Tanpa Sebuah Kata.
Kata orang setiap orang pasti punya lukanya masing-masing. Banyak orang yang berlomba untuk menjadi orang yang paling tersakiti. Kenapa yaa Mah? Inka selalu mau jadi orang yang paling bahagia. Kenapa orang-orang seolah berperang saling melawan untuk memperebutkan kalau dia adalah orang yang paling menderita.
Pernah ada seseorang yang bilang ‘luka dia sama luka kamu itu berbeda. Kayak liter dan gram. Satuannya berbeda gak akan pernah bisa di samakan’. Lalu kenapa setiap orang tidak pernah mau mengalah? Kenapa mereka selalu berlomba padahal sudah cukup tahu kalau rasa sakit itu tidak pernah bisa diukur sama apalagi diperlombakan beratnya? Kenapa sih orang masih bisa bilang "Kamu gak ngerasain apa yang aku rasain." Loh, dia juga gak merasakan apa yang Inka rasakan juga kan Mah?
Dunia semakin lucu ya Mah? Gimana kehidupan di sana? Sama lucunya gak sama dunianya Inka? Inka masih pegang janji buat jagain Papa semampu dan sebisa Inka. Mama jangan khawatir yaaa?
“Boleh Saya duduk?” Tanya seseorang yang langsung mendapat anggukan dari Inka.
Inka sedang berada di taman rumah sakit, karena lelah mendengar omelan Aletha yang selalu melihat Inka rebahan jika tidak di kasur rumah sakit atau di sofa tamu. Bahkan Ardian juga mengomeli perempuan ini untuk mencoba ikut senam. Jadilah dia berpindah untuk ke taman rumah sakit, menghindari omelan dokter dan sahabatnya.
“Kamu gak bisa berhenti liat Ipad kayaknya yaa Ka.”
Inka terdiam. Seketika tangannya kaku tidak mampu melanjutkan tulisan yang ada dibenda itu. Sekarang dia teringat siapa pemilik suara berat ini.
“Pak Gama.”
Orang yang membuat kepalanya amat berisik beberapa hari ini.
Gama tersenyum salah tingkah membawa sebuket bunga matahari dengan aster. Persis sekali dengan bunga yang dibawa Inka saat menjenguk bundanya.
Inka tersenyum senang. Sudah lama dia tidak mendapatkan buket bunga itu. Bunga yang saling melengkapi seolah berkata ‘cepat sembuh kami di sini menemani’.
“Saya senyum buat bunganya bukan buat Bapak” Ketus Inka Elakshi.
Memang hanya seorang Inka yang bisa bersikap seperti itu kepada pimpinannya. Dalam prinsip perempuan ini, selama tidak dalam konteks pekerjaan dia bisa mengungkapkan isi kepalanya.
Senyuman Gama semakin lebar dan tidak lagi dibuat-buat, “Saya tahu kok.”
Inka dan tingkah absurdnya. Sesungguhnya Gama tidak yakin sudah mendapatkan maaf dari sosok perempuan dengan baju pasien ini, tetapi sambutan yang diberikan tidak terlalu buruk.
“Saya minta maaf” kata Gama sambil melihat Inka yang sedari tadi memperhatikan bunga matahari dan ester.
Perlahan Inka menghadap duduk ke arah Gama, “buat?”
Gama baru menyadari kalau pipi Inka kini semakin tirus. Ada garis rahang yang terlihat semakin jelas. Bahkan colar bone perempuan ini terlihat semkin menonjol. Apakah makannya baik? Bagaimana dia bisa bertahan hanya dengan tubuh berlapis kulit seperti ini?
“Saya minta maaf karena perkataan yang melewati batas. Tidak seharusnya Saya menyinggung kamu hanya karena kamu berbeda.”
Inka tersenyum, pada dasarnya yang dibicarakan oleh Gama benar. Tidak ada yang tahu sampai mana Inka bisa bertahan. Terlebih saat itu dia sedang banyak pikiran bukan hanya soal pekerjaan. Ada banyak hal yang membuatnya berpikir terus menerus.
Inka memulai,
“Saya dari lahir sudah terbiasa hidup seperti ini. Meminum obat sekali sehari bahkan lebih. Hanya untuk bertahan hidup. Saya kurang paham apa kata dokter, yang penting saya menurut saja. Yang saya inget katanya darah saya gak sempurna ada yang bentuknya bulan sabit.”
Inka memarkan gelang yang melingkar pada tangan kirinya. Ada bentuk bulan sabit tergantung di sana.
“Karena bentuknya tidak sempurna banyak bagian badan yang butuh oksigen juga menerima ketidak sempurnaan itu. Ini bukan suatu hal yang dibesar-besarkan. Pada dasarnya ini hanya masalah support sistem tubuh. Tubuh saya support sistemnya kurang sempurna. Hanya itu.”
Gama mendengarkan penjelasan Inka dengan seksama. Sejak lahir perempuan ini sudah berjuang, melawan semuanya. Apakah sendirian? Bagaimana orang tuanya?
“Sampai akhirnya Mama meninggal. Mama ternyata memiliki penyakit yang sama seperti Saya, tapi Saya lebih beruntung karena sampai sekarang masih bisa tersenyum. Yakan Pak?”
“Dia bertahan di saat Saya masih sering menangis karena ikut kesakitan. Dia mencoba berjuang disaat Saya belum bisa mengenal dan memanggilnya mama. Dan dia menyerah tidak lama setelah Saya bangun dari kritis pertama. Kami berjuang bersama tapi hanya Saya yang berhasil mendapatkan jalan untuk kembali.”
Tidak ada tangisan. Inka bercerita seperti dia kembali ke masa paling menyakitkan itu. Keadaan saat dia juga ingin menyerah. Ingin pergi bersama mama, ingin menyalahkan Tuhan karena tidak ikut membawanya. Menangis histeris tahu kalau hanya dia yang berhasil bertahan.
“Kamu gak memilih untuk menyerah. Kamu memilih untuk bertahan.” Kata Gama tiba-tiba.
Inka cukup terkejut dengan jawaban Gama, diangkat kakinya untuk duduk bersila. Kembali mengingat saat itu. Lalu menjawab,
“Karena ada orang yang juga bertahan karena saya.”
ada juga orang yang bertahan.
“Karena Tuhan percaya kalau Saya bisa menghadapinya.”
Tuhan percaya kalau aku bisa.
“Karena Saya tidak mau orang yang Saya sayang bersedih.”
tidak mau orang yang aku sayang bersedih.
“Saya mau bahagia dan gak mau lagi membuang waktu hanya untuk menyalahkan yang tidak perlu lagi disalahkan.”
Untuk yang satu ini Gama tidak mengulang dalam hatinya. Dia melihat Inka yang tersenyum dengan langit jingga yang cerah.
Berhenti menyalahkan ya?
Sesuatu yang belum pernah dicoba oleh Gama. Berhenti menyalahkan.
“Kenapa?”
Inka menengok ke arah Gama yang ternyata menatapnya sedari tadi.
“Yang mana?”
“Kenapa kamu berhenti menyalahkan?”
Terdiam cukup lama, Inka menyadari bahwa lelaki ini juga terluka. Ada luka yang ingin dia sembuhkan tetapi dia terlihat bingung? Inka menerka-nerka, apakah kami dipertemukan untuk mengisi luka itu Tuhan?
“Lelah. Karena menyalahkan itu sangat melelahkan.” Jawab Inka sambil menatap manik hitam tegas.
Si pemilik manik coklat mencari luka itu untuk diobatinya tanpa sadar. Tanpa izin dari si pemilk luka.
Pemilik manik hitam itu secara tiba-tiba merasakan lelah yang teramat amat. Beban itu tanpa aba-aba menyiksanya di depan perempuan ringkih. Dia tertunduk, tanpa izin air matanya menyerobok keluar. Kenapa bisa tembok yang bertahun-tahun dibangunnya hancur dengan mudah?
Tidak ada yang pernah mudah.
Sebuah pelukan hangat menyergap tubuh yang tertunduk itu. Tangis dalam diam yang ia tidak sadari semakin menjadi sebuah isakan. Dalam pelukan itu dia bersandar berusaha membagi beban tanpa sebuah kata, hanya tangis dan elusan punggung yang hangat.
- tbc.


0 comments: