Curcol : Surat Surat yang Pergi
Holla... Iya tauuu, udah lama banget ga nulis curhatan tentang buku-buku yang aku baca. Ini alasan sih, kerjaan aku lagi buanyakkk. Iya serius ini mah banyak. Jadi bisanya bikin cerita-cerita pendek yang mungkin ada kisah hidup ku. Hehehe. Karena kalau ga menulis rasanya aneh?
Apa kabar? Kabar aku baik. Ga akan ada penjelasan dari baik itu. Hanya baik. Oke. okee... kali ini aku mau bahas sebuah buku cantik dari R. Khoirotun (Reen). Gila emang kata-katanya dia tuh magic yaaa... Aku suka banget sama anak pertamanya Wandering Stars kalau kalian mau liat bisa langsung ke sini Curcol : Wandering Stars
Masalah dari hidup ku tuh cuman satu rata-rata bukunya Mba Reen itu sistemnya PO, contoh Selaras dan Jar Of Memories. Aku sebagai warga timur menangis dengan ongkos kirim. Nah pas posisinya aku lagi di Jakarta, aku lupa mau CO. Serta harap-harap cemas yaa Bund, sampe atau engga ke hotel bukunya sebelum balik lagi menjadi warga WIT. Alhamdulillah banget buku dia yang ini ada di gramedia jadi pasti tersedia all day long. oke, segitu cerita prolognya mari kita mulai...
Bercerita tentang sepasang kekasih yang saling menulis surat. Buku ini disajikan bukan dengan narasi tetapi benar-benar surat yang saling bersahutan. Jadi aku ngerasanya lagi diem-diem baca surat cintanya orang. Hahahahaha. Seru sih dan bahasa mereka poetic.
Nah sayangnya, ada beberapa surat yang aku susah bedain karena secara tiba-tiba karakter mereka campur aduk. Kisah Biru dan Loka yang sama-sama memiliki kesulitan pada dunianya masing-masing. Keduanya memiliki bahasa yang sama kadang aku merasa kalau Biru dan Loka adalah orang yang sama. Mereka sedang bercerita pada pembaca aja.
Tapi lagi-lagi itu tidak menghilangkan kalau aku sayang dan suka sama buku ini, Wandering Stars masih tetap di hati, tapi buku ini bisalah buat dibaca sesekali ketika dunia lagi jahat-jahatnya. Hahahahaha.
Walaupun buku ini terdiri dari surat-surat bukan berarti buku ini gak memiliki alur atau hanya sekedar surat yang dikirimkan. Surat ini memiliki alur kok. Bahkan alur majunya cukup jelas, konfliknya juga. Apa yang ingin disampaikan juga tersampaikan dengan baik. Setidaknya buat aku surat-surat mereka bisa menguatkan aku dibeberapa ambang kehidupan ku. Ea. Hahahaha.
Ah iya, satu lagi surat-surat mereka berisi dua insan manusia yang saling menguatkan atas kerasnya dunia. Jadi kalau aku menganggapnya semi fiksi-self improvement. Bagaimana kita menerima orang yang tiba-tiba meninggalkan tanpa kabar? Yang ternyata dia sedang berjuang atas hidupnya tanpa kita ketahui. Lalu bagaimana kita menerima keadaan itu, tidak marah dan menguatkan orang itu kalau 'gapapa, jika memang tidak bisa bercerita tentang masalah itu sekarang nanti juga gapapa. Tetapi jangan hilang.'
Yaa... itu cerita singkat aku tentang Surat-Surat yang Pergi. Seperti biasa, kita akhiri curhatan ini dengan kata-kata yang ada di buku ini. Hahhh... cantik bangettt.
Bagaimana seseorang yang cintanya penuh justru berutang cinta ke dirinya sendiri? - Biru
Baik-baik saja atau tidak juga tanggung jawabmu sendiri. .... Sebab aku tak akan kekal ada di sini, di sampingmu. .... Dunia itu cuma tempat singgah. - Loka
Dan maka ketika aku pisah dengan dia, hal yang selalu aku bilang ke diri aku sendiri adalah bahagia dan sedih ku adalah tanggung jawab ku. Kalau aku kenapa-napa itu adalah tanggung jawab ku. *Eh maaf jadi curhat dikit. hahaha.
Yang satu ini, hit me so hard setiap kali dunia sedang memusuhi ku.
Tuhan itu dekat pada orang yang hatinya patah, Ka. Dan Dia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. - Biru pada Loka
Maka itu, berbaik sangka dengan Tuhan adalah salah satu rasa syukur karena hal itu terkadang terlewat oleh kita sebagai manusia.
Oke segitu dulu spoilernyaaaa! See you di postingan-postingan lainnya.
![]() |
| pict by me |


0 comments: