Ujung Doa

04:42 LuqyLugy 0 Comments

 
Hari ini aku melihat kamu versi terbaru. Sangat baik, jauh lebih baik... Terlihat lebih gagah, kuat, hebat dan penuh wibawa. Memang susah mengetuk pintu yang sudah terkunci itu yaa? Andai dulu lebih kuat aku mengunci pintu ku, mungkin rasanya tidak sesakit, tidak menggerogoti ku sampai ubun-ubun. 

Jika begitu, apakah kamu menyesal dengan pertemuan kita? 

Tidak. Bodoh. Aku menyesal karena tidak pernah bisa kuat, selalu lebih sayang orang lain ketimbang diri ku sendiri. Sampai melengkah untuk pergi demi kebaikan ku sendiri saja aku takut, padahal aku sudah disakiti sebegitunya. 

Karena kamu tidak sanggup maka aku yang pergi. Karena kamu ga sayang diri kamu sendiri maka aku yang pergi. Aku yang tidak mau dipertahankan.

Iya. Maafkan aku yang masih terus bertahan dalam diam dan tulisan-tulisan ku. Maafkan aku yang selalu mengharap suatu hari mungkin bisa kembali lebih baik padahal mungkin setiap hari doa-doa itu semakin menghancurkan aku. Saking jahatnya aku sama diri aku sendiri, tulisan-tulisan jahat itu ku taruh ditempat yang bisa ku selalu liat agar ketika aku ingin memohon atau berharap aku bisa ditampar oleh kenyataan secara langsung kalau kamu tidak lagi bertahan. 

"Mau ga dikenalin gue ada temen nih?" Seorang teman berkata kepada ku yang ku jawab hanya dengan senyuman dan agar lebih sepon aku menggeleng pelan. 

"Terakhir, ada orang yang menyembuhkan luka masalalu. Luka yang dibuat lebih parah dari pada luka sebelumnya." 

Iyakan? Kamu datang menyembuhkan aku. Lalu aku sembuh, tapi kamu terluka oleh luka-luka ku. Mungkin memang sejak awal kita tidak mudah yang selalu dipaksakan. Dan aku terlalu naif dengan memohon pada Tuhan kamu menjadi terakhir sampai sekarang pun masih begitu. Sampai detik ini masih begitu. 

Biarlah terlihat sangat berharap, memohon, tidak lagi memiliki harga diri. Apa yang bisa dipertahankan lagi toh kamu tidak mau mempertahankan? Mungkin memang terakhir. 

Bahkan hal yang lebih lucu adalah ketika aku memimpikan suatu kejadian yang adqa kamu didalamnya aku hanya bisa memandang kamu dari jauh. Aku tidak berlalu memelukmu padahal aku tau kalau ini adalah sebuah mimpi. Hahahaha. Lucu bahkan di dunia yang tidak ada satu pun orang yang lihat aku hanya diam. 

"Aduh makin susah deh lo nemuin orang. Terus sampai kapan mau begini?" 

Aku terdiam memandang hamparan laut yang luas... 

"Sampai kapan ya? Capek juga. Tapi ga secapek itu kok. Cuman yaa, kayak berjalan ditempat yang ga pernah maju kadang terjatuh terduduk." 

Melihat laut selalu mengingatkan aku atas perjalanan hidup, cerita-cerita yang aku tulis selalu ada laut di dalamnya. Laut, semalam sebelum tidur aku membayangkan menjatuhkan diri di laut dan tidak berusaha untuk kembali terus terjatuh ke kedalaman laut. Seoalah laut enggan mengembalikan aku pada daratan. 

"Keliatan hahahihi di luar ternyata dalamnya abis juga." 

"Semua orang seperti itu." 

"Gue engga."

"Lo bukan orang. Hanya suara berisik yang terus menerus melawan." 

Nanti kamu semakin hancur. 

Terima kasih, karena berusaha untuk tidak membuat aku lebih hancur. Aku tersenyum getir. Orang-orang di sini seolah paling paham atas aku, kehidupan ku, pilihan ku. Ku jawab dengan senyuman saja. Tau apa mereka soal kepala berisik ini, soal kehancuran ku. soal aku. Benarkan? aku sendiri bisa lebih jahat menghancurkan aku. Karena aku sendiri berusaha menyayangi aku saja lebih memilih untuk menyakiti aku berulang kali. Kalau aku sayang diri aku sendiri, tulisan ini tidak ada. 

Sebentar lagi satu tahun, aku bahkan membenci bertemu dengan bulan kelahiran ku. Aku semakin membeci bulan itu. Benci sekali.

Seseorang mendekat, menggenggam tangan ku, "Sudah menulisnya, tulisannya sudah jelek tuh. Sudah terlalu lama menulisnya." 

Aku menatapnya sendu. Dia tersenyum membantu ku berdiri membersihkan celana jeans yang sedang ku gunakan dari pasir-pasir pantai. Lalu perlahan dia mengambil tas ku dan memasukan pensil atau pulpen yang ku gunakan... ntah. 

"Mana bukunya? Kita robek yaa tulisannya." Aku menatapnya... robek? Tak ku serahkan buku berisi tuisan-tulisan itu.

"Tulisan yang jelek itu aja kok. Aku janji hanya tulisan yang jelek itu." 

Aku masih bergeming. Tidak mau. Baik buruknya harus tetap tertulis bukan? 

"Hanya yang terakhir. Aku minta boleh ya?" 

Aku menggeleng. 

"Kita robek buat kita ikhlaskan. Lembarnya kita kembalikan kepada yang memiliki Kehidupan." 

Aku masih tidak mau. 

Ada titik-titik di ujung doa-doa
Keselamatan penutup malam
Kuisi dengan namamu
Kucoba memaafkanmu selalu
Kalau disitu ada salahku
Maafkanku juga - Ada titik-titik di ujung doa by Sal Priadi

0 comments: