All I Want

18:35 LuqyLugy 0 Comments

 


All I want is nothing more
To hear you knocking at my door
'Cause if I could see your face once more
I could die as a happy man I'm sure

Seorang perempuan ditemani dengan sebatang rokok memandangi langit malam itu. Terputar terus lagu All I Want dari Kodaline berulang-ulang kali. Sejak pertama dia mendengarkannya dia menangis tanpa suara lalu berubah menjadi jeritan penderitaan dengan amarah hingga sekarang, saat ini tidak ada lagi yang tersisa untuk merasakan. 

Perihal penderitaan manusia memang paling perasa. Dibandingkan dengan kebahagiaan dia tidak akan pernah merasa. Perihal bahagia tidak pernah dihitung-hitungnya berapa banyak Tuhan berikan kenikmatan. Tetapi ketika tangisan yang diberikan oleh Tuhan, manusia menjadi makhluk yang paling jago bertanya mengapa dan apa yang telah diperbuatnya. 

Dia tersenyum singkat memandangi malam itu. Gemerlap lampu dari gedung-gedung yang lebih tinggi menghiasi dengan indah lagit malam. Cahaya lampu dan bintang beradu memperebutkan diri untuk menerangi malam itu. Cerah tapi tidak dengan isi kepala perempuan itu. 

Entah puntung rokok yang keberapa telah dihisapnya dengan hanya memandangi malam dan tetap hidup di dalam memori. 

"Mau sampai kapan melarikan diri dengan rokok?" Tanya suara laki-laki yang tidak benar-benar ada di sampingnya. 

Perempuan itu tidak menjawab apapun atas pertanyaan si laki-laki itu. Dia terus menatap jauh ke depan dengan memori menuntunnya pada hari dimana kepulangannya. Pulang... tetapi bukan benar-benar rumah. Laki-laki itulah tempat pulangnya. Bangunan kecil yang hanya beberapa petak, tidak terlalu penuh debu tapi laki-laki itu penyiapkan tempat peristirahatan dengan baik. 

Dia menyambut perempuan itu dengan penuh senyuman, "Surprise?" 

Si Perempuan tersenyum bahagia. Tidak menyangka kalau kekasihnya yang berjanji akan menjemputnya di bandara justru malah menunggunya di rumah kecil itu dengan peluh karena lelah membersihkan ruangan yang sudah cukup lama tidak ditempati. 

"Hmmm.. jadi ga bisa jemput tuh mau ngasi surprise ini?" Si perempuan menghampiri dan memeluk erat laki-laki yang penuh keringat. Wangi favoritnya. 

"Sayang, aku bau loh ini." 

"Nope, kamu orang paling wangi sedunia." 

Perempuan itu mengingat kembali bagaimana dia benar-benar memiliki rumah setelah sekian lama tidak merasakan benar-benar pulang. Merasa paling dicintai, disayangi dan diperjuangkan oleh seorang laki-laki. Senyumnya perlahan memudar ketika dia harus dihantam kenyataan kalau hal itu mungkin tidak akan bisa dirasakan kembali. 

When you said your last goodbye
I died a little bit inside
I lay in tears in bed all night
Alone without you by my side

Membayangkan laki-laki itu menghampirinya di depan pintu rumah dia tidak berani. Ada kalimat terakhir yang benar-benar menampar untuk membawanya kembali pada titik tanpa pengharapan. 

"Aku masih sayang kamu, kok. Tolong jangan mikir aneh-aneh." Suara yang benar-benar tidak ada, kembali menyadarkannya pada dunia dan lampu-lampu tengah kota. 

"Berisik. Kamu ga nyata. Yang nyata sudah bahagia. Kamu ga benar-benar ada." Jawab perempuan itu dengan kembali menghisap rokoknya dengan tenang. Kembali pada memori-memori kebahagian. 

Memori yang ia pinjam agar tenang mau berteman dengannya malam ini. Kalimat yang dikatakan oleh laki-laki itu menghapus dirinya untuk berharap kembali. Bahkan menusuk memaksa ia untuk menutup ingatan-ingatan bahagia kalau semua hanya semu. 

"Aku menyayangi mu. Maka aku melepaskanmu." Kembali kata-kata dengan suara laki-laki itu menggema menemani malamnya. 

But if you loved me
Why did you leave me
Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I'll find somebody

Kalau memang menyayangi mengapa meninggalkan. Karena ga tau kapan waktu yang tepat? Kenapa harus meninggalkan ku ketika aku sedang di dunia yang sangat amat mencintaimu. Mungkin memang benar kata orang yang kamu bilang pada ku jangan pernah terlalu sayang pada orang karena kita ga pernah tahu bagaimana ia akan menyakiti diri kita?

"Aku yang jahat. Makanya hubungan kita berakhir." suara itu lagi. 

Siapa kamu yang bisa menentukan baik buruknya diri kamu sendiri? Kamu yang selalu bilang, apapun kita bicarakan baik buruknya suka atau tidak suka kita bicarakan. Menyakiti ku? Siapa kamu yang berani menentukan aku telah sakit atau tidak. Walaupun ternyata memang sakit. 

Yang ingin ku lakukan sekarang adalah berteriak padamu dan menamparmu, terlambat. Namun sekarang aku hanya diam dengan sebatang rokok ini. Kamu tidak lagi bertahan pada hubungan ini. Kamu yang memutuskan untuk pergi. Kamu tidak mau dipertahankan. Aku mengingat jelas kata-kata itu. 

Tuhan sepertinya sudah lelah memberitahukan perempuan itu untuk berhenti sampai akhirnya dibiarkan si laki-laki menyakiti manusia kecil itu agar dia sadar untuk mundur. 

"Maaf karena meninggalkan mu, tapi aku tidak benar-benar pergi." 

Dan setelah kalimat menyakitkan itu aku tetap memutuskan untuk bertahan, kali ini dalam diam. Dan dalam senyuman penuh kepalsuan pada dunia kalau aku baik-baik saja. Aku mampu bertahan. Aku tidak bergerak dari dunia ku. Perlahan ku rasakan lelah juga menghinggapi kedua pundak ku. Kali ini aku bertahan, akan menjadi urusan masing-masing untuk bertahan atau tidak. Tetapi aku bertahan. Aku berdiam diri. Aku menunggu. Mungkin Tuhan akan sangat kasihan padaku, karena aku akan menjadi manusianya yang paling keras kepala. But here I am. Stay. Dengan diriku, berbaik sangka pada Tuhan. 

Kamu yang membawa bagian terbaik dari diriku. 
Kamu yang mengajarkan aku bahwa aku berharga. 
Kamu yang mengatakan aku untuk tidak bodoh. 
Sekali ini saja, biarkan aku bodoh untuk laki-laki yang membawa aku pada kehidupan terbaikku. 

Aku mencintai mu. Jadi biarkan diriku, jika kamu tidak ingin yasudah. Biarkan aku dan perasaan aku. When I said I swear to God want you to be my last, I really meant it. 

"Aku sayang kamu." 

Perempuan itu tersenyum mendengar suara yang sejak tadi menggema tanpa ada sosok. Mendengar suara yang sama persis dengan laki-laki yang amat disayanginya mengungkapkan sayang. Dia menjawab sambil menatap malam yang semakin cantik namun semakin ribut juga,

"Aku lebih menyayangi mu." 

0 comments: