga karena Saga tidak bisa menolak posisi yang ditawarkan Kian. DUA TAHUN DI AUSSIE dengan posisi di bawah Kian langsung. Kenapa bukan Mahesa? Karena Jova sekarang sedang hamil dan mereka juga sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Saga akhirnya yang dimandatkan untuk mengurus cabang di Aussie.
Saga sekarang sedang di Jakarta mengurus kepindahannya yang sama sekali tidak dirundingkan terlebih dahulu dengan Dee. Dee mengetahui Saga menerima tawaran itu saja dari Kian saat pengumuman di rapat besar. Jika bisa diskalakan Dee paling kesal dengan Saga saat ini, sekarang.
Dee masih memasukan beng-beng dengan barbar karena ingatannya tentang itu.
“Dee?”
dia berhenti.
“lo bener-bener suka beng-beng?” Tanya Brian lagi sambil melihat keranjang Dee.
“E-enggak. Ini mau gue balikin.” Ucapnya salah tingkah sambil merapikan beng-beng itu kembali.
“Gue duluan yaa Bri.”
“Eh, bareng. Gue juga mau bayar.”
Dalam hatinya Dee sudah mau mengutuk sahabat pacarnya itu yang sedari tadi mengikutinya, benar-benar mengekori kemanapun Dee pergi.
“Lo bayar duluan aja. Gue ketinggalan satu.”
“Gue temenin aja.”
Dee menatap Brian datar, dari pandangannya dia benar-benar lelah diikuti teman barunya ini.
“Apa?” Tanya Brian.
“Gue mau ke bagian pembalut. Mending lo tunggu di kasir aja.” Ucap Dee.
Brian langsung salah tingkah, “Ow… Okeyy. Gue ke kasir aja.”
Dee tersenyum dan langsung ke bagian pembalut. Bukan Dee namanya kalau tidak licik apalagi hanya melepaskan diri dari Brian. Dia menaruh keranjang belanjaanya di bagian pembalut begitu saja dan keluar melalui pintu masuk. Sorry Brian…
Dia meyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sekarang dirinya sudah berada di sebuah kafe. Setelah rencananya untuk belanja digagalkan Brian akhirnya dia memilih untuk ke sebuah kafe 24 jam. Kopi dan roti bakarnya datang dia menatap kopi dan rotinya sejenak lalu kembali menyandarkan kepala. Namun tidak lama kemudian pelayan datang lagi membawakannya minuman green tea yang sama sekali tidak dia pesan.
“Saya gak pesen green tea deh mas?” Katanya sopan pada pelayan itu.
“Masnya tadi yang pesen tapi dia ke toilet dulu.”
“Mas?” Dee mulai takut. Karena setau dia, dia sendirian.
“Buat aku sayang.” Suara dari belakang pelayan itu membuat Dee kembali menyandarkan kepala pasrah tidak menyangka kalau justru dia ditemukan oleh pacarnya.
“Susah banget ketemu kamu ya. Untung tadi Brian sadar kalau itu kamu.” Saga duduk di hadapan wanita kecilnya ini.
Sebenarnya Brian sedari tadi mengikuti Dee atas perintah Saga karena dia tahu pacarnya itu akan langsung pergi kalau melihat dia datang dengan Brian. Benar saja dugaannya, tidak dengan Saga saja Dee berhasil kabur. Saga mengikuti perempuan kecil ini sampai kafe ini.
“Hmm…” Dee hanya menjawab seadanya.
“Kok cincinnya gak dipake lagi?” tanya Saga tidak melihat cincin yang biasa digunakan Dee akhir-akhir ini.
“Kesel.” Dee memejamkan matanya berusaha tidak terbawa emosi.
“Sayang… aku gak bisa nolak Kian.”
“Aku yang dari awal juga di Aussie buat ngurus semuanya. Aku juga yang ngerjain proyek itu dari awal.” Saga berusaha menjelaskan.
“I know.” Ucap Dee tanpa bantahan sedikit pun.
Saga mengernyit bingung.
“Kamu masih marah?”
“Masih.”
“Gimana biar gak marah lagi?”
“Gak tau.”
Saga mengusap mukanya kasar. Karena baru pertama kali mereka bertengkar seperti ini. Dee benar-benar tidak membuka mulutnya jika ditanya.
“Kamu pulang aja urusin pindahan kamu.” Kata Dee akhirnya sambil membuka matanya. Dia menatap lelaki di hadapannya ini. Padahal baru tiga hari saja mereka tidak bertemu tapi Dee sudah benar-benar merindukannya. Namun ia sama sekali tidak bisa memeluknya tidak bisa lagi. Dia akan pergi meninggalkan Dee.
“Aku gak bisa pindah kalau gak sama kamu. Aku udah bilang sama Kian kalau kamu juga bisa ikut aku jadi salah satu team di sana.” Suara Saga tenang namun dia benar-benar terdengar bahagia dengan rencana yang dia buat.
Dee menarik nafas dalam. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Saga merencanakan ini semua tanpa membicarakannya dengan Dee sama sekali. Dia menarik kalung dari balik hoodienya membuka kalung itu, mengeluarkan cincin yang selalu menemani kalung itu beberapa hari ini, menaruh cincin itu di depan Saga.
Saga terdiam melihat semua hal yang dilakukan Dee.
“Sorry.” Kata Dee.
Hanya satu kata itu Saga mengerti kalau baru saja Dee memutuskan janji yang mereka buat. Lama dia memandangi cincin itu dan sadar bahwa perempuan itu sudah tidak ada di hadapannya lagi. Bahkan Saga tidak ada tenaga buat mengejarnya apalagi meminta penjelasannya.
Dee menengok tapi tidak yakin dengan orang yang menyapanya.
“Brian.” Ucap lelaki yang bernama Brian, salah satu band mates-nya Saga. Dia mengulurkan tangannya.
“Oh haiii! gue hapal sama Bang Nat, Doni. Sama lo belum pernah ngobrol langsung.” Dee kaget langsung menyambut tangan yang terulur itu.
“Bang Saga apa kabar?” Tanya Brian sambil ikut mendorong troli sementara Dee memegang keranjangnya.
“Good.” Jawab Dee singkat.
“Well, gue rasa gak sebagus itu?”
“Pasti dia cerita ya.”
Brian tertawa, “hmm… gue tumben loh liat Bang Saga galau begitu.”
Dee hanya masih bisa menyengir sungkan. Dia tetap memilih cemilan yang ingin dia makan.
“Dee lo baik-baik aja?” Tanya Brian karena sekarang dia sudah melihat sekumpulan kopi sashet dan cemilan coklat yang sama sekali tidak ada yang sehat.
“Ahh.. gapapa. Mending ini dari pada gue minum sendirian. Mba Jo kan lagi hamil.”
“Jo?” Kali ini muka Brian udah kebingungan.
“Jovanka Kalila atasan Saga juga.” Dee benar-benar malas membahas Saga.
Sudah tiga hari ini mereka tidak saling menghubungi. Lebih tepatnya Dee mendiamkan Saga karena Saga tidak bisa menolak posisi yang ditawarkan Kian. DUA TAHUN DI AUSSIE dengan posisi di bawah Kian langsung. Kenapa bukan Mahesa? Karena Jova sekarang sedang hamil dan mereka juga sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Saga akhirnya yang dimandatkan untuk mengurus cabang di Aussie.
Saga sekarang sedang di Jakarta mengurus kepindahannya yang sama sekali tidak dirundingkan terlebih dahulu dengan Dee. Dee mengetahui Saga menerima tawaran itu saja dari Kian saat pengumuman di rapat besar. Jika bisa diskalakan Dee paling kesal dengan Saga saat ini, sekarang.
Dee masih memasukan beng-beng dengan barbar karena ingatannya tentang itu.
“Dee?”
dia berhenti.
“lo bener-bener suka beng-beng?” Tanya Brian lagi sambil melihat keranjang Dee.
“E-enggak. Ini mau gue balikin.” Ucapnya salah tingkah sambil merapikan beng-beng itu kembali.
“Gue duluan yaa Bri.”
“Eh, bareng. Gue juga mau bayar.”
Dalam hatinya Dee sudah mau mengutuk sahabat pacarnya itu yang sedari tadi mengikutinya, benar-benar mengekori kemanapun Dee pergi.
“Lo bayar duluan aja. Gue ketinggalan satu.”
“Gue temenin aja.”
Dee menatap Brian datar, dari pandangannya dia benar-benar lelah diikuti teman barunya ini.
“Apa?” Tanya Brian.
“Gue mau ke bagian pembalut. Mending lo tunggu di kasir aja.” Ucap Dee.
Brian langsung salah tingkah, “Ow… Okeyy. Gue ke kasir aja.”
Dee tersenyum dan langsung ke bagian pembalut. Bukan Dee namanya kalau tidak licik apalagi hanya melepaskan diri dari Brian. Dia menaruh keranjang belanjaanya di bagian pembalut begitu saja dan keluar melalui pintu masuk. Sorry Brian…
Dia meyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sekarang dirinya sudah berada di sebuah kafe. Setelah rencananya untuk belanja digagalkan Brian akhirnya dia memilih untuk ke sebuah kafe 24 jam. Kopi dan roti bakarnya datang dia menatap kopi dan rotinya sejenak lalu kembali menyandarkan kepala. Namun tidak lama kemudian pelayan datang lagi membawakannya minuman green tea yang sama sekali tidak dia pesan.
“Saya gak pesen green tea deh mas?” Katanya sopan pada pelayan itu.
“Masnya tadi yang pesen tapi dia ke toilet dulu.”
“Mas?” Dee mulai takut. Karena setau dia, dia sendirian.
“Buat aku sayang.” Suara dari belakang pelayan itu membuat Dee kembali menyandarkan kepala pasrah tidak menyangka kalau justru dia ditemukan oleh pacarnya.
“Susah banget ketemu kamu ya. Untung tadi Brian sadar kalau itu kamu.” Saga duduk di hadapan wanita kecilnya ini.
Sebenarnya Brian sedari tadi mengikuti Dee atas perintah Saga karena dia tahu pacarnya itu akan langsung pergi kalau melihat dia datang dengan Brian. Benar saja dugaannya, tidak dengan Saga saja Dee berhasil kabur. Saga mengikuti perempuan kecil ini sampai kafe ini.
“Hmm…” Dee hanya menjawab seadanya.
“Kok cincinnya gak dipake lagi?” tanya Saga tidak melihat cincin yang biasa digunakan Dee akhir-akhir ini.
“Kesel.” Dee memejamkan matanya berusaha tidak terbawa emosi.
“Sayang… aku gak bisa nolak Kian.”
“Aku yang dari awal juga di Aussie buat ngurus semuanya. Aku juga yang ngerjain proyek itu dari awal.” Saga berusaha menjelaskan.
“I know.” Ucap Dee tanpa bantahan sedikit pun.
Saga mengernyit bingung.
“Kamu masih marah?”
“Masih.”
“Gimana biar gak marah lagi?”
“Gak tau.”
Saga mengusap mukanya kasar. Karena baru pertama kali mereka bertengkar seperti ini. Dee benar-benar tidak membuka mulutnya jika ditanya.
“Kamu pulang aja urusin pindahan kamu.” Kata Dee akhirnya sambil membuka matanya. Dia menatap lelaki di hadapannya ini. Padahal baru tiga hari saja mereka tidak bertemu tapi Dee sudah benar-benar merindukannya. Namun ia sama sekali tidak bisa memeluknya tidak bisa lagi. Dia akan pergi meninggalkan Dee.
“Aku gak bisa pindah kalau gak sama kamu. Aku udah bilang sama Kian kalau kamu juga bisa ikut aku jadi salah satu team di sana.” Suara Saga tenang namun dia benar-benar terdengar bahagia dengan rencana yang dia buat.
Dee menarik nafas dalam. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Saga merencanakan ini semua tanpa membicarakannya dengan Dee sama sekali. Dia menarik kalung dari balik hoodienya membuka kalung itu, mengeluarkan cincin yang selalu menemani kalung itu beberapa hari ini, menaruh cincin itu di depan Saga.
Saga terdiam melihat semua hal yang dilakukan Dee.
“Sorry.” Kata Dee.
Hanya satu kata itu Saga mengerti kalau baru saja Dee memutuskan janji yang mereka buat. Lama dia memandangi cincin itu dan sadar bahwa perempuan itu sudah tidak ada di hadapannya lagi. Bahkan Saga tidak ada tenaga buat mengejarnya apalagi meminta penjelasannya.

0 comments: