I Record You as...

21:07 LuqyLugy 0 Comments


2/2

Sudah enam bulan sejak kejadian Dee mengembalikan cincin yang diberikan oleh Saga. Dee tidak pernah lagi menemuinya, acara perpisahan Saga di kantor saja Dee tidak hadir. Dia sengaja pulang ke Sentul agar tidak ada yang curiga. Jova tentu saja mengetahui putusnya Dee dan Saga, tidak banyak bicara. Terlebih Mahesa, selama kerjaan Dee baik-baik saja dia tidak akan banyak bertanya.

Pernikahan Mahesa dan Jova diadakan 3 bulan yang lalu juga Saga tidak dapat menghadirinya. Dee juga tidak tahu jelas. Yang dia dengar dari Jova, kalau Saga tidak bisa pulang karena cabang Aussie sedang ada masalah. Dee hanya menjawab seadanya. Beberapa kali Mahesa melihat Dee melamun atau menulis di kertas notes yang sudah diremas-remas dimasukan ke dalam kaleng pringles miliknya.

Pernah Ethan iseng untuk membukanya, Dee langsung menuliskan pada kaleng pringles itu “BERANI BUKA SIAP-SIAP KETEMU MALAIKAT MAUT.” Hingga saat ini tidak ada yang berani membuka kaleng pringles itu.

Jova memasuki apartemen adiknya itu, kehamilannya sudah memasuki bulan ke lima membuat baby bump-nya sudah terlihat. Mahesa akan menjemput di apartemen Dee setelah urusan Mahesa dengan gang 514 selesai.

“Dee… gue bawain martabak nih.” Teriak Jova memanggil Dee yang dia yakini masih berada di atas tempat tidurnya.

Jova melihat beberapa berkas di atas meja kerja Dee, awalnya dia tidak berani melihat namun karena kertas tersebut bukan seperti kertas biasa, akhirnya dia penasaran.

Surat untuk Saga.

Mas Saga kalau ada di Jakarta pasti sekarang lagi nemenin Dee sedih bareng. Mau ikutan bawa Dee pergi kemana aja. Aku hari ini stress banget Mas, kerjaan makin banyak, Mba Jova lagi hamil, Bang Mahesa jadi kebagi deh pikirannya, teman-teman aku yang pernah aku ceritain pelan-pelan hilang. Mas pernah bilang buat gapapa untuk nangis, tapi Dee bener-bener gak bisa nangis sendirian. Mas pulang ya?

Jova membaca kertas itu tidak percaya. Dee sosok yang selama ini dia pikir benar-benar tidak peduli dengan Saga ternyata masih tidak bisa move on.

“Mba?” Suara serak Dee di belakang Jova.

Dee melihat Jova memegang kertas-kertas itu sambil mengelus-ngelus perutnya. Dia tampak terkejut sejenak, cepat atau lambat mbanya juga akan tahu perasaannya.

“Dee.. Kalo lo mau-“

Nope. Mba diam. Jangan sebut namanya. Gue tau kalau dia sibuk. Cukup gue tau itu aja.” Serak, Jova sadar bahwa adik kecilnya ini sedang menahan tangis.

“Gue cuman kangen aja sih Mba, siapa lagi yang bisa ngerti gue semengerti Mas…. Saga.” Air matanya benar-benar menetes sekarang.

“Gue cuman bisa bilang jujur sama dia lewat kertas-kertas itu. Gue sedikit merasa baik-baik aja Mba dengan bercerita sama sosok dia.” Dee tersenyum dan menghapus air mata yang sedari tadi keluar membasahi pipi.

Jova memeluk Dee tapi pelukan mereka tidak benar-benar bisa seperti berpelukan karena perut Jova.

“Gagal sweet deh gue.” Kata Jova memandangi perutnya.

Dee hanya menatap Jova malas lalu ke dapur mengambil martabak.

“Orgil, beli martabak siang bolong gini.” Kata Dee tetapi tetap mengunyah martabak itu.

“Ini namanya ngidam, gih sana coba hamil.”

Kotak tisu melayang ke arah Jova, untung saja refleks ibu hamil itu cepat sehingga tidak mengenai kepalanya.

“Dee Suraiya! gue lagi hamil!”

“Yaa maap.” Ucapnya cuek lalu mengambil tempat di sebelah Jova.

“Mau gue kasi suratnya ke Saga?” Jova menatap adiknya yang masih mengunyah martabak itu.

“Engga.” Dee balik menatap Mbanya itu tersenyum.

🐻

Dua bulan berlalu sejak kejadian surat itu. Bahkan sekarang setiap Dee bertemu Jova atau Mahesa mereka berdua tidak akan jauh-jauh bertanya menganai surat itu. Dee hanya akan menjawab kakak-kakaknya dengan tatapan tajam untuk menyuruh mereka diam.

Jova saat ini sudah tidak bisa bekerja lagi di kantor karena hamil besar, benar-benar hamil besar. Terlebih saat ini Mahesa juga sudah mendapatkan promosi untuk menjadi salah satu dewan deraksi bersama Kian juga. Otomatis yang dipegang oleh Mahesa lebih banyak, sedangkan dengan kosongnya posisi Mahesa mau tidak mau diisi oleh Dee. Untuk kepala tim kreatif diisi oleh Ale. Ethan juga sekarang lebih cepat dibandingkan dulu-dulu, mungkin sebentar lagi Ethan juga akan mendapatkan promosi.

Kian mengadakan rapat kepada seluru tim inti karena mereka akan ikut ambil bagian untuk project besar skala internasional.

“Selamat buat Kivandra yang berhasil menangin tender karena kita dapat mengurus project musik di Australia.” Ucap Mahesa bangga, yang mendapat tepuk tangan meriah dari orang-orang yang berada pada ruang rapat. Kivandra tersenyum bangga, ini merupakan salah satu pencapaian besar.

“Karena ini project gabungan juga. Jadi bakal sama akan ada tim yang dikirim ke Aussie untuk beberapa minggu, mungkin juga akan bolak balik sampai nanti hari H acara.” Mahesa melanjutkan namun lirikan matanya pelan-pelan mengarah ke kepala tim project yang saat ini dipegang oleh Dee.

Mahesa memberikan kode kepada Kian untuk mengambil alih yang akan mereka sampaikan, “Gue bakal bentuk tim empat orang buat ngurus semua yang di sana. Kepala tim kreatif sama project wajib ikut. Duanya bisa dari teknisi lapangan.”

Dee akan tahu bahwa mereka akan mengirimnya, dan dia sadar kalau dia akan bertemu Saga baik cepat atau lambat.

“Dee sama Ale siap?” Tanya Kian melihat keduanya. Ale menganggukan kepalanya, karena di tim kreatif akan dipegang juga oleh Olive sementara Project pasti akan dipegang oleh Ethan.

“Kalau gue bahaya sih Bang. Riskan, paling engga salah satu dari kreatif atau project kepalanya ada di Indonesia karena project yang kita pegang di sini juga gak main-main.” Dee mengatakannya lugas.

“Kreatif dah beres semua konsepnya?” Tanya Kian.

“Sudah, ada beberapa yang revisi. Rapat bisa digantiin sama Olive dan Sophia.” Benar, Sophia si anak magang itu saat ini bekerja menjadi salah satu bagian dari tim kreatif. Dee juga sama sekali tidak ada masalah dengan perempuan itu. Walaupun memang Sophia masih sangat canggung.

“Oke kalau gitu, gue hold sementara kita gak pegang project yang gede-gede dulu.” Kata Kian.

“Project berarti aman kan? Ethan bisa monitoring?” Giliran Mahesa yang bertanya pada Dee untuk memastikan.

Dee menghela nafasnya. Dia tahu kalau tadi dia bersikap tidak profesional, dia menghindar padahal sadar kalau Ethan lebih dari sekedar mampu menangani project yang ada di sini.

Dia hanya mampu memberikan anggukan atas pertanyaan Mahesa.

“Oke kalau begitu, sekitar tiga hari lagi kalian berangkat buat make sure konsep untuk dua minggu ya.” Ucap Kian lalu mengakhiri rapat itu.

🐻

Dee benar-benar menginjakan kakinya di bandara dan sudah dijemput oleh orang suruhan kantor. Dee tersenyum, apa yang harus dia harapin? Saga yang menjemput mereka? Gak mungkin. Saga orang penting perusahaan, gak bakal mengurusi hal remeh temeh begini.

“Hallo gue Ale, Ray sama Rey, dan yang perempuan sendiri ini Dee.” Ale memperkenalkan rombongan pada yang menjemput mereka.

“Oh Mba Dee yang ini? Cantik ya.” Dee hanya tersenyum mendengar pujian itu. “Saya Mandala. Bisa dipanggil Dala atau Mada, Anda juga bisa. Senyaman Mas sama Mba aja.”

“Kita mau kemana nih Da? Langsung ke kantor?” Tanya Dee yang kopernya langsung dibawakan Mada.

“Kantor dulu Mba, katanya ada yang mau dibahas penting.” Sahut Mada sambil menggeret koper Dee yang cukup besar itu.

“Gue aja Mada. Lo tunjukin jalan aja.” Kata Dee mengambil alih kembali kopernya. Awalnya Mada tidak enak namun aura disekitar Dee seperti tidak bisa dibantah membuat lelaki itu akhirnya berjalan mendahului keempatnya.

“Mba Dee galak yaa?” Tanya Rey pada Ale

“Enggak. Emang orangnya begitu.” Jawab Ale tersenyum maklum bagi orang-orang yang baru melihat Dee pasti akan merasakan sosoknya yang terkadang mengintimidasi itu.

🐻

Mereka sampai di kantor minimalis langsung dibawa Mada ke ruang meeting. Semua orang menyambut tim Indonesia dengan ramah bahkan ada beberapa karyawan Indonesia yang sedang berkuliah di sana menjadi intern. Terasa seperti bukan di Australia batin Dee.

Tidak lama mereka duduk, tim dari Australia datang dengan dipimpin oleh Saga dan tiga orang lainnya, satu laki-laki dan dua lagi perempuan.

“Mas Saga!” Teriak Ale senang sekali melihat partner dia dahulu.

“Gila lo udah keren aja sekarang Mas.” Puji Ale lagi. Yang dibalas tawa oleh Saga.

Dee melihat itu benar-benar sangat merindukan laki-laki yang ada di depannya ini. Kalau saja mereka ada berdua di ruangan ini mungkin air mata Dee sudah benar-benar akan keluar. Saga melihatnya, dia tersenyum sendu menatap mantan kekasih.

“Mas, jangan ditatap doang Dee-nya di sapa.” Ucap Ale lagi yang melihat keduanya hanya saling tatap dan berbalas senyum.

“Bacot.” Bisik Dee pada sebelah kanan.

“Gue Jackie.” laki-laki blonde di samping Saga mengulurkan tangan. Tubuhnya yang tegap serta garis muka yang tegas membuat beberapa orang memperhatikan mereka.

“Hai I’m Hana!” salah seorang perempuan dengan cardigan pink memeluk ipadnya tersenyum ceria memperkenalkan diri.

Sementara perempuan yang rambutnya brunette dan lebih sedikit kalem dengan wajah yang juga tirus khas bule memperkenalkan dirinya dengan nama Anne.

“Gue Dee.” Jawab Dee pada semua dengan tersenyum berusaha ramah.

“Hi I’m Ray. and this is Rey.” Ray memperkenalkan dirinya dan lelaki yang disampingnya tidak kalah gembira.

“Kalian kembar?” Tanya Jack pada Ray dan Rey.

“Enggak.” jawab Rey yang menggunakan kaca mata dan lebih pendiam itu. Sepertinya karakter tim Indo dan Aussie mirip.

“Santai aja yaaa. Terutama lo Dee, kalo butuh apa-apa bisa ke gue, Jackie or Jack.”

Dee hanya tersenyum dan mengangguk. Sementara Ale sudah menahan tawa. Entah, mungkin Jack ini tidak tahu hubungan Dee dan Saga seperti apa.

“Jangan percaya Dee, Pak Jack itu buaya.” Ucap Hana

“Waw. No thanks. Gue gak bisa sama buaya dan bapak-bapak.” Kata Dee langsung menolak Jack.

Jack tidak terima dengan perkataan Dee langsung membantah,

“Gue gak Bapak-bapak.”

“Yes you are. She called you ‘Pak’” Dee tersenyum, namun bagi yang sudah mengenal Dee senyuman itu adalah senyuman usil.

Seisi ruangan itu tertawa. Jack menatap Hana dan Anne.

“From now, just call me Jack without Pak”

Hana langsung memasang gaya hormat tanda dia mengerti sedangkan Anne hanya mengangguk tersenyum.

Meeting awal pun dimulai, mereka sudah beberapa kali membahas dan membongkar konsep untuk tema yang diinginkan oleh klien. Untuk hal ini Jack dan Dee lebih banyak berdebat karena mereka belum menemukan sistem yang pas untuk mengkomunikasikan konsep ini. Berbanding terbalik dengan Ale dan Saga yang sama-sama mengurus kreatif mereka lebih banyak berdiskusi dari pada berdebat. Sedangkan Rey, Ray, Hanna dan Anne berusaha membuat design yang dapat mereka lakukan dan mencatat beberapa hasil meeting.

Beberapa kali bolak balik Dee mengisi ulang gelasnya dengan kopi, bahkan tanpa menyentuh makanan yang disediakan. Namun Jack masih belum mau mengalah sama konsep yang diajukan Dee, sehingga mereka belum bisa beristirahat. Terlihat muka Ray dan Rey juga sudah cukup lelah. Siapa yang tidak lelah baru saja landing sudah harus bekerja? Oh ada, tuan putri Dee Suraiya, sama sekali tidak terlihat lelah masih terus berdiskusi konsep oleh Jack.

“Gue capek Dee.” kata Ale menyerah mendengar konsep-konsep dan jalan keluar yang dikeluarkan oleh Dee maupun Jack

“Sorry Le, lo bisa balik duluan.” Kata Dee masih terus menatap layar ipadnya dan mencoba mencari jalan keluar masalahnya dan Jack.

“Kagak bisa balik kan barang lo masih di mobil kantor bocil.” protes Ale.

Dee menghentikan kegiatannya dan memandangi Ale, ternyata kali ini bukan hanya Ale yang memandangi dia melainkan semua mata melihat ke arahnya.

“Fine. Kita istirahat.” Kata Dee menutup ipadnya.

“Gila yaa Mba Dee kalo gak ada yang bilang capek bisa sampe besok pagi.” Ucap Rey pada Hana yang dibalas anggukan sepakat.

Saga yang mendengar itu menatap Dee yang sedang memasuki barang-barang ke dalam tasnya. Terlihat mukanya yang semakin pucat karena polesan make-up yang sudah memudar juga badan yang terlihat makin kurus.

Apa gak dikasi makan sama Jova Mahesa? Batin Saga.

“Dee nanti plan-“ Belum sempat Jack menanyakan urusan pekerjaan langsung dihentikan Saga,

“Jack laporan keuangan tolong send ke gue.” Kata Saga membuat Jack menatap aneh. Sejak kapan dia mempunyai laporan keuangan.

“Mas duluan yaa badan gue remuk banget.” Kata Ale pamit pada Saga namun kata-kata itu ditujukan pada orang-orang seisi ruangan.

Dee melewati Saga dan berkata, “Duluan yaaa.” sambil tersenyum.

Setelah mereka berempat menghilang dari padangan Jack menyenggol Saga, “Gue baru dapet nih laporannya jadi gue send ke lo?”

Jack tahu kalau ini hanya akal-akalan Saga saja agar dia tidak jadi membahas kerjaan pada Dee. Saga menatap Jack sambil mengangguk-angguk kecil.

“So?” Tanya Jack.

Saga berbalik untuk kembali ke ruangannya.

“Jadi gimana?” tanya Hana ke Jack.

“Kayaknya dia orangnya.” Kata Jack membuat Hana dan Anne terdiam menatap si bos.

🐻

Ternyata mereka mendapatkan sebuah apartemen studio bukan di hotel. Dee mengangguk kecil melihat kamarnya yang langsung ke arah jalan kota tempatnya tinggal untuk dua minggu kedepan. Ada dapur kecil serta satu ruangan kamar dan kamar mandi. Cukup untuk orang yang tinggal di sini hanya dua minggu. Terdapat meja kecil untuk dia bekerja.

Dee mulai membongkar barang-barang lalu sadar kalau perlengakapan mandi tidak dia bawa. Akhirnya dengan masih memakai setelan kantor dia memutuskan untuk ke bawah membeli beberapa barang mandi. Saat keluar apartemennya dia berpapasan dengan Saga yang melewati lorong apartemennya. Dee terdiam berpikir kalau dia lanjut jalan tidak mungkin berpura-pura tidak melihat Saga. Namun kalau dia kembali ke apartemennya Saga akan menyadari unit apartemen yang ditempati Dee. Tidak sempat Dee memutuskan Saga terlebih dulu menyapanya,

“Dee? Kenapa? Kok diem?”

“Ah… ituu lupa udah bawa dompet apa belum.” Dia merogoh-rogoh saku blazer dan tentu saja dia menemukan dompetnya itu.

“Kirain. Mau kemana?”

“Ke bawah Mas, mau beli perlengkapan mandi, gue gak bawa barang-barang mandi.”

Saga terdiam. Dee kembali menggunakan gue. Dee juga tidak menatapnya lama saat berbicara. Berubah.

“Mas temenin ya?” Tanya Saga yang sebenarnya sedikit memaksa.

Dee terdiam, kemudian tersenyum ramah. Ayolah Dee bukan kali ini aja lo berteman sama mantan ucapnya pada diri sendiri. Tapi mantan yang ini masih sayang banget, katanya lagi dalam hati. Batinnya sendiri berdebat.

“Dee?” Saga menyadarkan Dee dari perang batinnya.

“Eh, Mas ada mobil gak? Kalo boleh anterin ke yang bisa beli barang-barang aja gimana?”

Saga sama sekali tidak menyangka dengan permintaan gadis kecil dihadapannya ini, karena Dee memang jarang sekali meminta. Pada Jova juga dia jarang sekali meminta tolong untuk hal-hal sepele.

“Iya ayo Mas anterin.” Senyum Saga sangat cerah, Dee tersenyum dalam hatinya hangat. Perasaan yang selama ini dia rindukan seolah kembali.

🐻

Dee masuk ke dalam ruangan meeting, karena mereka hanya dua minggu di sini menjadikan mereka tidak memiliki ruangan dan menggunakan ruang meeting sebagai tempat mereka bekerja.

“Gue semalem ngetok kamar lo, lo gak di apart?” Tanya Ale.

Dijawab sebuah gumaman oleh Dee.

“Kemana lo?” Ale bertanya lagi.

“Keluar beli peralatan mandi Bapak Ale. Puas? Kenapasih? Gue harus laporan banget sama lo?”

Ray dan Rey melihat perdebatan itu tertawa kecil, semalam tim laki-laki ingin makan malam dan mengajak Dee. Mereka terpaksa menunggu sejam untuk perempuan itu namun tak kunjung datang, makanya Ale bertanya seperti itu.

“Heh kita nungguin lo semalem sampe sejam buat dinner.”

“Ya elo gak bilang!”

“Makanya hp lo bawa iblis.”

Dee menatap partnernya itu sekarang dengan penuh dendam.

“Kenapa nih?” Tanya Jack memasuki ruangan itu.

“Biasa urusan rumah tangga Jack” Ucap Rey.

“Rumah tangga?” tanya Saga yang juga baru datang di belakang Jack.

“Semalem iblis kecil ini gak bisa dihubungin kita mau dinner.” Ucap Ale sambil menyentil kening Dee.

Dee mengambil tangan itu sambil menatap galak ‘Berani-beraninya lo sama gue.’

“Dinner? Berdua doang?” tanya Saga lagi datar namun sangat berbeda dengan Saga biasanya.

“Sama gue Ray juga Mas.” Rey menjawab untuk menghindari salah paham. Dia mengetahuinya dari nada bicara Saga yang tiba-tiba berubah.

“Ohh semalem gue sama Dee, Le. Dia butuh peralatan mandi.” Kata Saga tenang. Dee menghela nafasnya dalam.

Ale hanya mengangguk paham dan sudah tersenyum senang karena dia mendapat bahan gosip dengan Jova makan siang nanti.

“Jack bisa dimulai aja yang kemarin?” Tanya Dee menghentikan percakapan yang sama sekali tidak penting ini.

“Sure.” Ucap Jack senang sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah Saga.

Saga tersenyum dan membalas Jack dengan tatapan ‘Shut up’

🐻

Seminggu terakhir ini seperti itu kegiatan Dee lebih banyak kantor dan apartemen untuk membahas project, agak jarang bertemu Saga. Saga akan lebih banyak berdiskusi dengan Ale di ruangannya. Sementara sisanya sudah menyebar ke lapangan.

Dia berbaring di kasur pukul dua belas malam tetapi dia tidak bisa istirahat. Dia memutuskan untuk menelfon Jova.

“Mba lo kok jahat banget sama gue gak pernah telfon?”

“Lah kan lo lagi progres CLBK”

“Ih siapa yang bilang? nyesel banget gue nelfon lo kalo ujung-ujungnya balik ngomongin Saga.”

“Hahahahaha. Yaa engga gue bahas deh. Mahesa geseran gak usah peluk-peluk.”

Dee tahu kalau sepertinya dia sudah salah waktu menelfon Jova.

“Yaudah deh Mba lo lagi ngasi jatah ke Bang Mahe yaa. Gue tutup yaa?”

“Bentar heh. Ini si Mahesa anaknya mau dua masih aja suka peluk-peluk gue, pengappp. Kagak ada mana boleh ngasi jatah. Di sana kan jam 12 lo belum istirahat Dee?” terdengar nada khawatir Jova.

“Lagi dapet Mba biasa perut gue gak enak mau dibawa tidur susah. Makanya nelfon lo.”

“Istirahat minum obat aja kalo makin sakit ya adek.”

“Jijik gue! gue tutup!”

Dee benar-benar langsung menutup telfon itu sebelum Jova memanggilnya dengan sebutan adek lagi. Dia terdiam cukup lama meredakan perutnya yang mulai nyeri.

Baru saja dia akan mengambil beberapa obat dari nakas tempat tidurnya bel apartemennya berbunyi. Kalau Ale dia sudah akan sangat marah pada Jova. Karena pasti dia akan menghubungi Ale untuk melihatnya. Dee merasa tidak enak dengan Ale, ini benar-benar hanya hal remeh.

Sosok Saga masih setengah mengantuk menunggu si empunya apartemen membuka pintu. Jova menelfon panik mengatakan kalau Dee sakit. Buru-buru dia bangun dari tempat tidur dan menuju apartemen Dee yang hanya beda beberapa unit saja.

“Loh Mas Saga?”

“Kamu sakit?” Tanya Saga sambil meegang kepala dan bahu Dee seolah mencari apa yang sakit dari dirinya.

“Aku cuman lagi dapet hari pertama aja. Yaampun Jovanka Kalila.” Dee benar-benar tidak habis pikir oleh Jova yang malah menghubungi Saga.

Saga dengan refleks memeluknya, “Ya Tuhan aku pikir kamu kenapa-napa Jova suaranya panik banget.”

Dee terdiam di tempat, salah tingkah. Dia benar-benar tidak siap dengan pelukan Saga yang tiba-tiba.

“M-mas.. aku gak papa.”

Saga melepaskannya dan menatap perempuan yang ada di depanya, “Bener? Mau ditemenin?”

Dee terdiam melihat sosok yang masih panik, dia kangen Saga. Dia benar-benar merindukan sosok laki-laki yang berada di hadapannya ini, dia merindukan pelukan hangat yang menenangkannya lebih dari obat apapun, air matanya jatuh.

“Dee? Ya Tuhan, Sayang?” Saga kembali mendekap Dee.

Dee semakin terisak dalam dada bidang itu, “K-kangen Mas.” Ucap Dee terbata dan memeluk Saga erat sekali.

“Maaf Sayang.. Mas minta maaf.” Saga terus menerus mengulang permintaan maaf itu pada Dee.

🐻

Saat ini Dee dan Saga sudah berada di sofa apartemen sementara Dee menyandarkan kepalanya pada dada bidang Saga. Sedangkan Saga duduk sambil memegang bahu perempuannya.

“Mau pindah ke kamar aja?” Tanya Saga karena posisi mereka yang bisa dibilang agak kurang nyaman.

“Engga ntar kamu apa-apain aku.” Kata Dee membuat Saga tertawa lepas.

“Gimana mau ngapa-ngapain kan kamu lagi hari pertama?”

“Oiya, bener juga.” Dee menatap Saga.

Dikecupnya bibir Saga secepat kilat, lalu bangun dari tempat ternyamannya.

“Kok sebentar?”

“Loh Mas kok ngelunjak?” Sewot Dee yang berdiri lalu berjalan ke arah dapurnya.

“Sayang mau ngapain?” Tanya Saga.

“Mau masak air, mau aku masukin ke botol biar nyerinya mendingan aku mau tidur Mas.”

Saga beranjak dari tempatnya, “Biar aku aja.”

“Mas balik aja gih, gapapa ini biar aku aja. Kasian udah jam segini besok juga Mas masih harus ngurus kerjaan kan?”

Sangat Dee sekali tidak bisa memanggil siapa-siapa dan lebih suka untuk melakukan semua sendiri.

“Mas aja yaa.” Peluk Saga dari belakang membujuk perempuannya agar kembali ke kamar untuk beristirahat.

“Gapapa?” Tanya perempuan kecil itu berbalik memeluk Saga.

“Iyaa gapapa sayang.” Balas Saga mengelus perempuan kecil itu.

Dee menatap Saga mencium pipinya, “Makasih Mas sayang. Dee minta tolong yaa dibawain ke kamar.”

Saga mengangguk lalu membiarkan Dee menuju kamarnya.

Dia tersenyum, walau mereka sudah kembali seperti biasa namun sepertinya jika untuk kembali seperti dulu akan banyak hal yang harus dibicarakan. Senyum itu perlahan memudar.

🐻

Ale mengetuk pintu kamar Dee dengan kencang karena sedari tadi dia membunyikan bell si pemilik apartemen belum juga membukakan dia pintu. Ale sudah akan menggedor pintu apartemen itu lagi ketika seseorang membukanya,

“Kenapa Le?” Tanya Saga khas baru bangun tidur.

Ale kaget dan langsung melihat nomer apartemen itu, benar 103 unit apartemen Dee.

“Mas Saga?” Tanya Ale.

“Iya kenapa lo gedor-gedor?”

“Eh maaf mas ganggu yaaa, gue pikir apartemen Dee, mau jemput dia ke kantor.” Ale clueless.

“Ohh.. nanti dia berangkat bareng gue aja. Anaknya masih tidur.”

Ale terdiam, mencerna semua perkataan Saga yang diucapkannya sangat santai.

“Mas lo balikan sama Dee?” Tanya Ale lagi tanpa basa basi sama sekali.

Saga tersenyum pada Ale penuh arti.

“Asik makan-makan yaa Mas?”

“Iya nanti gue teraktir. Gih sana lo ke kantor.” Ucap Saga, Ale sangat senang dan akan melaporkannya langsung pada Jova.

“Oke siap Pak bos. Jangan hamil duluan yaa Dee.” Teriak Ale langsung kabur dari depan apartemen itu.

Saga hanya tertawa kembali masuk menghampiri tubuh kecil yang sama sekali tidak terusik dengan kelakuan Ale. Diciuminya pipi tirus itu agar bangun.

Dee mengeliat mengambil gulingnya untuk menutup sebagian mukanya agar tidak kembali diganggu.

“Dee bangun.” Saga mengambil pelan guling itu tetapi Dee sama sekali tidak mau melepaskannya.

“Aku gak masuk kantor aja ya mas?” Ucap Dee malas, tapi sepertinya Saga salah menangkapnya.

“Kenapa? Masih sakit? Mau ke dokter aja? Mas juga gak masuk aja temenin kamu ke dokter ya?”

Dee akhirnya bangun dari tidurnya menatap Saga amat datar, males menjelaskannya. Dia beranjak dari tempat tidur menuju dapur.

“Sayaaanggg?” Teriak Saga meminta penjelasan.

Dee mengoleskan roti dengan mentega lalu diberikan meses untuk dibakarnya. Dia menengok ke arah Saga yang sedang menatapnya, “Mas mau apa?”

“Kamu.”

“Masih pagi ah… buruan mau apa? Pake meses apa keju sayang?”

“Aku keju aja deh, nanti kalo mau coklat minta kamu aja.”

Dee mengambil keju dan melakukan kegiatan rutin paginya. Sementara Saga hanya memperhatikan Dee yang sibuk di depan teflon membolak-balik roti bakar itu. Sesekali dilihat Dee memejamkan mata, terlihat sekali kalau dia kurang tidur.

Semalam beberapa kali Dee terbangun karena nyeri dan baru agak membaik pagi tadi. Saga juga ikut terbangun tetapi dia hanya sekedar terbangun dan memeluk Dee agar merasa lebih baik lalu dia ketiduran lagi.

“Aku aja yang bakar rotinya ya?” Saga mengambil alih kompor dan teflon, Dee mengangguk.

Dee beranjak dari situ menuju sofa merebahkan dirinya lalu kembali ketiduran.

“Dee udah nih rotinya mau di meja apa di sini aja?”

Saga sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Ditengoknya perempuan itu sedang meringkuk sedikit tidak nyaman karena sofanya tidak lebih panjang dari tubuhnya. Nafasnya teratur menandakan dia tertidur sangat nyenyak. Saga tersenyum, sudah berapa lama rasanya dia tidak pernah menatap Dee tertidur dengan tenang.

Saga ke kamar Dee untuk mengambil hpnya lalu menghubungi Jack,

“Yes Boss?” Sahut Jack.

“Dee datengnya agak telat ya.”

“Dee?” Jack mengulang nama itu.

“Iya, Dee.”

“Oke. Why?”

“Masih tidur anaknya.” Saga memberikan alasan sejujurnya.

“Are you with her?” Tanya Jack penuh curiga.

“Iya.”

“Ga? Lo ngehubungin gue sendiri ngeizinin anaknya telat cuman gara-gara tidur? Really? Saga Bramantya?” Jack saat ini sudah akan tertawa karena yang biasanya paling rasional di kantor adalah Saga, sementara ini sama sekali bukan Saga.

Saga terdiam, berpikir cukup lama.

“Hello? Ga?”

“In case you need her buat urusan kerjaan dan buru-buru jadi gue bilang ke lo.”

“Sebenarnya ada beberapa Ga, tapi it’s okay. Semalem aja dia baru balik setengah sebelas kayaknya.” Ucap Jack.

Saga menghela nafasnya panjang tidak heran seorang Dee Suraiya.

“Lo telat juga?” Tanya Jack.

Saga terdiam menatap perempuan yang sedang tertidur itu sejenak, lalu bangun.

“Telat sejam.”

“Oke then.”

Telfon dimatikan. Saga mengambil roti sarapannya lalu bergegas balik menuju apartemennya.

🐻

Dee terbangun pukul sebelas, dia benar-benar tidur kelelahan. Dia meregangkan sejenak tubuhnya, pegal. Tidur di sofa benar-benar membuat tubuhnya sedikit kaku. Dia terdiam sejenak mencerna kejadian semalam, dirinya dan Saga yang sudah berbaikan. Roti yang ada di atas meja makan yang tadi pagi mereka siapkan juga masih ada. Dia tersenyum.

Dee melihat pesan di hpnya

Dari Saga,
Sayang sebelum ke kantor rotinya dimakan.

Dari Jova,
Gue denger-denger ada yang balikan.
Lo utang cerita!

Dari Jack,
Good morning sunshine, meeting after lunch. Lo udah bangunkan ya? Atau perlu gue undur lagi?

Dee membalas pesan Jack kalau tidak perlu memundurkan meeting mereka lagi, karena dia akan segera ke kantor.

Dia tidak membalas pesan Saga maupun Jova dan lebih memilih untuk menghabiskan rotinya lalu mandi dan bersiap, dia bersyukur kembali bersama Saga entah itu untuk sementara atau mungkin langkah yang nantinya akan mereka ambil ke depannya.

🐻

Dee hanya memiliki waktu dua hari lagi di Aussie dan harus kembali ke Indonesia. Sejak pagi itu Dee dan Saga hanya bertemu untuk makan siang bersama itu juga tidak pernah berdua pasti bersama yang lainnya.

Jack dan Dee benar-benar sibuk membahas project bersama klien maupun vendor dan tim yang lainnya. Jam sudah pukul satu pagi tapi Dee masih berada di meja kantor dengan laptop dan ipadnya secara bergantian dia lihat untuk dicek file revisinya.

Suasana kantor tentu saja sudah sangat sepi, mungkin hanya ada dia dan satpam yang berjaga di bawah, namun dia tidak terlalu peduli. Karena hanya tinggal besok dia memiliki waktu untuk menyelesaikannya sementara ada beberapa hal lagi yang perlu diselesaikan. Jack sudah balik. Tadi dia bertemu klien dan langsung pulang. Jadilah tinggal Dee seorang diri mengurusi printilan-printilan dan file revisi.

Telfonnya berbunyi,

“Sayang dimana?” Saga menelfonnya.

Dee sempat bimbang akan bilang di kantor, karena pasti detik itu Saga akan segera menyusulnya.

“Kok kamu jam segini tumben belum tidur?” Daripada menjawab Dee berusaha mengalihkan dengan pertanyaan.

“Aku baru kelar ketemu klien sama Jack. Jadi kamu dimana?” Tanya Saga lagi.

“Apartemen?” Dee terpaksa berbohong namun dari nadanya saja dia sudah tidak yakin dan sebentar lagi akan ketahuan.

“Dee? Aku di depan apartemen kamu.”

Benar saja, “Sorry hehehe aku di kantor.”

“Tunggu.”

Hanya satu kata itu saja Dee sudah tahu bahwa sebentar lagi Saga pasti akan menyusulnya. Dia segera membereskan berkas dan juga laptopnya. Kalau Saga melihatnya bisa dipastikan dia akan melihat sosok Saga yang diam dan akan susah dibujuk. Setelah selesai dia memutuskan untuk tetap membuka ipadnya dan membaca file dan merevisi beberapa berkas.

Suara ketukan kaca dan sosok laki-laki dengan sweater hitam menghampirinya. Dee tersenyum membawa tasnya.

“Aku aja.” Kata Saga yang langsung mengambil alih tas itu dan mengambil ipad Dee untuk dimasukan ke dalam tasnya. Dee hanya bisa pasrah, tidak berani melawan juga.

“Makasih sayangnya Dee paling hebat, paling super.” Diciumnya pipi Saga dan menggandeng tangannya.

“Bisaan emang kamu tuh yaaa.” Saga mencubit hidung Dee. Dee balas dengan sebuah senyuman.

Sampai apartemen Saga membiarkan Dee untuk membersihkan dirinya sementara dia membuatkan Dee susu coklat hangat.

“Susunya di atas meja dapur yaa Sayang.” Ucap Saga saat Dee masuk ke kamar dari kamar mandi menggunakan bathrobe.

“Makasih.” Dee menicum singkat bibir Saga, mengambil pakaiannya lalu kembali ke kamar mandi untuk berpakaian.

Saga tersenyum saat Dee masuk kembali sudah dengan berpakaian lengkap.

“Udah? Ayo bobok.” Ucap Saga, dia memeluk Dee erat dan langsung terlelap.

Dee amat sangat bersyukur karena Saga bisa dengan cepat tidur, berbanding terbalik dengan dirinya yang terkadang membutuhkan waktu lama untuk benar-benar bisa tidur.

Pelan-pelan diangkatnya lengan yang memeluknya erat dia menuju meja kerjanya yang ada di luar kamar memulai kembali untuk kerja saat tertunda tadi. Sejujurnya dia amat sangat lelah tetapi pekerjaanya ini harus benar-benar selesai besok agar sebelum keberangkatannya kembali dia masih memiliki waktu untuk menikmati kota ini. Dia ingin sekali jalan-jalan.

Jam lima pagi seluruh pekerjaannya selesai hanya memastikan dengan Jack bahwa semua sesuai dengan berkas maka dia siap kembali ke Indonesia. Hari ini dia hanya akan meeting jam 8 dengan Jack lalu siangnya dia sudah mempunyai waktu luang. Dia melihat sekeliling, karena tidak mungkin tidur akan berbahaya bisa-bisa dia akan telat untuk meeting, akhirnya dia memutuskan ke kamar melihat Saga tidur.

Muka tenang, dan nafas yang teratur masih sama seperti Dee tinggalkan sama sekali tidak berubah. Salah satu hal yang paling Dee suka adalah kalau tidur Saga tidak berantakan sama seperti dirinya. Dee tersenyum memandangi lelaki yang sangat berarti bagi hidupnya. Disentuh kedua mata yang tertutup rapat dimainkan sejenak bulu mata panjang, lalu melanjutkan perjalanan tangannya menuju hidung Saga yang mancung itu. Dee sangat suka melihat sisi samping Saga. Tiba di bibirnya tangan Dee digenggam oleh Saga.

“Eh?” Kaget Dee.

“Udah ngeliatinnya?” Saga membuka matanya tersenyum.

“Good morning cantiknya Saga Bramantya.” Saga tersenyum lalu mencium bibir Dee pelan namun lama-lama menjadi sebuah lumatan lembut.

“Mas masih pagi.” Ucap Dee malu.

Dikecup lagi bibir itu, “gak ada yang bilang malem juga.”

Saga beranjak dari tempat tidur.

“Mas mau balik ke apartemen Mas?” Tanya Dee.

“Iyaa. Mau dibawain apa dari apart?”

Dee menopang dagu melihat ke arah tubuh Saga kali ini. Saga tahu kalau perempuan ini sedang menggodanya.

“Hmm.. mau mandi bareng?” Saga melempar pertanyaan kepada Dee.

Dee terawa lalu memeluk Saga, “Mau gendong.” Katanya.

Saga menggendong Dee benar-benar seperti bayi sekarang. Dee menaruh kepalanya di antara ceruk leher dan bahu Saga. Lalu mereka keluar dari kamar itu menuju sofa.

Saga menurunkan kekasihnya hati-hati, lalu melihat meja itu penuh berkas dan laptop yang terbuka.

“Bilang sama aku kamu kerja sampe jam berapa?”

Yang hanya mendapat cengiran oleh Dee.

“Bandel yaa kamu, kapan istirahatnya”

“Tadi kan pas Mas gendong batre aku keisi seratus persen.”

Saga tidak mampu marah lama-lama dengan tingkah perempuan ini kalau sudah begini.

“Udah selesai?”

“Udah tinggal meeting sama Jack jam 8 mungkin siang udah beres semuanya. Jadi aku bisa istirahat, besok bisa kosong.” Ucapnya gembira.

Saga ikut tersenyum, “mau apa emang kenapa buru-buru?”

“Kamu mau nemenin?” Tanya Dee antusias.

“Kalo ngeliat progres Ale hari ini mungkin aku bisa nemenin.”

“Yaudah make sure kalo hari ini bisa beres sama Ale yaa.”

Saga tersenyum dan mengangguk.

🐻

Beruntung Saga bekerja dengan Ale sehingga pekerjaan bisa selesai dan dia bisa menepati janjinya pada Dee Suraiya.

Seseorang memencet bell apartemennya saat dia hendak keluar untuk menjemput Dee.

“Yaa?” Saga membuka pintu dan melihat perempuan dengan blazer coklat dan celana kain serta dalaman baju berwarna putih membawa sebuah bouque tulip putih.

“Atas nama Saga Bramantya?” Tanya Dee seolah dia sedang bermain peran pengantar bunga.

Saga merapikan bajunya dan siap menerima bunga itu, “Iya Saya.”

“Buat Bapak Saga dari Ibu Dee.” Ucap Dee.

“Terima kasih Dee.” Kata Saga tersenyum membawa bunga itu lalu kembali masuk mengambil hp, dompet, dan kunci mobilnya.

Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sampai menemukan cafe yang nyaman sebagai tempat mengobrol.

“Jadi kenapa Dee Suraiya ngasi Saga Bramantya tulip putih?” Tanya nya penasaran.

Dee langsung mengubah duduknya menjadi tegap, “ekheemmm….” Kata dia membuat Saga tertawa. Dee dan tingkahnya yang benar-benar lucu sekarang.

“Saga Bramantya…
I record you as story,
I record you as a letter,
I record you as a person that I can’t live without.
So.. will you give me a chance to record you as my partner for the rest of my life?”

Dee mengeluarkan sebuah cincin dari balik saku blazernya.

“Oh.. tulip putih nya permohonan maaf Dee ke Mas Saga.” Ucap perempuan yang sedang menggenggam tangannya terlihat sedikit panik tapi dari senyumnya penuh kelegaan.

Saga benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Dee saat ini dia hanya mampu terdiam di tempatnya.

“Mas Saga?”

“Yah berarti no nih?”

Dee terus menerus berkata sendiri karena Saga tidak bergerak dari tempatnya.

Saga bangkit berdiri lalu berlutut di hadapan Dee. Dikeluarkannya cincin yang sejak dulu tidak pernah dia lepaskan dari tubuhnya. Dua buah cincin yang selalu dikalunginya tanpa pernah dia lepas sekalipun

Dee hampir menangis ketika Saga mengambil tangannya dan menyematkan cincin yang dulu pernah dia kembalikan.

“Yes.” Ucap Saga ketika dia berhasil menyematkan cincin ke jari Dee.

Lalu kembali duduk dan mengambil cincin yang Dee berikan untuk disematkan pada jarinya sendiri.

“Untuk yang itu tugas Aku. Harus aku yang pertama kali ngasi kamu cincin baru kamu boleh kasi Aku cincin.” Kata Saga sambil menggenggam tangan Dee.

Dee tertawa dan menangis haru.

“Tapi aku berangkat loh nanti sore ke Indonesia.”

“Gapapa, besok aku susulin ke Indo.”

“Kerjaan kamu?”

“Nanti kita omongin sama-sama. Maafin aku yaa kalau selama ini yang terbaiknya menurut aku aja. Bahkan aku gak pernah tanya kamu maunya gimana. Kedepannya kita omongin mau kamu gimana mau aku gimana biar ketemu jalan tengahnya.” Ucap Saga benar-benar membuat hati Dee tenang.

Dee menangis haru dan memeluk Saga erat. Keputusannya untuk berani menggapai sebuah bahagia, mencoba jalan berdua dengan orang yang sepertinya tepat sehingga jika ini sebuah kesalahan mungkin kesalahan yang tidak akan pernah disesalinya.

-fin.

0 comments: