Hi Altair
Hi Altair.
Sudah lama aku tidak bercerita dengan mu. Setahun lebih sedikit sepertinya sejak aku tuliskan surat terakhir untuk mu.
Bagaimana kabar mu? Semoga baik selalu menyertaimu.
Kabar ku? Setahun kemarin banyak sekali keajaiban-keajaiban menyertai ku. Kamu tak perlu khawatir, hari-hari ku baik. Sampai aku sendiri bingung, Tuhan sedang sangat menyayangi ku sepertinya Al.
Maafkan aku yaa yang jarang bercerita dan mengabari mu. Aku harap kita masih bisa bertemu dalam keadaan baik. Aku ngetiknya sambil senyum loh Al.
Boleh aku bercerita? Tentang dia yang tidak ku sangka hadir dalam kehidupan ku dengan tidak terduga. Seperti melawan keadaan, aku menyayanginya tanpa batas. Ya, aku menyayangi orang baru. Aku menyayangi seseorang yang tidak ku sangka sangka. Seseorang yang mirip dengan ku hanya saja dia lebih kuat, hebat, dan baik.
Aku tahu pasti kamu tersenyum membacanya, namun ku beritahu kabar lainnya.
Aku tidak bisa bersamanya Al...
Berkali-kali aku bertanya pada Tuhan, Apa yang ingin Engkau tunjukan atas perasaan ini?
Kata Mama, Tuhan ingin menjadikan aku kuat. Aku kuat kok Al, awalnya mungkin sampai akhirnya. Loh kok mungkin? karena aku bingung menjelaskan akhirnya. Sepertinya aku kembali terjebak dalam kotak hitam tetap menggenggam tangannya tanpa bisa melihat wajahnya yang sedang berdiri menunggu ku untuk bangkit.
Atau mungkin sebenarnya dia duduk bersama ku dalam kotak itu, tetapi aku terlalu kabur melihat karena aku terlalu fokus menunduk menghentikan tiap tangis dan menahan isakan agar dia tidak mendengarnya. Banyak kemungkinan yang tak pernah aku tahu.
Apakah dia baik?
Apakah dia sudah benar-benar bahagia?
Apakah perasaanya atas aku sudah hilang?
Haruskah aku menyerah?
Haruskah aku mulai menutup mata?
Aku ingin mengucapkan selamat tinggal tapi aku tidak benar-benar meninggalkannya.
Aku ingin tersenyum bahagia lagi Al ketika dia bercerita mengenai apa saja. Aku ingin dia bisa menceritakan apa yang tidak bisa dia ceritakan ke orang lain agar sedikit saja beban yang ada dipundaknya terangkat. Aku menyayanginya sampai aku ingin memeluknya dengan segala kerumitan isi kepalanya juga segala beban itu dan berbisik di telinganya,
"It's okay, you're doing great."
"Lo hebat banget."
"Ih cowok gue yang paling jago emang."
"Gapapa, lo kan juga manusia, hari ini cuman jelek aja harinya, besok kita bikin baik ya."
"Ih, cakep banget hari ini."
"Aku sayang banget sama kamu."
Tapi aku tak mampu dan ku tak bisa.
Maka yang selalu ku semogakan pada perasaan ini adalah mengembalikan seluruhnya pada Sang Maha Pemilik Perasaan. Setiap aku merindukannya dengan amat maka ku pasrahkan itu pada sujud ku.
Menyanginya terkadang seperti bernafas. Kadang-kadang ku ingin hentikan namun hal itu bekerja tanpa keinginan ku dan tanpa kendaliku.
Jadi Al, walaupun kali ini terasa berat. Tapi aku ingin hidup. Ya, adanya dia aku ingin hidup. Aku berdoa untuk bahagia ku. Aku berdoa untuk hidup ku diperpanjang. Aku berharap. Aku benci mengatakannya tetapi aku berharap Al. Aku berharap untuk diberikan jalan yang bahkan aku tidak tahu jalan apa yang aku harapkan karena terlalu kabur.
Al, hari ini dan esok akan selalu baik. Aku akan selalu bisa bertahan. Yakan?
Dan doa untuknya biar menjadi rahasia ku dengan Tuhan.
Kapan-kapan akan ku beritahu secara langsung yaa Al. Ayo bertemu dengan sama-sama tersenyum karena dunia menjadikan kita kuat juga bahagia.
Sampai nanti Al dalam keadaan aku mampu lagi untuk bercerita.
With love,
your L.

0 comments: