Tuhan, Tolong Aku Mau Hidup
“Kamu tau ga kalau orang yang berbicara tentang kematian itu adalah orang yang justru merasa ingin merasa hidup?” aku berkata kepada lelaki di sampingku.
Saat ini kami sedang menyaksikan indahnya laut dengan banyak burung putih berterbangan. Panas sama sekali tidak mengganggu percakapan kami.
“Apasih… ngomong mati mati lagi, aku ga suka ah.” laki-laki itu mulai bersiap berdiri ingin meninggalkan aku,
Namun aku tetap berdiam diri tidak bergerak seinchi-pun sambil tersenyum menikmati suara deburan ombak dan membiarkan panas menyakiti kulit ku secara perlahan.
“Beneran. Dari buku psikiater yang aku baca terakhir adaloh orang yang justru pada saat dia membicarakan kematian itu, dia terlihat paling hidup. aneh kan?”
“Udah ahh ayok bangun, pulang aja. Ga ada mati-matian”
Dia memberikan tangannya agar aku berdiri mengikuti jejak langkahnya. Namun aku terdiam.
“Terus aku sadar kalau aku naik pesawat. Aku ketakutan sekali padahal aku lelah menjalani hidup, tapi di saat itu aku selalu ingin hidup.” Aku menatap laki-laki itu kali ini senyum dengan genangan air mata di mata yang belum menetes.
Aku berusaha setengah mati agar jika ada tetesan air mata pun tetap ada senyuman di wajahku. Aku berkata lagi,
“Aku mau hidup. Mau hidup yang lama… aku mau hidup. Aku mau hidup. Aku mau sembuh.”
“Kamu sembuh, kamu ga sakit.” laki-laki itu langsung memelukku. Pelukan hangat yang sudah lama tidak pernah ku rasakan. Pelukan menenangkan kalau semuanya akan baik-baik aja. Padahal aku tahu kalau semuanya juga tidak pernah mudah untuknya. Tapi kali ini aku tumpahkan semua ketakutan ku padanya. Ku peluk erat pelukan yang sudah sangat lama tidak pernah ku rasakan kembali itu. Aku takut, aku hilang...
“Nope… lately, aku ketakutan. Looks like it’s not getting better at all. Badan aku kayak ngomong bentar lagi, bentar lagi. Ada sakit yang ga bisa aku jelasin. Aku takut. Malem tadi aku tidur sampe rasanya dada kiri aku sakit. Aku takut ga bisa bangun paginya. Aku takut, aku mau sembuh, aku mau hidup… tapi lelah.”
Dia mengurai pelukan kami dan menatap ku sendu, “Tenanglah tenanglah… bahagialah bahagialah bahagialah.”
“Aku mau sembuh… atas luka-luka yang hanya bisa Tuhan sembuhkan, tolong aku mau sembuh.” Kata ku memohon menggenggam erat pada ujung bajunya tidak mau melepaskannya sebentar saja.
“Iyaa sembuh… kita usahakan sembuh itu yaaa…”
Perempuan itu terbangun dalam mimpinya, namun terasa pelukan hangat itu menyertainya selalu.
Tuhan, banyak berikan aku kekuatan untuk menahan rasa sakit yang sama sekali tidak bisa aku ucapkan. Bimbing dan temani aku Tuhan, aku coba berhenti untuk berharap pada makhluk. Tolong, kali ini... menangkan aku dalam pertempuran ku sendiri. Tolong...

0 comments: