All I Want Is Just One Hug.

09:52 LuqyLugy 0 Comments


Sebuah gelas plastik berlogo kopi terkenal tiba-tiba membuyarkan lamunan Dee. Dia tersenyum melihat kopi kesukaannya sekarang yang sudah berada di hadapannya. Begitupula si pembawa kopi.

“Kok udah sampe sini aja?” tanya Dee mengambil kopi itu lalu berdiri mengikuti postur tubuh Saga.

Mereka berdua bejalan sepanjang koridor kantor. Dee yang saat ini sudah berposisi sebagai head of project tentu saja cukup disegani. Lain halnya dengan Saga yang akhirnya memutuskan untuk membangun perusahaannya sendiri bersama bandmates-nya. Namun karena hampir semua orang kantor mengenal Saga jadi dengan mudah Saga mendapatkan akses ke kantor lamanya. Jadi hampir semua menatap mereka saat ini.

“Tadi Brian gak banyak omong. Lagunya juga udah langsung jadi.” Jawab Saga menjelaskan.

Pekerjaan Saga kali ini berhubungan dengan musik. Hal yang sejak dulu memang menjadi impiannya. Ketika dia sudah merasa cukup belajar di perusahaan Kian, dia memutuskan membangun perusahaannya sendiri yang lebih banyak kegiatannya dengan musik. Walaupun berat Kian menyambut rencana Saga dengan hangat. Bahkan perusahaan mereka berdua seringkali terlibat project bersama.

Dee menganggukan kepalanya mengerti.

“Kamu lagi ada masalah?” Tanya Saga melihat Dee yang sedari tadi lebih banyak diamnya tidak seperti Dee yang biasa. Belum Dee menjawab pertanyaan Saga telfonnya lebih dahulu berdering.

Melihat display name yang ada di hpnya membuat mood Dee semakin kesal.

“Yaaa? Kok bisa? yaudah saya ke sana.”

Saga memandangnya penuh tanya.

Gotta go. Gagal lagi deh rencana kita, padahal kamu udah di sini.” Dee berkata dengan nada sangat sedih.

Saga sangat tahu pekerjaan perempuannya. Jadi sudah pasti dia bisa memaklumi itu. Dan itu adalah hal yang wajar.

“Aku tunggu di apart yaaa?” tanya Saga berusaha menenangkan dan dibalas dengan anggukan.

“See yaaa Big Boy.” Ucap Dee sambil mengecup pipi kekasihnya itu.

Saga hanya tertawa dengan panggilan barunya. Melihat tawa Saga membuat Dee merasa sedikit lebih baik.

...

Sudah pukul 12 malam Dee membuka pintu apartemen. Semua saat ini terasa sepi, Jova sudah bersama keluarga barunya. Walaupun bisa saja Dee menelfonnya dan berkata bahwa semuanya sedang tidak baik tanpa babibu, Jova akan menghampiri Dee.

Namun saat ini semua sedang terasa salah. Semua, bahkan untuk bersandar pada Saga menjadi sebuah kesalahan dimata Dee. Beberapa hari ini dia meringkuk untuk menangis berusaha mengerti apa yang sedang dirasakan oleh dirinya sendiri. Kemudian akan tertidur karena terlalu lelah menangis.

Mempertanyakan apa yang membuat dirinya terluka, padahal semua sedang baik-baik saja. Atau dia tahu bahwa ada yang tidak baik, saat ini menjelaskan terasa percuma. Dia membenci dirinya yang tidak bisa membagi rasa apapun pada orang lain. Tidak mampu berkata bahwa saat ini ada hal yang mengusiknya. Apakah dia yang bersalah atau memang semua sedang berusaha memojokan dirinya?

Sebuah pelukan membuat dirinya menenggang. Dia tahu, dia amat tahu kalau ini adalah Saga.

“Hei… I’m here.”

Saga mengelus punggung Dee, hal yang selalu dia lakukan ketika Dee sedang tidak baik-baik saja.

Dee menggapai pelukan itu dan menangis semakin kencang pada dada bidang Saga. Seandainya tidak ada Saga apa yang bisa dia lakukan? Terus bersedih pada titik yang entah ke mana arah jatuhnya.

Isak tangis yang menggema dalam ruang apartemen itu perlahan mereda menjadi seegukan. Saga masih pada posisinya membuat Dee nyaman. Mengelus kepala terkadang berpindah ke punggung perempuannya. Setelah satu tarikan nafas panjang, Dee melepaskan pelukannya.

Saga melihat muka berantakan kekasihnya, mata sembab dengan anak rambut yang sudah tidak rapih lagi. Ada bulir keringat juga. Lelaki itu tersenyum menenangkan sambil merapihkan anak rambut juga mengusap sisa sisa air mata.

“Aku capek.” Satu kata keluar dari mulut kekasihnya.

Saga sudah tahu, makanya beberapa hari ini dia berusaha mengurangi pekerjaannya untuk menemani perempuan iblisnya.

“Mau udahan aja kerjanya?” Tanya Saga

“Terus aku makan apa?”

“Makan aku?”

Dee memukul tangan kekar itu, “Gak bikin kenyang.” Saga tertawa.

“Kalo mau ketawa gak usah ditahan-tahan.” Ledek Saga

“Yaa aku harus gimana? mau ketawa tapi masih ada air matanya. Nanti aku nangis sambil ketawa kan aneh?” Protes perempuan itu yang pandangannya saat ini menghadap lantai.

Saga mengurai tangan Dee yang sejak tadi dia mainkan. Lelaki dengan senyuman menenangkan ini paham kalau ada pikiran-pikiran yang sedang tidak bisa dikatakan oleh perempuannya.

“Boleh aku peluk lagi?”

Dee menatap Saga lalu mengangguk. Saga merengkuh tubuh mungil itu.

Dee sangat dan amat menyukai pelukan Saga. Sangat hangat, hanya dengan pelukannya tanpa berkata apa-apa Dee mengetahui kalau ada seseorang yang menyayanginya dengan sangat.

“Kamu tidak harus berjuang sendirian.” Saga mengatakan itu dengan tenang.

“Dee gak harus bilang semuanya. Kamu diam sambil peluk aku aja, gapapa. Bebannya dipikul sama-sama. Kalau kamu belum bisa ngomongnya yaa cukup peluk aku aja. Kayak gini. Aku gak bakal tanya apa-apa. Tapi aku bakal kasi semua yang aku bisa buat kamu nyaman, tenang.”

Dee kembali membenamkan dirinya pada pelukan itu. Bagaimana bisa dia mengeluh kepada Tuhan, kalau saat ini saja dia sudah mendapatkan lebih dari cukup. Seseorang yang dia yakini akan selalu ada.

“Sayang sekali sama Mas Saga.”

“Kalau gitu, aku bisa pastiin sayangnya aku ke kamu bisa tiga kali lebih besar.”

“Kok cuman tiga?”

“Nanti pasti nambah terus.”

Terkadang memang hanya perlu menangis dan mendapat sebuah dekapan untuk kembali menghadapi jahatnya dunia.

0 comments: