Perasaan Tidak Pernah Salah (Bukan Benar Juga Salah)

08:43 LuqyLugy 0 Comments

 

Katanya, perasaan itu tidak pernah salah. Akan menjadi sebuah kesalahan ketika kita menanggapi perasaan itu dengan cara yang salah. 

Baru-baru ini sahabat ku berkata, "Kamu gak akan pernah bisa memilih akan suka dengan siapa, bahkan jatuh cinta pada pandangan pertama saja juga gak bisa dipilihkan? Yang bisa adalah bagaimana kamu menanggapi perasaan itu. Bagaimana kamu menyikapi dan merspon perasaan itu." 

Reaksi ku pertama kali mendengar hal itu adalah, jika memang perasaan itu tidak pernah salah, mengapa Tuhan memberikan perasaan yang menyusahkan ini? Ada banyak kemungkinan jawaban yang bersarang dikepala minimalis ku ini. Aku bahkan membutuhkan waktu untuk menerjemahkan perasaan cemburu dan sekarang harus menerjemahkan perasaan yang seharusnya tidak bersarang padaku. 

Orang itu berkata kembali pada ku karena tidak juga mendapatkan sebuah jawaban, "Ayolah. Bukankah kamu paling pintar dalam mengabaikan sebuah perasaan yang mengganggu?" 

Aku tertawa kecil. Sahabat ku kali ini memang luar biasa. Luar biasa karena sangat memahami perasaan tanpa akhir ini. Setidaknya untuk hari ini perasaan ini tidak memiliki akhir yang jelas. 

"Kenapa yaaa? Salah doa kali ya?" 

Kali ini dia yang tertawa mendengar perkataan ku. 

"Salah doa gimana? Banyak banget kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Chill. You just need to breath. Dia juga gak akan menikah besok dan bisa aja kamu yang akan jatuh cinta dengan orang lain besok." 

Mendengarnya saat itu membuat ku menatap perempuan ini dengan sengit, bagaimana bisa seseorang memiliki perasaan seekstrim itu? 

"Kita gak pernah tahu Mahikaaaaa." Sahabat ku ini sepertinya selalu tahu apa yang sedang aku pikirkan.

Yaaa, kita tidak pernah tahu. Sampai aku tersadar ah... skenario seperti apa yang akan Tuhan siapkan untuk ku? Angin berhembus dengan kencang. Menyadarkan ku dari semua lamunan ini. 

Ini bukan tentang salah dan benar. Bukan pula menuntut pertanggung jawaban atas sebuah perasaan. 

"Karena kita manusia, kita tidak bisa mengatur perasaan itu untuk dan dari mana." 

Karena kita manusia yaaa... 

Terkadang kepala kecil ku ini masih terus meronta menyalahkan apa yang seharusnya tidak disalahkan. 

Emang siapa sih yang mau perasaan ini? Kalau bisa milih juga aku maunya sama orang lain bukan dia. 

Aku terus menerus menyalahkan aku. Ternyata sebegini tertekannya yaaa merasa bersalah, entah pada diri sendiri atau orang lain. Padahal sepertinya aku ahli dalam mengabaikan sesuatu. Aku ahli dalam berpura-pura. Ini juga  seharusnya bisa kulakukan? 

Sampai aku tersadar dari semua ini, benar-benar tersadar karena lemparan sebuah kertas yang diremas membentuk sebuah bola. Tanpa melihat siapa orangnya aku sudah tahu, ada tulisan tangan di situ. 

Kepala kecil lo gak cocok buat dipake mikir banyak-banyak. 

Muka lelaki itu mengejek. 

Hahh... dasar. Aku membalas dia dengan memberikan muka mengejek lalu membuang kertas itu dan meninggalkannya. Aku tidak sempat melihat reaksi lelaki itu lagi. Satu hal yang ku ketauhi kalau ini hanya sebuah awal dari ketidakpedulian. Awal dari meninggalkan. 

Lagi pula untuk masalah meninggalkan bukankah akan lebih mudah?

0 comments: