Curcol : Pasta Kacang Merah

18:59 LuqyLugy 0 Comments

 
Halllooo... hari ini aku mau bawa buku pertama yang berhasil aku selesaikan di tahun ini. Iyaaa sadar kok sadar sudah bulan maret tapi progress baca buku ku makin sedikit. Hiks sedih... 

Mau cerita sedikit, akhir-akhir ini memang lagi kena reading slump. Kocaknya adalah pas lagi baca fiksi kepingin banget baca non fiksi. Yaudah aku buka dong buku non fiksi, baru beberapa halaman bosen. Akhirnya malah menscroll twitter :) Ada tips ga yaaa? 

Oke sekian curhatan hati ku. Mari kita bahas bukunya Durian Sukegawa yang judulnya Pasta Kacang Merah.




Awal mau baca buku ini banyak banget yang bahas di litbase. Jadi penasaran... banyak yang dibikin nangis. Yaudah langsung ke Gramedia kebetulan di tempat tinggal gue yang sekarang ini agak susah cari buku yang hype-nya tinggi dan kalau beli online berat banget sama ongkir. Untungnya ada di Gramedia. 

Alur ceritanya campur, maju dan mundur. Mundurnya lebih ke flashback. Menceritakan seorang pria bernama Sentaro yang bekerja di Toko Dorayaki bernama Dora Haru bertemu dengan seorang nenek lanjut usia bernama Tokue. Awal diceritakan Tokue itu sosok nenek yang misterius dan filosofis dengan keadaan tubuh yang cukup memprihatinkan. 

Buku ini banyak bercerita soal hidup. Kehidupan monoton seorang laki-laki yang ingin keluar dari rutinitas itu lalu mulai menggapai mimpinya dan kehidupan nenek tua yang ingin sekali berinteraksi dengan dunia luar. Buku ini sama sekali gak ada romance-nya, jadi buat aku yang penggemar romance sejati agak lama bacanya. Terlebih memang ceritanya yang lumayan lambat. Mereka berdua terlibat ikatan bisnis sebagai Manajer dan Pegawai. 

Sentaro sebagai kepala toko mempekerjakan nenek-nenek. Awalnya dia memandang remeh apa yang dilakukan Tokue dalam membuat pasta kacang merah, eh ternyata tidak semudah itu. Dalam pekerjaan yang mereka lakukan entah bagaimana Sentaro merasa iba pada sosok nenek ini. Tumbuh rasa peduli dan mulai menyukai dirinya yang membuat pasta kacang merah. Sampai akhirnya Tokue harus berhenti dari Toko Dorayaki itu. 

Setelah membaca buku ini yang aku rasain lebih banyak diam. Tidak bahagia, tidak juga terharu, tidak juga terbayang-bayang cerita mereka. Hal yang biasa biasa saja. Cuman aku berterimakasih dengan cerita mereka. Dibuat lambat tapi tidak seringan itu juga. Buku ini aku selesaikan dengan amat baik, dan keinginan untuk hidup lebih lama. 

Kalau kalian jadi Sentaro mesti gimana yaa? Ada banyak sih hal-hal yang menurut aku belum beres ceritanya. Mungkin kayak buku Funiculi Funicula yang ada buku ke duanya. Kayaknya kalau ada bakal buku kedua aku akan tetap baca karena pensaran sama masa lalunya Sentaro dan kelanjutannya seperti apa. 

Oke, lanjut beberapa quotes dari buku ini...

"Semua orang punya pengalaman sendiri ketika mereka masih bermasyarakat. Meminjam kata-kata geisha yang mengajariku cara memakai kimono... 'Kita punya wadah masing-masing yang bisa diisi'..." - Tokue

Semua orang berhak menjadi sosok terbaik dan versi baik dirinya dan berkontribusi di masyarakat atau paling tidak dalam kehidupannya sendiri. Kadang aku berpikir kenapa kita (mungkin aku aja) harus berpikir dua kali ketika ingin menulis cerita hidup dengan tokoh utamanya adalah diri sendiri? kita kan bisa melakukan apapun atas cerita hidup diri sendiri kan?

Nah itu kenapa aku bilang tadi kalau buku ini lama aku baca dan alurnya lambat, kadang setiap baca kalimat demi kaliamtnya aku mikir, dan mulau nulis apapun yang berisik di kepala ku. Hehehe. Seperti yang satu ini... 

Ia dipenjara karena sudah melakukan suatu kesalahan, sementara para pasien di sanatorium itu tidak bersalah sama sekali. 

lalu aku menulis pada samping kalimat itu, kenapa yaa kadang hidup begitu berat untuk beberapa orang baik? 

Aku menyebutnya hal-hal random setelah membaca buku. 

Tunggu yaaa curcol aku selanjutnya, see you!

0 comments: