A Cup of Coffee
Hamparan laut biru yang luas dengan kapal-kapal kecil dan angin yang perlahan berhembus seperti mengelus kedua pipi Dee yang sekarang mungkin sudah cukup memerah, karena beradu dengan terik matahari.
"Kenapa ga di bawah tenda sih Sayang?" Kedatangan Saga mengusik ketenagan Dee.
"Lagi pengen dipinggir pantai gini..."
Dee saat ini sedang berlibur dengan Saga, dia menggunakan gaun pantai dengan bunga-bunga putih dipadukan dengan cardigan cream tipis agar kulitnya tidak langsung bertemu dengan angin pantai. Sementara Saga dengan baju kaos putih dan celana cream senada. Keduanya sengaja berpakaian senada.
"Hmm.. kalo lagi begini biasanya lagi ada yang dipikirin. Mau dibagi?" Tanya Saga ikut duduk di samping perempuannya sambil menlingkarkan tangan dipinggang sang kekasih.
Tawaran itu disambut dengan gelengan kepala. Sebaliknya Dee menjadikan bahu Saga sebagai tempat bersandar.
"Begini aja. Aku udah bahagia banget, ngerasa pulang."
Saga tersenyum mendengar jawaban si iblis kecil. Perlahan dilihat Dee sudah menutup kedua matanya hanya merasakan angin.
Saga ikut bersandar pada kepala Dee. Benar, seperti rumah. Rumah baru yang secara perlahan mereka mulai bangun pelan-pelan dengan semua cobaan yang mereka cicipi, akhirnya benar-benar terasa seperti pulang.
"Sayang, inget ga yang aku cemburu terus aku kabur ke Bali?" Saga membuka matanya mendengar pernyataan Dee yang tiba-tiba mengingatkan Saga kejadian yang saat itu membuat dia pontang-panting menyusul si iblis kecil ini ke Bali.
"Ga boleh diulangi loh yaa Sayang." Saga menyentuh ujung hidung Dee, gemas.
Dee tersenyum tanpa membuka matanya, "Ga ada yang berniat mengulangi yaa Sayang. Aku cuman mikir... kita udah sejauh itu yaaa. Pisah lalu balik lagi sama-sama. Sampai sekarang... Terima kasih ya."
Saga duduk tegak membuat Dee membuka matanya. Mau tidak mau Dee duduk menatap kekasihnya dengan tatapan bertanya.
"Jujur deh, kamu lagi kenapa? Jadwal mens kamu juga kayaknya masih lama. Harusnya kamu lagi ga PMS loh. Kenapa sih Sayang?" Nada Saga mulai khawatir, takut Dee dengan segala pikirannya yang berlebihan.
"Tidak ada apa-apa Mas Saga yang gantengnya ngalahin idol K-pop ku." Kata Dee dengan mantap dan tatapan meyakinkan sambil tangannya mulai merapihkan rambut Saga yang tertiup angin. Ditatapnya Saga dengan penuh kasih.
Lalu diambil kedua tangan Saga digenggamnya, "Saga Bramantya, terima kasih yaa sudah hadir di kehidupan anak iblis ini. Padahal kan aku ga ada iblis-iblisnya yaa Sayang... eh lanjut dulu. Aku, Dee Suraiya merasa penuh syukur kepada Tuhan karena kamu datang bukan hanya sebagai pelengkap hidupku. Kamu datang sebagai penyelamat disaat aku susah payah bertahan, kamu ngasi aku harapan lagi buat hidup. Kamu buat aku yakin kalau aku berharga dan aku bisa berharap sama diriku sendiri. Terima kasih yaa Mas Saga sudah mau membangun rumah yang nyaman dan tenang sama-sama. Banyak sekali terima kasih aku karena kamu sudah mau memilih aku untuk bertahan dan kembali sama-sama untuk melewati ini semua. Kamu tuh kayak mukjizat yang Tuhan berikan ke aku. Hm... boleh ga yaa bilang begitu? Hehehe. Pokoknya terima kasih atas tangisan dan banyak sekali senyum dan tawanya. Kalau ada kata yang lebih menggambarkan aku sayang kamu dan aku cinta kamu itu yang aku rasain ke kamu. Terima kasih yaa Saga Bramantya. Terima kasih sudah hidup dengan baik dan mau bersama Dee Suraiya."
Dee tersenyum dengan tulus. Saga melepaskan genggaman tangan mereka dipeluk erat kekasih hatinya. Dibenamkan mukanya pada ceruk leher perempun kesayangannya. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Terasa elusan tangan Dee pada punggungnya membuat dia semakin sayang kepada perempuan yang sedang dipeluknya.
"Gak mellow loh yaa Saga Bramantya. Aku cuman mau ngomong itu. Rasa penuh syukur ku."
"Dee Suraiya ga boleh curang yaaa."
Dee tersenyum dia sangat merasa aman ketika Saga memeluknya erat seperti ini. Benar-benar seperti rumah.
"Jadi aku boleh minta dibeliin Tuku ga Sayang?"
Langsung dilepas pelukan itu oleh Saga dengan muka mengkerutnya, "Gak yaa Sayang. Kan kata dokter udah ga bisa ngopi dulu. Sayang ah, baru aja aku terharu sama makasih-makasih kamu."
Dan dimulai lah omelan Saga Bramantya... Tapi kalau Dee ga minta kopi kayaknya mereka sekarang masih pelukan. Dee menanggapi omelan Saga cekikikan, usil.
"Satu teguk aja deh kamu sisanya. Ngidam banget nih..." Nego Dee.
"Ngidam, ngidam... Oh aku hamilin beneran yaa kamu..." Ancam Saga.
"Hamilin aja, udah sah kok." Tantang Dee membuat Saga tersenyum menghentikan omelannya.
"Bener seteguk aja? abis itu aku hamilin ya?" Tawar Saga.
Dee tertawa mendengar tawaran lelakinya itu. "yaa kalo sampe hamil mah ga seteguk dong Sayang. Se-cup. SATU GELAS."
Dia mulai berdiri dan membersihkan gaunnya yang masih ada sisa-sisa pasir. Saga juga ikut bangun ikut membersihkan rok Dee dari pasir-pasir pantai yang masih menempel.
"Yaudah satu gelas, abis itu hamil yaa?"
Dee tertawa lalu menggenggam tangan Saga. Sambil berjalan mereka merencanakan kehamilan Dee menjauhi laut dengan penuh senyuman dan tawa.
We got that magic, baby
Sparks fly crazy every time we touch
Feels so surreal, it's otherworldly, extraordinary
Some may call it love
But you feel like magic to me
- Magic by John Michael Howell

0 comments: