Aku Tidak Ingin Mati, Aku Hanya Berduka
Tuhan Maha Memiliki, Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Kuasa, Tuhan Maha Pengampun, Tuhan Maha Penyayang, Tuhan Maha Agung, Tuhan Maha Segalagalanya,
Aku tidak ingin mati, aku hanya berduka.
Drama yang akhir-akhir ini aku tonton dan kata-katanya selalu terngiang adalah,
Kemarin sudah berlalu. Besok belum datang. Hari ini masih menjadi misteri.
Aku sungguh-sungguh meminta maaf kepada orang-orang sekitar ku karena akhir-akhir ini sering sekali aku mengatakan aku tidak sanggup, mau nyerah aja, aku capek, bunuh aja aku, ga bisa aku bunuh diri, ambil aja aku, aku lelah. Aku minta maaf.
Aku minta maaf karena semakin membuat muak dengan ku atas kehancuran aku sendiri. Iya aku tidak hancur, aku hanya tidak tahu caranya bangun. Aku minta maaf khususnya kamu.
Aku kembali kehilangan aku, aku berusaha tegar namun semakin lelah rasanya berpura-pura. Semakin lelah tersenyum dan mengatakan aku baik-baik saja. Aku semakin lelah. Kalau lelah istirahat? Betulkan?
Aku tidak tahu caranya istirahat. Aku menyerah. Tuhan.. maafkan aku. Di saat aku menulis ini, aku sedikit sekali menyertakan Kamu di dalamnya. Dulu, ketika sebelum kehilangan kamu, aku meminta dan terus meminta tanpa sadar untuk diberikan ketenangan. Ternyata ketenangan yang dimaksud mungkin adalah tidak melekatkan sesuatu dengan aku.
Kamu bukanlah milik-ku bahkan hewan yang amat ku sayangi bukanlah milikku. Tuhan ingin memberitahu aku kalau itu semua bukan milikku, terlebih aku bukanlah miliku sendiri.
Aku tau, aku mengerti aku sedih ini akan terlewati, masih banyak orang di luar sana yang lebih lelah, aku masih memiliki banyak sekali support sistem, aku tahu. Aku amat tahu. Kalau aku masih harus tetap hidup. Terlebih amalan ku belum banyak untuk pergi ke dunia selanjutnya aku amat tahu.
Yang aku tidak tahu adalah bagaimana sedih sewajarnya ketika hal-hal yang paling ku sayangi diambil dari hidupku, tiba-tiba. Semua dalam kedipan. Luka lama atas kehilangan masih belum sembuh, belum mengering, bahkan terlihat masih menganga lebar dengan nanah di sana sini. Kehilangan selanjutnya seperti luka kembali ditusuk-tusuk semakin lebar dan permasalahan-permasalahan lainnya menaburi luka itu dengan garam.
Bagaimana aku bertahan dalam duka itu? Bagaimana aku bertahan? Melibatkan Tuhan, selalu. Apa mungkin aku kurang kuat yaa melibatkan Tuhan? Apa aku terlalu kuat yaa menggenggam yang tidak seharusnya ku genggam?
Hancur...
Lebur...
Entah tidak bersisa, tangan yang dihentakkan, luka yang semakin semakin dalam, sudah ya.
Bagaimana caranya bangkit? Kamu yang mengajari meninggalkan, kamu juga yang pergi meninggalkan.
Sudah yaa aku. Sudahi sedihnya yaa. Sudahi dukanya.
Kamu tidak berharga dimatanya.
Kamu tidak diperjuangkan.
Kamu tidak lagi menjadi prioritasnya.
Kamu tidak lagi disayanginya.
Sudah yaa, sudah... sudahi dukanya. Kasihan dirinya sendiri, terluka sebegitu dalamnya. Sudah yaa. Jangan bersedih terlalu dalam lagi. Jangan semakin hancur lagi. Ayo berduka sewajarnya. Bagaimana wajarnya? Sebagaimana orang-orang yang katanya bersedih secukupnya.
Aku juga berusaha, bukan terus melulu soal mati yang ku bicarakan.
Aku juga mau hidup,
aku juga mau hidup,
aku juga mau hidup.

0 comments: