Dicerita Lainnya
Aku tersenyum mendengar dia bercerita tentang hari itu. Hari dimana dunia sedang sangat membutuhkannya. Hari ini sepulang kami dari kerja, kami sempatkan untuk bertukar cerita. Bukan kegiatan rutin kami. Hanya sesekali ketika kami merasa sedang butuh didengar atau hanya ditemani untuk meminum es kelapa muda.
Memiliki seseorang yang bisa dijadikan sosok human diary memang menyenangkan dan tidak semua cerita perlu ditanggapi, terkadang yang dibutuhkan hanya mendengar, melihat, dan tersenyum atas reaksinya pada dunia.
"Sayang... denger aku kan?" Dia memprotes karena sepertinya aku tidak mendengarkan dan hanya melihat dia yang sedang bercerita.
"Aku dengerin. Kamu yang diminta ini itu sama bos-bos kamu, sementara itu tugas remeh dan harusnya bukan kamu yang kerjain karena kerjaan kamu sudah banyak. I'm listening Babe, all my ears for you." Kata ku.
Dia menghela nafas panjang lalu melihat pemandangan yang ada di depan kami. Laut lepas dengan sesekali suara pesawat yang lewat entah pergi atau baru datang di pulau ini. Tempat pelarian kami.
"Aku capek dan mulai mengantuk." Protesnya.
"Mau aku yang nyetir dan kita pulang aja?" Tawar ku melihat dia yang sudah mulai menarik mundur sandaran kursinya.
Digenggamnya tangan ku erat, "Engga, gini aja dulu. Aku mau istirahat di sini lebih lama dulu sama kamu."
Aku ikut menyandarkan kursi mensejajarkan diriku dengan dirinya. Melihat dia menutup matanya beristirahat sejenak. Terlihat lelah di raut wajahnya bagaimana dunia hari ini membuat ia repot menyerap seluruh energi cerianya. Dia lelaki hebat ku yang selalu memperjuangkan dan teguh dengan apa yang dia inginkan. Sesekali mengomeli tiap hal yang ada karena dia sangat menyukai stabilitas kehidupan. Maka, ketika ada yang tidak sesuai dengan kendalinya dia akan merasa tertekan dan tidak suka. Namun, hebatnya adalah dia masih bisa mengontrol itu semua dalam kata baik. Bagaimana bisa aku tidak mengatakan dia lelaki hebatku?
Pernah di suatu hari dunia ku sedang tidak baik-baik saja. Dia menawarkan segala apapun itu untuk membuat aku merasa lebih baik. Dia akan mengusahakan agar aku terutama kami baik-baik saja. Yang pada akhirnya dengan sikapnya itu aku hanya butuh dipeluk dan meminjam dadanya untuk sejenak bersandar dan beristirahat.
Dia terbangun, manik mata cokelatnya yang terus menerus membuat aku jatuh cinta. Rahang tegas semakin menambah tingkat ketampanan lelaki hebat ku ini. Hari ini dia menggunakan baju navy dengan celana abu. Dia akan selalu ganteng apapun yang dia gunakan akan selalu membuat aku jatuh berkali-kali terutama pada tatapan matanya. Dia menghadap ku yang sedari tadi sibuk dengan pikiranku sendiri mengagumi dirinya.
"Apa? Jangan gantian loh jadi kamu yang mikir aneh-aneh." Katanya dengan sedikit nada mengancam dan ada terdengar nada khawatir juga.
Aku hanya tersenyum melihat reaksi lebaynya. Dia dan kekahwatiran atas berisiknya dunia ku. Padahal yang sedang ku lakukan adalah aku yang tidak memiliki kendali terus menerus jatuh cinta pada dirinya.
"Sayang..." Kali ini ia memanggil dengan elusan halus di tangan ku. Seluruh perlakuannya menenangkan hari ku. Ada terbesit rasa bersalah ku, tidak bisakah aku yang menenangkan dia? Kenapa jadi aku yang baik-baik saja ini malah yang ditenangkan.
"Apa sihhh cintaku, sayangku, kekasih hatikuuu." Ku toel hidung mancungnya karena terlalu khawatir.
"Yaa kamu apa? jangan bikin aku khawatir."
"Engga Babe. Aku baik-baik aja." Ku ubah cara ku duduk dengan bersandar pada dashboard mobil dan menatapnya. Eugh, aku mencintai seluruh yang ada pada dirinya terutama manik mata cokelatnya.
Ku melanjutkan, "Aku bersyukur. Aku bersyukur dan sedang sangat jatuh cinta pada dirimu." aku tertawa sendiri mendengar aku mengatakan itu. Dia ikut tersenyum sambil sedikit memalingkan muka.
"Ihhh.. salting. Cieee..." Goda ku sambil menoel pinggang yang sudah ada sedikit tumpukan lemak. Hmmm.. sepertinya kapan-kapan akan ku protes yang satu itu.
Ku genggam kembali tangannya, "Oke serius, terima kasih yaa sudah hidup dan memilih aku sebagai rumah kamu. Memilih untuk bersandar dan berlindung pada kita. Padahal banyak dari aku yang juga hanya mengeluh sana sini tentang dunia ku. Terima kasih karena kamu sudah hebat menghadapi apapun yang terjadi pada diri kamu. Kamu hebat, Sayang. Terima kasih karena memilih untuk bertahan dan tidak menyerah. Terima kasih karena dengan hadir kamu setidaknya buat aku salah satu makhluk Tuhan ini jadi bersyukur. Apalagi orang-orang yang kamu tolong. Terus jadi manusia baik ya. Aku tau ini kehidupan pertama kita di dunia, jadi banyak kurangnya dan pasti ga pernah sempurna. Nah, aku benar-benar berterima kasih karena kamu memberikan kesempatan buat aku mengenal dan melihat kamu dari sangat amat dekat, mencintai kamu dengan segala ketidaksempurnaan ku. Terima kasih karena memberikan aku ruang dikehidupan kamu. Ketika orang lain membutuhkan kamu, terima kasih karena memilih aku sebagai orang yang kamu butuhkan. Terima kasih sudah mau berjuang sama-sama yaaa."
"Tuhkan Sayang, kamu pasti lagi mikir aneh-aneh. Pulang aja deh kita, pulang."
Kali ini aku benar-benar gemas sama laki-laki yang satu ini, "Aku ga mikir aneh-aneh. Aku berterima kasih karena aku sangat-sangat sayang sama kamu. Bisa aja di cerita lain kita ga seberuntung di cerita kita yang ini. Aku dan kamu perlu berjuang yang sangat dengan amat untuk bareng-bareng. Sementara di cerita ini, aku dan kamu benar-benar bersama buat melawan dunia. Tuhan Maha Baik banget kan? Di cerita ini aku bisa menggenggam tangan kamu seutuhnya. Suka, duka kita lewatin sama-sama. Ada kabar bahagia kamu orang pertama yang ada dipikiran ku untuk ku bagi ceritanya. Begitupun sebaliknya. Aku ga punya apa-apa lagi selain berterima kasih dan bersyukur pada Tuhan Yang Maha Baik."
"Jadi Sayangku, aku dari tadi tidak mikir aneh-aneh. Aku mikir betapa Tuhan baik sekali pada ku dengan bisa terus bersama dengan kamu. Kamu mau protes dunia sama aku tiap hari juga gapapa. Paling kalo aku udah pegel dengerinnya, aku tinggal cium kamu sambil bilang 'sabar yaa sayang, ada yang bisa aku bantu buat pukulin? biar dunia kamu baik-baik aja?'" Ku nyengir dengan perkataan ku sendiri.
Ku tatap mata yang kali ini sulit ku artikan makna pandangnya.
"Terima kasih juga yaa." Dia tersenyum lalu menggapai ku untuk dipeluknya.
"Hidup yang lama yaa sama aku. Aku sayang kamu." Bisiknya.
"Aku lebih menyayangimu." Kembali ku berbisik.
"Ciuman ga sih Babe?" Katanya lagi sambil masih mendekap ku.
"Udah nanti aja. Pelukan dulu. Malu sama laut." Isengku.
Sore itu kami akhiri dengan perasaan penuh syukur karena Tuhan Maha Baik memberikan kami kesempatan untuk selalu saling menemani dan melengkapi.

0 comments: