Es Krim Mcd
Seorang perempuan sedang menatap hpnya yang menunjukkan salah satu aplikasi bertukar pesan yang sering digunakan akhir-akhir ini. Kelima sahabatnya itu, satu-satu sudah mengucapkan doa serta keinginan mereka untuk makan apa di tahun ini. Yap, si perempuan sedang berulang tahun dan sedang membalas satu persatu pesan sahabat-sahabatnya yang tidak tau diri itu, sudah besar-besar masih saja menagihnya untuk menteraktir saat ulang tahun, sangat kuno. Tapi dia tetap sayang dan tentu saja keinginan sahabat-sahabatnya itu dituruti. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di Mcd. Si perempuan hanya mampu menghela nafas dan mulai bersiap-siap karena akan di jemput oleh sahabatnya yang dulu pernah ada di hatinya cukup lama.
“Mba… itu udah di jemput Arsyad!” Mama si perempuan mengetuk kamar putrinya memberitahu kalau sahabatnya sudah datang.
“Iya mah, bentar lagi Mba siap. Tunggu bentar bilangin ke Arsyad”
Setelah dirasa dandanannya sudah pas dan tidak terlalu berlebihan akhirnya si perempuan turun. Terlihat Arsyad sedang berbincang dengan mamanya. Mereka sudah bersahabat lama sekali, jadi wajar kalau keduanya dekat apalagi mamanya amat sangat dekat dengan sahabat-sahabatnya tidak hanya dengan Arsyad.
“Tuh Ale dah siap pada hati-hati ya” Ucap mamanya sambil berdiri. Arsyad selalu seperti itu, casual tidak pernah aneh-aneh seperti lelaki-lelaki korea yang ada di drama-drama dengan baju berlapis-lapis. Dia hanya mengguunakan baju kaos lengan panjang belang-belang yang menurut Ale agak kuno warnanya dan celana panjang hitam, bukan jeans melainkan kain. Yaaa kan, Arsyad bukannya tidak mau seperti oppa-oppa korea, cuman ngapain? panas katanya. Ya juga sih. Tapi Arsyad juga gak pernah dandan yang pake jaket atau pake kaos terus di luarnya kemeja. Bukan gayanya katanya.
“Hati-hati yaa Syad.” Kata mama lagi mengingatkan kami yang sudah di atas motor berdua.
“Iyaa Ma.. Arsyad sama Ale pamit yaa” Yap, itu Arsyad yang ngomong. Walaupun udah biasa mendengar sahabat-sahabatnya yang lain memanggil mama, tapi untuk Arsyad selalu ada yang berbeda. Selama di atas motor, tidak ada yang berani berbicara. Ah… bukannya tidak berani berbicara, karena memang tidak ada yang dibicarakan. Ale hanya bertanya seperlunya dan dijawab oleh Arsyad seperlunya juga. Cukup lama memang Arsyad dan Ale tidak bertemu sekitar 3 bulan atau 6 bulan mereka baru bertemu, kegiatan Ale di luar kota serta kesibukan Arsyad membuat keduanya jarang bertemu. Yah… sudah dijelaskan di atas juga kan persahabatan mereka ini cukup aneh.
Sesampai di Mcd mereka sudah bertemu dengan dua sahabatnya yang lain. Ada Gina dan Leo. Sahabat mereka satu lagi tidak bisa datang sedang di luar kota, kuliah. Minta ditraktirnya pas Ale ketemu dia maunya somay lima ribu katanya.
Setelah semua memesan makananya Gina dan Leo asik sendiri ngobrol, sementara Arsyad sedang asik menonton telvisi yang sedang menyiarkan bola. Walaupun terkadang pembicaraan Gina dan Leo terdistraksi oleh Leo yang tiba-tiba mendesah karena yang dijagokan di televisi gagal mencetak gol, Gina sama sekali tidak terganggu dan tetap menanyakan yang tadi terlewat oleh Leo akibat fokusnya yang berubah ke televisi. Kalau dipikir-pikir ini memang seperti double date, hanya saja Arsyad dan Ale tidak date, Gina dan Leo yang memang nyambung karena pekerjaan mereka, atau mungkin yang sedang mereka teliti, Ale juga tidak mengerti pembicaraan mereka berdua hingga malas ikut campur dalam pembicaraan mereka hanya fokus dengan timeline twitternya dan McFlurry yang sedang disantapnya.
Namun tiba-tiba pemandangan di depannya lebih menarik daripada timeline twitternya. Arsyad dengan cone eskrimnya yang tinggal separuh dan tidak dimakannya hanya dibiarkan dalam genggamannya sementara matanya fokus pada pertandingan bola, seperti anak kecil pikir Ale sambil tersenyum. Lalu dilihatnya eskrim itu yang meleleh dan hampir menetes karena Arsyad memegangnya memang agak miring. Tanpa berbicara Ale memegang eskrim itu agar tidak jatuh mengenai celana Arsyad. Arsyad yang sedang fokus menonton amat terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Ale. Seolah seseorang yang amat sangat terlarang dalam hidupnya menyentuh tangannya. Mata mereka berpapasan. Ale tentu saja bingung. Tapi anehnya tanpa berkata-kata seolah mereka berbicara dalam diam, Ale mengerti bahwa Arsyad terkejut, dan seolah Ale menanyakan “Apa?” dari caranya menantap Arsyad. Di jawab oleh Arsyad kembali dengan “Gapapa” melalui tatapannya lalu kembali fokus pada pertandingan bolanya. Hanya sebatas itu. Hanya itu seolah keduanya mengerti apa yang ada dipikiran mereka. Tatapan yang tidak pernah dilupakan oleh Ale. Keterkejutan Arsyad yang membingungkan tapi tidak pernah sedikit pun untuk Ale meneruskan menanyakannya. Yaaa.. hubungan diam, tak bersuara dan hanya terpaku dengan pikiran masing-masing membuat keduanya nyaman dalam diri mereka. Seolah mereka tak mau tau akan perasaan masing-masing karena tidak mau mengganggu perasaan lainnya.

0 comments: