238/365

17:53 LuqyLugy 0 Comments

 
"Emang manusia itu ga boleh ngerasa ga baik-baik aja ya?" 

Saga yang kala itu sedang berjibaku dengan pekerjaan yang ada dilaptopnya langsung mengalihkan pandangan pada perempuan yang di depannya. Perempuan itu membiarkan rambutnya diurai dengan tangan kanan memegang kopi dan tangan sebelahnya menggengam benda pipih canggih. 

"Ok. Kali ini apa masalahnya Dee Suraiya?" Saga memanggil Dee dengan nama lengkapnya yang sukses membuat perhatian Dee sepenuhnya pada Saga. Bahkan arah duduknya tidak lagi menyamping dan benar-benar diperbaiki menghadapi lelakinya. 

"Aku cuman tanya Mas Saga." Ucap Dee sambil tersenyum berusaha meyakinkan Saga bahwa dia sedang benar-benar baik. 

"Terus pertanyaan yang tadi?" 

"Hanya terucap begitu saja." 

Saga melanjutkan kembali membaca beberapa data yang ada dilaptopnya. Dee melihat Saga sudah tidak bertanya lagi kembali melanjutkan kegiatan semula. 

Tiba-tiba Saga menghentikan pekerjaannya lalu menyadari sesuatu kalau sang kekasih tidak membawa laptop. Dia hanya membawa diri, airpods, dan iphone. Dia juga menyadari kalau tidak ada ipad yang biasa dibawa oleh perempuan itu. Saga memperhatikan Dee yang sekarang menatap ke arah jalan, melihat kesibukan ibukota. 

Dee dan pikiran-pikirannya. 

"Tumben." Suara Saga berhasil mengembalikan Dee ke dunia mereka. 

Dee melihat Saga dengan tatapan menelisik ke arahnya. Mencari sesuatu yang juga tidak tahu apa yang sedang dicarinya. Saga menutup laptop lalu perlahan digenggam sebelah tangan kekasihnya. 

"Mikir apa Sayang?" Tanya Saga lembut. 

Dee ikut tersenyum, "Mikirin kamu." 

Saga tertawa. Baru kali ini Dee melempar candaan. Akhir-akhir ini hubungan mereka memang terasa sangat datar. Bertemu untuk saling menemani bekerja. Hal-hal yang mereka bicarakan juga hanya seputar pekerjaan, progres pekerjaan mereka berdua. 

"Mau cerita?" Saga bertanya kali ini untuk mengurai isi kepala Dee. Saga tau kalau kekasihnya sedang ada pikiran yang mengganggu. 

"Kamu cakep banget." 

"Dee? yakin ga mau ada yang diceritain?" 

Dee semakin tersenyum lalu memberikan kode ke arah Saga bahwa dia mau menggenggam tangan Saga yang satunya lagi. 

"Aku sayang banget sama kamu. Sayaaaaang banget." Ucap Dee tulus dengan senyuman menghiasi wajahnya. 

Saga ikut tersenyum mendengar pengakuan tiba-tiba dari Dee. 

"Isi kepalanya lagi berisik yaa?" 

"Ih, sayang aku ga dijawab. Kamu tuh emang ga sayang aku lagi." Genggaman itu kini terlepas dan si tukang protes sekarang sudah duduk dengan tangan bersedekap.

"Aku ga jawab soalnya kamu belum bisa cerita." Walaupun Saga dengan tegas mengatakan itu tapi senyum dan tatapan lembutnya tidak pernah hilang. 

Dee bukannya tidak ingin cerita hanya dia tidak tahu harus memulai darimana dan menurutnya hal-hal yang dipikirkan olehnya hanya hal-hal sepele. 

"Aku akhir-akhir ini mimpiin kita. Manis banget, kamu peluk aku sambil cium cium kening aku. Ga tau, aku ngerasanya kayak kamu sayang banget sama aku tapi mau ngelepasin aku. I know, kamu kan selalu tau overthinking aku. Apalagi sekarang kita lagi sama-sama sibuk. Jadi, quality time-nya yaaa cuma saling nemenin kerja." Dee menarik nafasnya sejenak entah kenapa semua yang tadinya tidak bisa dikeluarkan bisa keluar begitu saja. 

"Aku paham, aku tahu kalau ini cuma suara berisik yang harusnya ga aku dengerin. But, I miss you Saga. Aku kangen celotehan-celotehan kamu atau movie time kita. Hal kecil kamu mainin rambut aku pas kita lagi nonton berdua. Cuma kangen aja. Bahkan aku kangen kamu cerita apa yang lagi ngusik kamu, masalah-masalah kamu. Kita... sibuk di dunia masing-masing dan ga membagi apapun." 

Saga tersenyum, perempuan ini dengan pikiran-pikirannya. Saga menghampiri Dee membuat mereka berhadapan tidak ada lagi meja yang menghalangi mereka berdua. Langsung didekapnya perempuan yang dia sayangi ini. 

"Maaf yaa aku sibuk sampai akhir-akhir ini jadi ga peka kamu lagi butuh aku." 

"Aku juga minta maaf yaa, malah rewel padahal kamu lagi sibuk." 

Dee ikut mengelus pundak ternyamannya. 

"Boleh ga aku minta kalau kamu lagi kayak gini, obrolin aja semuanya sama aku? Jadi aku paham."

"Aku juga maunya begitu. Tapi aku selalu takut ganggu waktu kamu, takut kamu lagi ada masalah di kantor atau ada yang bikin bete. Aku juga ga tau apa yang lagi ganggu kamu, makanya aku ga mau bikin kamu ribet lagi sama masalah-masalah aku yang sepele ini." 

Saga mengurai pelukan mereka. 

"Jadi kalau tadi aku ga tanya kamu ga mau cerita?" 

Perempuan itu menggeleng. "Aku ga bakal cerita dan pasti berusaha baik-baik aja. Karena aku tau masalah ini juga cuma ketakutan-ketakutan aku aja Ga." 

Dia menarik nafas yang dalam lalu melanjutkan, "Aku capek sama diri aku yang ini, jadi aku mau berubah juga biar kamu makin nyaman. Aku ga mau bikin diri aku sendiri repot sama apa yang ga bisa aku kontrol. Ternyata ga mudah yaaa. Aku kadang ditengah-tengah kerja suka tiba-tiba kangen kamu, atau tiba-tiba aja mellow ngerasa kamu udah ga sayang aku lagi, atau yang lebih ekstrimnya aku ngerasa kayak aku ga pernah jadi pilihan kamu." 

Saga langsung mengenggam tangannya, "Heiii, ga boleh mikir gitu dan ga ada masalah yang sepele. Aku selalu disini." 

Aku selalu disini, I'm here. Kalimat-kalimat yang selalu ampuh menjadi obat penenang buat Dee. Saga tidak menjanjikan apapun di masa depan, tapi Saga tahu kalau saat ini ketika Dee membutuhkan tempat yang nyaman Saga berada di sampingnya. 

Dee mengangguk, "Iyaa, itu yang lagi berusaha aku kontrol. Gapapa yaaa. Aku gapapa. Cuman berisik aja. Aku sayang kamu." 

"Aku sayang kamu." Saga tersenyum. 

"Kali ini sayangnya lebih besar ga?" Tanya Dee mencairkan suasana sendu yang ada di antara mereka. 

"Ga deh sama besar kayak kamu." Jawaban Saga langsung membuat raut muka Dee menjadi datar. 

"Tau pacarnya lagi overthinking bukannya bilang iya aja gituloh Mas." 

"Katanya tadi gapapa." 

"Ohh gitu yaa Saga Bramantya cara mainnya." Dee menyipitkan mata dan tangannya sudah kembali bersilang menandakan sikap defensif. 

Saga tertawa kembali memeluk Dee dengan tangan Dee yang tetap menghalangi pelukan itu. 

"Ayok balik aku kangen roti bakar buatan kamu." 

"Bikin sendiri." 

Saga tertawa mendengar jawaban Dee. 

"Nanti abis makan roti bakar kita manja-manjaan kayak yang kamu bilang." 

"Oke. Let's go.

Menurut Dee sangat mudah ketika membangun hubungan dengan orang yang sama-sama ingin membuat pasangannya nyaman. Maka dia maupun Saga berusaha untuk menjadi tempat ternyaman keduanya saling bercerita. Alasannya sesederhana karena Dee sayang Saga begitupun sebaliknya. Saga menghormati Dee sebagai orang yang dikasihinya begitupun Dee. Sesederhana kalau tidak ada Saga mungkin Dee akan merasa kehilangan tempatnya bersandar. Kalau tidak ada Dee, Saga merasa dunianya tidak akan lagi berisik. 

- tbc. 

0 comments: