Lost.
Aku tersenyum melihat dia berlari tergopoh-gopoh. Satu kalimat ku dengar darinya saat aku mengatakan,
"Gue putus."
Dia terdiam sejenak ku dengar helaan nafas panjang dari seberang sana, "Tunggu."
Bahkan aku tidak perlu mengatakan aku sedang berada di mana, dia mampu menebak dan menghampiri ku saat ini. Kenapa Tuhan tidak memberikan perasaan indah antara aku dan dia? Tidak bisakah aku berharap padanya saja? Ku lihat raut wajahnya yang cukup khawatir tetapi segala ucapan yang berada di ujung lidahnya bertahan hanya pada ujungnya.
Dia mengambil tempat di samping ku. Ikut melihat ramainya ibu kota dengan segala cerita di setiap sudutnya. Hembusan angin yang saat ini cukup kencang sepertinya mendukung segala perasaan yang berkecamuk di dalam hati ku saat ini.
Mengapa hati dan perasaan ku tidak jatuh untuknya saja. Orang yang jelas-jelas selalu ada. Mengapa?
Lagu Oceans and Engines dari Niki mengalun indah dari pengeras suara hpnya.
"Gue gak ditinggal mati ih." Kata ku mengomentari lagu pilihannya.
"Tapi kan putus juga." Jawabnya.
"Ya sama aja, tapi si brengsek gak pantes dapet lagu ini."
Dia menengok ke arah ku. Jarang-jarang aku mengatakan 'brengsek' pada kekasih atau bisa ku bilang mantan kekasih ku.
"Apa?" tanya ku kembali mengetahui kalau dari tatapannya dia menuntut sebuah jawaban dan pernyataan.
"Selingkuh." Satu kata itu sepertinya berhasil memicu emosi lelaki di samping ku ini.
"Si anjing."
"Chill, gue gapapa."
"Lo tau dari mana?"
"Gue udah curiga sih, terus gue ikutin sampe ke hotel. Yaudah ketauan sama gue. Minta tolong layanan kamar padahal gue di samping pintu biar gak keliatan dari pintu kamar hotel, nunggu dia buka pintu kamar. Shirtless. Kayaknya yang seterusnya gue gak perlu jelasin lo paham."
"Anjing"
"Lo udah ngomong anjing dua kali." Aku menanggapi dengan nada kalem sambil terus menatap kota sibuk ini.
Selingkuh ya? Ah... jadi ini yang namanya diselingkuhin. Aku berusaha sangat keras untuk merasakan perasaan ini. Karena ketika semua adegan itu kembali terputar di kepala ku, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. Bahkan sedih pun tidak ku dapati perasaan itu. Hanya kosong, dan hilang yang dipaksa.
"Besok gue samperin lakinya."
Aku memejamkan mata. Entah mengapa setelah kalimat itu terucap semua rasa beban, sakit yang harusnya ada sejak tadi langsung terasa tumpah ruah di dalam hati ini. Aku mulai terisak menyembunyikan muka pada kedua lutut ku. Dia mendengar semua isak tangis itu, dia mendengar rasa sakit yang tidak pernah ada dan akhirnya ku rasakan, dia ada di sini. Mendengar segala kesal, marah, juga sakit hati yang sebelumnya tidak bisa ku keluarkan. Dia di sini.
Aku menghapus air mata yang tersisa. Hanya itu, aku hanya bersedih di titik itu saja menikmati rasa yang memang harus dikeluarkan. Lelaki seperti itu tidak pantas untuk mendapatkan yang lebih dari itu. Sama sekali tidak pantas.
"Ya, tolong." Persetujuan ku atas penyataannya yang tadi.
"Gue mau pinjem bahu lo." tambah ku lagi.
Dia mendekatkan dirinya agar aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala pada bahunya. Tanpa kata. Malam itu aku tahu bahwa entah masa depan akan lebih mengerikan atau lebih baik dari ini, maka untuk merasakan kehilangan lagi adalah suatu hal yang paling aku takuti.
-fin.

0 comments: