Sang Maha Penulis Cerita Hidup

09:12 LuqyLugy 0 Comments

 


"Lucu yaa Ga, Bagaimana Sang Maha Penulis Cerita Hidup menuliskan cerita hidup KITA." 

Lelaki itu menatap aku dengan sendu. Penuh kesedihan dan perasaan bersalah. Bagaimana aku melewati kehidupan ku setelah ditinggalkannya, hal yang tidak pernah mudah. 

Hancur, semakin hancur. Kalimat lucu yang akhir-akhir ini sering aku dengar. Yaaa... memang kenyataannya aku semakin hancur dan memungut kepingan-kepingan ku, lalu kembali hancur dengan kepingan yang sudah berada di tangan ku. 

Hari itu, aku kembali menatap panggilan video dari kamu setelah lama kita tidak melakukannya. Kamu... seperti manusia yang kembali aku kenal. Lega menghampiri ku. Ah... dia bisa kuat, dia bisa kembali. 

Lalu, sekejap aku hancurkan kembali senyum itu. Kata mu, "Aku ga mau buat kamu semakin hancur." 

Aku menjawabnya, "Siapa yang menyerah?" dan kamu menunjuk diri mu sendiri. Kamu yang menyerah, tapi kita membicarakan itu dengan tenang, tidak lagi ada air mata, ataupun teriakan protes, hanya decakan protes kamu yang menyebalkan. 

"Apa yang menjadi milik mu pasti akan menjadi milikmu." Kata mu dengan senyum yang sudah tidak bisa aku artikan. 

Benar. Aku semakin hancur. Tapi kali ini ku pungut kepingan hidup itu lebih berani, dengan cepat kembali. Mungkin yang kamu takutkan melihat aku hancur. Tapi yang terlihat oleh ku adalah ketika kamu melihat aku hancur kamu semakin hancur. Kamu... menghindari perasaan hancur pada diri mu sendiri. 

"Tolong baik-baik saja" 

tolong baik-baik saja aku. 

"Happy happy yaa..." 

tolong bahagia juga aku.

"Gapapa semuanya akan terlewati" 

tolong bertahan aku.

Apa yang aku doakan untuk mu, selalu membuat perasaan ku menjadi lebih baik. Karena mendoakan mu bagian dari rutinitas mengembalikan kepingan ku yang hancur. Melihat mu tersenyum, dilukai oleh kamu berkali-kali dengan pesan yang hanya kamu baca saja, helaan nafas panjang ku... selalu membawa ku kembali kepada kamu. 

Sampai rasanya tadi pagi aku merasa sangat lelah. Lelah sekali, dengan rasa perih yang menggerogoti perut ku semakin sering menjalar ke dada kiri ku. Rasanya aku ingin pulang ke rumah dalam pelukan mama. 

Lalu aku seperti ditampar oleh suara bisikan dalam kepala ku, "Lelah itu artinya sebentar lagi sampai." 

Dan yaa... satu lagi, ketika kamu mengatakan "Apa yang menjadi milik mu, pasti akan menjadi milik mu." 
secara tidak sadar aku menjawab "How?" "Bagaimana caranya?" "Bagaimana?" itulah kebodohan ku. Hal yang seharusnya tidak ku pikirkan. Karena kamu dihadirkan oleh Tuhan juga dengan cara yang ku tidak sangka-sangka di luar dari "how" yang ku rencanakan dalam hidup. 

Aku menangis, kali ini aku menangis hancur kembali tapi tidak ku pungut potongan-potongan diriku. 

Kenapa yaa Ga, aku memikirkan yang bahkan bukan bagian dari diri ku untuk memikirkannya. Seketika aku seperti ditampar dalam pikiranku, biarkan AKU yang bekerja. Itu adalah bagian-Ku. 

Saat itu aku tau aku melewati batas. Batas kemampuan ku. 

Maka, Gama... aku tidak hancur. Kamu, kita membentuk aku yang baru. Aku yang mungkin tidak sok tau lagi soal kita dan hidup ku. Aku yang akan mulai mengusahakan apapun dengan diri ku sendiri dan doa ku. Aku ingin pulang dengan tenang dalam dekapan mama. 

Terima kasih... yaaa, nanti kalau memang kamu adalah miliku, maka aku ingin pulang dalam dekapan mu. Dekapan hangat mu sambil kamu lantunkan kalimat yang membimbing tiap-tiap orang kembali kepada-Nya. 

Tuhan, tolong yaa jangan biarkan aku mengakhir hidup ku sendiri. Biarkan aku mengikuti jalan cerita-Mu. Permudahlah Tuhan. Mudahkan aku mengikhlaskan-nya. 

0 comments: