Seberapa Dekat Dengan Kematian?
[Sebuha renungan, setidaknya untuk aku nanti di masa depan]
Seberapa dekat kita dengan kematian?
Akhir-akhir ini di usia yang sebentar lagi memasuki ke 27 tahun banyak hal berlalu lalang di kepala mungil ini. Salah satunya adalah kematian.
Berlatar Gunung Merapi bau hujan yang baru saja reda menambah syahdu percakapan yang terjadi saat itu. Dua buah kopi hitam khas merapi mengepul menandakan kalau cuaca dingin dan panasnya air hitam pekat itu bertemu.
"Memangnya tidak mau hidup lebih lama?" Laki-laki itu bertanya kepada perempuan yang sedang menatap Merapi. Gunung Merapi yang dikelilingi awan disekitar puncaknya.
"Jujur, dengan kondisi seperti ini, Aku hanya mau bertahan di umur 24 tahun? atau paling lama mungkin di 26 tahun. Sisanya jika lebih lama, maka Tuhan amat sangat baik dengan ku memberikan bonus untuk hidup."
Banyak diam setelah kalimat itu terucap oleh ku.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Bukan kah hidup itu melelahkan? Untuk apa? ditinggalkan dan meninggalkan tidak ada bedanya? Apa yang ingin dituju? Aku sudah merasa cukup."
Seberapa dekat kematian itu?
Seberapa sering kematian itu menghampiri kita dikehidupan sehari-hari?
Maka aku yang saat ini berusia 26 tahun kembali bertanya kepada diriku sendiri tentang kematian.
Aku akan lebih merasa dekat dengan kematian ketika sedang terbang ketimbang merasa sakit teramat sakit akibat luka pada bagian tubuh ku. Bahkan kopi hitam itu kembali membuat luka yang tidak pernah ku gubris. Aku mulai berpikir, apa yang bisa membuat ku bertahan untuk tidak mati?
Membangun sebuah keluarga? Apakah mungkin? Membahagiakan mereka, orang-orang disekitar ku?
Maka definisikan hidup itu untuk ku.
Siapa aku sebagai manusia yang bisa menentukan seberapa lama aku akan hidup. Jahat sekali aku yang itu bisa bisanya menyerah dan hanya memikirkan lelahnya saja. Bukankah Tuhan sudah amat sangat baik bukan hanya memberikan rasa sakit tetapi banyak tawa dan bahagia sepanjang hidup ini.
Bukankah sebelum lahir, kita telah sepakat pada Tuhan kalau hidup adalah pilihan yang kita pilih.
Hiduplah. Bukankah bersama kesulitan pasti ada kemudahan?
Angka pada pajangnya usia tidak usah terlalu dipikirkan, hiduplah.
Tak apa jika sesekali kematian menghampiri pikiran mu yang berisik itu. Tak apa. Mungkin saat itu kamu hanya lelah dan penat. Istirahatlah. Kemudian kembali hidup. Hiduplah sepanjang yang Tuhan mau. Sepanjang yang Tuhan tentukan. Hiduplah. Bertahanlah walau banyaknya luka yang akan kamu rasakan, tolong bertahan. Tawar meawarlah pada Sang Maha Penyembuh Segala Rasa Sakit, mohon sembuhkanlah, ringankanlah, permudahlah dalam melawan segala rasa.
Hiduplah.


0 comments: