Pagi Itu...

13:58 LuqyLugy 0 Comments

 
Pagi itu, aku melihat putri kecil-ku yang saat ini sedang duduk sambil memperhatikan beberapa orang yang berlalu lalang di jalan. Sesekali dia akan bertanya kepada ku soal kehidupan yang dilihatnya contohnya, ketika diseberang jalan dia melihat seorang anak kecil menggunakan seragam cukup lusuh karena berulang-ulang digunakan sedang membawa kotak yang berisi kue-kue untuk ditawarkan kepada orang-orang yang sedang menunggu lampu berganti berwarna hijau, tidak bersekolah. 

"Mama, kenapa kaka itu tidak sekolah?" Tanyanya dengan mengikuti gerak gerik anak yang sedang menawarkan dagangannya. 

Aku cukup terkejut dengan pertanyaan anak tiga tahun ini. Satu sisi aku merasa cukup bangga karena anak sekecil itu sudah memiliki empati dan mempertanyakan hal-hal yang menurut dia tidak 'normal'. Sisi lainnya aku bingung menjawab pertanyaan malaikat kecilku ini. 

"Menurut Aya kenapa?" Tanya ku kembali. 

Dia menatap ku meminta penjelasan dengan kedua alisnya menyatu, cukup sebal. Sama seperti Papanya yang tidak suka jika pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Ah, tidak hanya itu tatapan mata sebalnya juga sangat mirip Papanya. 

"Aya ga tau Mah. Kalau tau Aya tidak bertanya." 

Kali ini dia merengut dan mengambil botol minum air putih untuk meminumnya. Refleks tangan ku membantu dan membersihkan sisa air putih dari sudut bibirnya. Setelah selesai dia mengambil potongan kue. Lalu kembali menatapku, menuntut jawaban. 

Rambut hitamnya yang terurai sampai bahu serta bibir mungilnya yang mulai mengunyah kue itulah yang ku wariskan pada anak kecil ini. Sisanya diambil oleh Papanya, hingga kulit putih dan hidung mancungnya juga milik Papanya. Untung saja sifat cerwetnya lebih didominasi dari aku. Tidak terbayang kalau sifat cerewet Papanya yang dia wariskan, akan ada versi perempuan dari suamiku yang akan membayangi ku sepanjang hidup ku. 

Aku menyesap kopi ku sejenak, berpikir. 

"Hmmm... Kakanya tidak seberuntung Aya yang diberikan kemudahan oleh Allah sehabis pulang sekolah bisa main bareng Ninik dan langsung bisa makan. Kakanya mungkin tidak seberuntung Aya yang kalau mau sekolah tinggal minta Om Adi buat berangkat atau ada Papa yang bisa anter Aya. Kakanya tidak seberuntung Aya yang kalau mau makan tinggal bilang Mama kalau Aya laper, atau minta Bi Imah buat masak. Kakanya harus berjuang buat sekolah dan makan dengan jualan." 

Aku menghela sedikit menatap anak ku, "Lohh... kok sedih?" 

Aku kaget melihat dia yang sudah hampir meneteskan air mata. Dan benar saja dia sudah akan menangis. Oke kalau sifat yang satu ini menurun dari aku. Langsung saja ku peluk dia dan ku dudukan dipangkuan ku.

"Aya ga boleh nangis dong... Aya harus semakin bersyukur sama Allah soalnya Aya dikasi banyak sekali berkah. Jadi sekarang kalau makan ga boleh dibuang-buang yaa Nak. Usahain ga minta Papa yang abisin tapi Aya harus bisa abisin sendiri. Tanggung jawab sama apa yang Aya minta buat Aya habiskan. Terus tidak boleh marah-marah sama Papa dan harus semakin sayang sama Papa. Aya bisa sekolah dan kalau mau makan tinggal makan. Itu semua Papa yang kerja. Papa bisa kasi uang ke Bi Imah buat masak. Lalu Aya harus makin rajin ibadah juga minta sama Allah supaya Papa sama Mama sehat biar bisa nemenin Aya terus nanti sampe Aya besar." 

Walah... salah kayaknya nih. Tangis anak perempuan ku ini semakin kencang. 

"Huaahhh... Mama maafin Aya." Dia mendekap ku. Aku tersenyum sambil terus mengelus punggungnya dan menenangkan buah hatiku. 

Tangisnya mulai mereda perlahan dan sudah mulai mengintip dari pelukan ku. Ku tengok mukanya yang penuh air mata dan hidung yang merah juga berair. Ku ambil tisu untuk membersihkan muka cantiknya, cetakan bapaknya banget. 

"Gimana nanti kita beliin kakanya makanan terus kita kasi? Jadi Aya ga sedih lagi?" Dia menganggguk. 

"Kue juga Mah?" 

"Iyaa... tapi kuenya Aya dihabiskan dulu, cokelat angetnya juga kan tinggal dikit itu."

Dia kembali ke kursinya dan mulai memakan sisa kue yang dipesannya. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang semakin hari makin ada saja. 

"Papa dioleh-olehin apa Mah? Abang juga?" 

"Oiya yaa, lagi ada Abang di rumah. Aya mau bawain Papa sama Abang apa?" 

Dia berpikir sangat serius. 

"Kalo Abang dipesenin burger aja Mah. Papa, bakso?" 

Kok jauh yaaa... antara pesenan abang sama bapaknya. Hp yang sejak tadi berada di atas meja tiba-tiba saja bergetar, benar saja lelaki ku yang saat ini mungkin sudah selesai melakukan olahraga pagi-nya sudah mencari kami berdua langsung saja ku angkat telfonnya. 

"Sayang, dimana?" Terpampang wajahnya yang penuh peluh sehabis berlari yang mungkin baru delapan kilo. 

Puteri kecil ku langsung menghampiri aku dan mengambil benda pipih itu. 

"Pah, bakso mau?" Tanyanya excited

"Bakso? pulang aja deh Ay... Papa mau nasi goreng Mamah." 

Langsung saja muka si kecil membrengut karena idenya langsung dipatahkan oleh si bapak. Hp yang dipeganggnya diserahkan kembali kepada ku. Aku cekikikan sedikit, 

"Loh kok ngambek?" 

"Persis kamu. Sayang, dimana loh? Ga dijawab aku."

"Loh hpnya tadi diambil Raya, Bub. Masih di cafe tapi ini mau balik kok. Kamu udah berapa kilo? masih mau lari?" 

"Iyaa. Setengah jam lagi yaa, tinggal jalan pulang. Langsung pulang aja Sayang. Bikinin aku nasi goreng sih, nanti aku balik sama gojek aja." 

"Papa sayang Mama aja. Ga sayang Aya." Protes perempuan kecil yang berada di sampingku ini. 

"Papa sayang Aya tapi masa bakso pagi-pagi sih Nak?"  Protes Papanya. 

"Yaudah tetep beli bakso, nanti nasi gorengnya pake bakso gimana?" Tawarku kepada keduanya.

"Setuju" Jawab keduanya.

"Tapi Abang tetep dibeliin burger yaa Mah?" 

"Loh kok Abang burger, Papa bakso?" Protes suami ku di seberang sana. 

"Ide anak kamu." 

"Anak kamu juga. Ajaibnya sama kayak kamu."

"Yaa.. Abang bedalah Pah, Aya ga pernah ketemu lama jadi harus beda sama Papa." 

Muka Papanya mau kembali mendebat tapi sudah lelah dan hanya sanggup menjawab, oke. Si kecil sudah kembali kepada kuenya yang sudah hampir habis dan lelaki ku sekarang sudah melakukan dadah dengan mengirimkan kami kiss bye.

Pesenan kami datang untuk anak kecil yang sejak tadi dilihat oleh Raya. 

"Ayok Ay, abisin kuenya lalu kita beliin sarapan buat Abang sama Papa. Dan kita harus sampe lebih dulu dari Papa, nanti Papa manyun kayak Aya tadi kalau nasi gorengnya belum ada. Oiya, Raya.. dikurang-kurangi manyun sama Papa." 

Dia tersenyum, mengangguk. 

Sebelum drama lagi... puteri kecil ku kini sudah siap membawa bungkusan pesanannya dan menggandeng tangan ku. 

0 comments: