Sky Has No Limit
Kalau aku meminta apakah Tuhan akan mengabulkannya?
Laki-laki itu secara perlahan membuatkan tempat nyaman agar aku bisa pergi dari tempat yang tidak seharusnya aku singgahi. Senyuman, tawa, suara, celotehan-celotehan tidak penting, hingga nasihat bapak-bapak ala dia yang menenangkan. Hampir semua yang dia mampu akan dia lakukan hanya untuk membuat tempat nyaman baru untuk ku.
"Sky Has No Limit." Kata ku tiba-tiba sambil melihat ke arah luar. Jalanan yang basah karena tetesan air hujan, banyak motor yang berlomba untuk dapat cepat-cepat sampai tujuannya karena takut akan semakin membasahi tubuh mereka. Lalu laut menjadi latar belakang semua pemandangan yang sedang aku lihat.
"Hmmm... Mulai deh, mikir apa sihh?" Dia menanggapi dengan membelai tangan kanan ku dengan tangan yang bebas dari setir lalu fokus tetap ke arah jalan dan kemudi.
Aku tersenyum berbalik menatapnya. Hari itu, dia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, membuat penampilannya semakin mature.
"Nope, just think about Sky..." aku membalas genggaman tangan itu dengan erat. Hangat genggaman itu seolah memberikan aku energi kalau dia tidak akan kemana-mana akan selalu berada di samping ku.
I wish I could do the same.
Mungkin yang banyak dia rasakan di dalam genggaman ku adalah ketakutan-ketakutan ku atas kehilangan dan lepasnya genggaman tangan itu.
"Kenapa sayang? Ayoo coba cerita pelan-pelan."
"Cuman beberapa pikiran random aku aja."
"Dan itu adalah...?"
Aku menarik nafas ku dalam dan mulai mengeluarkan hal-hal berisik yang ada di kepala ku ini,
"Kata orang sky has no limit, aku jadi mikir... Tuhan juga ga pernah punya limit. Minta, apapun minta aja sama Tuhan dengan tidak tahu diri kalau apa yang kamu minta itu pantas atau engga yang penting minta aja, karena ini mintanya sama yang Punya Dunia Dan Segala Isinya. Tapi akhir-akhir ini aku lagi banyak mikir pantas kah apa yang aku pinta ini kepada Tuhan?"
Genggamannya semakin erat. Kali ini bukan hanya genggaman aku saja yang sepertinya penuh dengan ketakutan.
"Maka berserahlah pada Tuhan. Kita ikuti bagaimana mau-Nya Tuhan atas hidup kita dengan tetap berusaha dan bertawakal. Bukankah kita juga cuman manusia biasa yang hanya bisa menjalani saat ini? tetap pintalah apa yang kamu mau pada Tuhan, biar Tuhan yang mengatur baiknya. Lagian yaa manis-ku dalam menjawab doa tiap umatnya Tuhan juga punya caranya masing-masing kan?"
Dia menghentikan mobil di bahu jalan yang langsung berhadapan dengan laut.
"Sini peluk dulu, kepala kamu lagi berisik kayaknya."
Ah... mungkin jika suatu saat aku harus melepaskannya maka hal ini yang akan selalu aku rindukan tentang dia. Bagaimana dia mengerti dan menjadikan dirinya sebagai safe place-ku. Yang menjadi lawan kami bukan hanya keadaan tetapi juga waktu.
Maka dalam peluknya banyak pinta ku kepada Tuhan, salah satunya adalah menjadikan tempat ternyaman dan bersandar untuk ku ini bisa terus lebih lama. lebih lama. lebih lama.

0 comments: