Curcol : all That is lost between us

19:20 LuqyLugy 0 Comments

 
[Trigger Warning mention of abortion]

Haiii hooooo... Sebenarnya gue lagi nyiapin satu cerita, udah hampir jadi, but it's dark. Belum selesai sih. Hahahaha. Nah kayaknya sih yang bakal di upload yang ini dulu baru cerita. Berasa udah lama banget yaa gue gak nulis short story! Excited... ditunggu aja. Ini sedikit cuap-cuap tentang kegiatan selanjutnya. Sekarang lets goooo bahas novel yang satu ini... 


Masih inget gakk sama salah satu buku yang judulnya Scars and others beautiful things karya Winna Efendi. Ini linknya kalau mau baca sekilas tentang Scars and others beautiful things https://artandhate.blogspot.com/2022/04/curcol-scars-and-others-beautiful-things.html Nah, all That is lost between us juga salah satu karya Winna Efendi. Wahhh, tidak pernah mudah untuk membaca karyanya Winna Efendi. 




Seperti biasa, kenapa milih baca novel ini? Jadi gue beli buku ini sepaket sama karyanya Winna Efendi yang Scars and others beautiful things. Kakak gue itu emang penggemar tulisan-tulisannya Winna Efendi. dan ternyata karyanya Winna Efendi ini selalu menganggkat isu-isu sosial yang jarang banget terjamah sama kita. Bukan sekadar cerita cinta yang ketemu terus udah. Proses bagaimana kembali untuk baik, dengan trauma-trauma yang sedang kita hadapi. 

Tokoh utamanya bercerita dua orang yang berpisah lalu kembali bersama. Klise yaa?

Di balik kisah klise itu ada banyak luka yang dibuat antara keduanya. Bee dan Bas, keduanya merupakan mahasiswa kedokteran. Lokasi tempatnya bukan di Indonesia, tapi di Australia. Jadi ada beberapa kota kecil Australia yang disebut di novel ini. Kalau setting tempatnya di Indonesia mungkin bakal viral novelnya. Tapi bukan kok.

Jadi Bee dan Bas merupakan pasangan kekasih yang bertemu saat berkuliah kedokteran. Falling in love then make a commitment. Tapi siapa yang tahu kalau ternyata sosok Bee dan Bas ini juga punya banyak luka, yang menurut gue luka mereka saling melengkapi. Jujur ini novel bukan tipe slow pace kayak novel sebelumnya yang gue baca. Novel yang ini lebih ke banyak alur mundur dan maju nya. Agak bikin bingung. Tapi seiiring berjalannya waktu everything is good kok. Dapat apa yang ingin disampaikan oleh novel ini. 

Oke kita bahas lukanya Bas dulu, terlahir dari keluarga musisi yang hebat tapi dia harus kehilangan orang tuanya diusia belia karena kecelakaan. Dia diangkat oleh salah seorang teman dekat ibunya. Di sini lah luka-luka itu di mulai, secara bertubi-tubi belum lagi karena keluarganya yang diambil secara tiba-tiba dia harus berhadapan dengan kenyataan kalau ibu angkatnya keguguran karena terlalu lelah mengurusnya. Setidaknya narasi yang didengar oleh Bas adalah seperti itu. Itulah yang membuat Bas menutup diri dengan keluarga barunya. 

Lain halnya dengan Bas, Bee merupakan seorang anak dari ibu yang juga seorang dokter. Bukan dokter biasa, Ibunya Bee ini sosok yang cukup ambisus dan dia tidak mau ada hal yang menghalangi karirnya. Tapi muncullah Bee di saat ia tengah membangun karirnya. Gue agak susah menjelaskan Bee ini tumbuh dengan luka seperti apa. Karena memang gue merasakan tiap untaian katanya, jadi mendeskripsikan ulang kata-kata itu, sulit. Gimana sih? Anak yang tidak diharapkan? Iya. Anak yang kurang beruntung? Gak juga. Tapi itu juga mempengaruhi Bee dalam kehidupannya. Terutama berkomitmen dengan orang-orang lain. Juga, membuat ibunya bangga. Mendapat sedikit saja apresiasi dari ibunya adalah suatu keajaiban buat sosok Bee. 

Ujung masalahnya, Bee dan Bas mengulangi kesalahan ibunya Bee. Bee hamil. Well, sebagai seorang dokter juga yang sedang membangun karir keduanya sama sekali tidak mengharapkan itu. Bee memiliki kuasa penuh akan tubuhnya dan Bas juga merasa tidak punya kendali yang cukup besar atas kehidupan yang ada di dalam diri Bee. Oke, akhirnya Bee memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. 

Nah, konflik selanjutnya kalian bisa tebak sendiri atau baca bukunya. Yang mau gue sampein itu adalah, Bee menggugurkan kandungannya karena dia gak mau menyalahkan anaknya seperti ibunya menyalahkan dia dahulu. Dia juga tidak mau dianggap oleh ibunya karena gagal melakukan hal yang sama seperti ibunya. Tapi ternyata semuanya sama saja, menggugurkan atau membesarkan, lukanya menurut gue sama besarnya. Dari novel ini yang bisa gue baca, ketika lo menggugurkan lo akan terus menerus dihantui rasa sebagai seorang pembunuh. Sedangkan membesarkannya ada tanggung jawab lain yang harus lo besarkan dan mungkin akan melukai hati sosok mungil itu.  

Seperti biasa, gue punya quotes dari novel ini. 

"Satu kehidupan, satu kematian-semuanya memiliki berat yang sama. We have to let ourselves feel; it's the only way we can stay human. But you know what? Unless you can handle death, you can handle life itself.

Lo bakal nemu kata ini berkali-kali di novel ini. Mungkin sekitar tiga kali? gue gak yakin. Apapun yang lo pilih bakal sama aja. Balik lagi tergantung gimana lo menghadapi kematian dan kehidupan itu sendiri. 

Ini salah satu yang gue suka bangetttttt, 

In the end we're just scared of ourselves, aren't we? Takut mengambil langkah yang salah, takut pada keraguan yang kita ciptakan sendiri. 

"If there's one thing that I learn from regret, it's that you have to build yourself to be stronger than it.

  

0 comments: