Hanya Cukup Satu Buah.

14:37 LuqyLugy 0 Comments

 
"Kenapa sekarang lebih banyak diamnya?" 

Seketika aku memandang laki-laki di hadapanku ini. Maksudnya? 

"Kamu lebih tenang. Hanya saja terlalu tenang..." 

Ah... dia mengerti maksud dari tatapan ku. Aku kembali memandang laut mendengar suara gemericik air yang bertemu dengan tepi pantai. Hari ini cuaca sangat cerah, cerah sekali. Hari yang sangat baik untuk melakukan hal-hal baik. Berdoa hal baik. 

"Hmm... diam aja nih? Pertanyaan ku ga dijawab?" 

Aku menengok, tersenyum, "Harus bicara apalagi?"

Dia diam.. harus bicara apalagi yaa? sepertinya penjelasan yang selama ini sudah coba untuk ku urai mulai tidak ada artinya. Aku mulai berhenti melihat sekitar dan mulai melihat diri sendiri. Mencoba untuk berhenti melihat dan mengasihani orang lain. Terkadang banyak luka yang tidak dilihat orang-orang kok dan tidak perlu juga orang-orang untuk melihat. Maksud ku adalah... seberapa sering aku menceritakan rasa sakit atau rasa bahagia tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Sekitar ku, di sekitar ku. Jadi kali ini aku lebih memilih untuk menikmati aku. 

"Seperti bukan kamu. Sehat kan?" 

Sehat ya?

"Sehat." jawab ku singkat tapi pandangan ku akan laut kembali berubah. 

"Orang itu?" Tanyanya. 

Orang itu. Sosok laki-laki yang tidak pernah ku ceritakan kepada dunia, tetapi dia tahu. Sosok yang selalu ku yakini akan menjadi akhir dari cerita ku. Sosok yang ntah sejak kapan mengubah aku secara perlahan. Menjadi lebih baik... ku yakini hingga saat ini baik. 

Aku kembali tidak pernah menyalahkan hidup. Terkadang merasa sangat lelah, seperti katanya kalau lelah, istirahat bukan pergi. Aku tidak pernah pergi... aku beristirahat. Aku memiliki kebiasaan baru menutup kepala ku yang berisik dengan selimut agar dapat menghalau perkata-kataan atas aku kepada aku yang jauh lebih kejam daripada perkataan orang-orang. 

Aku menengok ke arahnya tersenyum meyakinkan, "baik dan selalu ku sayangi dengan sangat." 

"Palsu." 

Senyum ku kah? atau perkataan ku? 

"Percaya lah. Entah senyum ku yang palsu atau perkataan ku yang palsu. Atau bahkan diriku penuh kepalsuan. Ku pastikan aku berkata jujur hari itu karena aku tidak mau menyayanginya dibayang-bayang sebuah kebohongan. Dan aku tidak mau mengatakan aku menyayanginya dibayangi rasa 'bagaimana jika dia tahu bukan dari aku.'. Jika memang kesalahan ku sangat fatal. Maka aku tidak pernah menyesalinya. Yang justru ku sesali adalah tidak pernah berkata jujur kepadanya jika hubungan kami diwaktu itu masih baik-baik saja. Aku tidak pernah menyesal, dan bahkan sangat ingin terus berjuang. Aku hanya terlalu lelah berjuang sendirian." 

Dia merangkul ku pelan... 

"Maaf." 

"Apa yang harus dimaafkan?" aku menarik nafas panjang. 

Tanpa pernah tahu harus menjelaskan apapun lagi, "Aku hanya sangat menyayanginya. Kali ini aku menyayangi seseorang dengan sungguh." 

Kembali, tetesan air mata lolos dari kelopak mata ku, merindukannya. 

0 comments: