Patience

19:52 LuqyLugy 0 Comments

 
Sometimes the patience lives in the understanding 
- Watering the Soul 

"Emang gak capek nungguin cewek lo cukup?" 

"Udah cari yang lain aja."

"Dia bukan tipe perempuan yang bakal bisa kerja-kerjaan rumah." 

"Apa lo gak bakal kasihan nanti sama anak-anak lo? Ditinggal ibunya kerja." 

Ini semua komentar yang selalu lelaki ku dapatkan karena aku yang enggan untuk naik ke jenjang yang lebih serius. Walaupun ia tidak pernah mengatakannya, aku mengetahui itu. Tidak sering aku mendengar secara langsung saat mereka sedang berkumpul dan aku berada di sampingnya. 

Keputusan kami untuk menunda pernikahan karena kesibukan ku menjadikan semua orang memusuhi hubungan ini. Saat aku mengutarakan keinginan ku untuk terlebih dahulu berkarir dan mengejar mimpi ku untuk melanjutkan sekolah dia tersenyum dan mendukung ku. 

Ku tawarkan padanya untuk memikirkannya lebih dahulu dan memberikan beberapa jalan yang mungkin bisa menghindarinya dari usia telat menikah atau cemooh lainnya. Dia dengan tegas menjawab,

"Akan aku tunggu. Ini hubungan kita. Yang menjalani kita. Aku percaya kamu. Aku harap kamu juga bisa percaya pada ku. Kalau aku akan menunggu." 

Aku hanya bisa tersenyum dengan kalimat itu. Dia sosok yang paling mengerti isi kepala ku. Aku yang meragukan diri sendiri karena takut ia mendapatkan kebahagiaan yang tertunda. Kala itu dia menjentikan jarinya pada dahi ku. 

"Jangan mikir aneh-aneh aku tunggu. Kalau kamu ingin puas dengan diri kamu sendiri. Aku tunggu sampai puas itu menjadi 'kita' bukan 'aku' saja." 

Walaupun dengan ringisan tapi mendengar kalimat itu membuat aku amat percaya bahwa lelaki ini adalah satu-satunya yang aku harapkan dan seseorang yang pasti untuk menunggu ku. Aku memeluknya menghilangkan keragu-raguan. 

"Aku tuh baik banget deh kayaknya dulu sampai bisa dapet kamu." Kata ku. 

Dia mengelus punggungku dengan aku yang masih dalam dekapannya dia berkata, 

"Bukan. Mungkin juga sudah terlalu banyak yang kamu hadapi sampai akhirnya Tuhan mempertemukan aku yang harus menghadapi kamu." 

Aku menatap tidak terima tetapi tidak juga melepaskan pelukan ku padanya. 

"Ihhh kok gitu!" 

Dia tertawa melihat raut wajah ku yang kesal. 

"Karena sekarang bebannya dipikul berdua. Aku terlalu banyak leha-leha dulu sekarang saatnya aku memperjuangkan apa yang aku mau." 

"Dengan ikut memikul beban perempuan ini?" 

Senyum menenangkan itu kembali menghiasi wajah manisnya, 

"Perempuan yang kamu sebut itu adalah orang yang saat ini menjadi prioritas juga sumber kebahagian ku. Jadi gak ada alasan aku buat gak memperjuangkannya." 

Kejujuran yang sangat perlu diapresiasi, tidak ada alasan untuk melanjutkan sikap merajuk ku. Kata-katanya benar-benar bisa membuat seseorang merasa benar-benar dibutuhkan. Berharga. Aku berharga bagi seseorang. 

Bertahun-tahun aku meniti karir dan juga melanjutkan sekolah lalu kembali kepadanya. Berat. Semua itu berat terlebih dengan tekanan dari segala sisi yang menuntut kami untuk menyerah. Menyerah pada keadaan dan ego masing-masing. Tetapi ternyata kami lebih keras kepala atas perasaan yang sama-sama ingin terus bersama. Sampai hari ini. 

Dia datang menghampiri ku yang sedang menatap hamparan laut luas. Suara ombak kecil terdengar menjadi iringan musik di antara aku dan dia. 

"Gimana? Sudah puas menikmati hidupnya?" Suara berat lelaki ku bertanya. 

Aku enggan menengok ke arahnya masih menatap lautan aku mengangguk. Sebuah pertanyaan yang ku tahu akan kemana ujungnya. Komitmen. Pernikahan. Hal yang sejak dahulu kami tahan dan tidak bisa aku janjikan. Namun dia tetap bertahan dan bersabar berada di samping ku mendukung semua dan segala keputusan ku. 

"Okay." Kata ku tiba-tiba tanpa adanya pertanyaan yang terlontar. 

"Oke? Apa yang oke?" Tanya lelaki di samping ku ini kebingungan.

Aku tersenyum kemudian menatapnya yang sedang kebingungan. Aku tahu dari tatapannya dia menduga hal itu namun ragu untuk mengungkapkannya. Aku semakin menjahili lelaki tinggi ini. 

"Oke. Aku mau." 

"Maksudnya yang itu? Menikah? Kamu mau?" 

Aku mengangguk menatapnya bahagia. Dia mulai tersenyum sama bahagia dengan diri ku. Baru pertama kali aku melihat senyum yang secerah ini. Sebuah jawaban dengan kesabaran dia menunggu. Bukan lagi waktu yang menjadi musuh bagi kami, tetapi ada juga perasaan untuk membangun kepercayaan dan juga saling mengerti keputusan masing-masing. 

Tangan kami bertaut. Dia menarik ku ke dalam pelukannya. Erat dan hangat. Seperti rumah, kemana pun pergi aku akan selalu kembali kepada pelukan ini. Hanya miliknya. 

"Now I need a ring.

"Of course. Mau yang berapa karat? Beratnya mau berapa gram sayang ku?" 

"Ihhhh gaya banget!" 

Kami tertawa. Tawa bahagia. Amat bahagia. 


0 comments: