Tragedi di Lapangan Basket
Sasa ingat saat ini dia sedang bertengkar dengan sahabat baiknya yang juga satu kelas dengannya. Sifat Sasa yang amat sangat keras kepala, gak bisa diberitahu terkadang membuat sahabatnya menjadi lelah dan mengalah. Hanya saja saat ini pertengkaran mereka lebih hebat dari biasanya. Jika biasanya Niko-sahabat Sasa-akan mengalah atau mendiamkan Sasa, kali ini berbeda mereka memiliki perang dingin yang benar-benar dingin.
“Sa.. tumben gak bareng Niko? Tuh Niko sendiri aja di bangkunya” Samper Liya teman sebangku Sasa.
“Bodo, gak peduli gue.” Kata Sasa sambil meninggalkan bangkunya dan lebih memilih untuk duduk-duduk nongkrong di depan kelas bersama teman kelasnya yang lainnya. Sudah tertebak oleh Liya kalau mereka berdua berantem. Tapi tidak ada yang pernah tau pertengkaran mereka mengenai apa hingga Sasa dan Niko saling tidak peduli begini.
Sebelum berantem hebat
“Sa… gue nanti ke rumah mau ambil obat buat tante gue.” Tante Niko dengan Om Sasa memang terbilang memiliki hubungan yang cukup aneh. Yaa Om dan Tante mereka, tapi mereka berdua hanya sebatas sahabatan saja tidak lebih. Walaupun om dan tante mereka sudah bahagia dengan kehidupannya tapi mereka sepertinya juga bersahabat seperti hubungan Niko dan Sasa. Sedangkan dimana orang tua Sasa? entah. Hanya itu yang bisa dijelaskan untuk saat ini.
“Mmm… ambil aja.” Jawab Sasa seadanya yang sedang membaca novel. Emang Sasa ini freak banget sama novel yang kalau udah dia suka banget dibaca, bakal dibaca terus-terusan sampai gak inget makan.
“Nih gue bawain roti” Roti itu ditaruh oleh si empunya roti di meja perempuan itu. Si perempuan masih tidak menaruh minat sama roti itu dan hanya terus membaca novelnya. Sadar kalau tidak akan mendapatkan perhatian Sasa akhirnya Niko mengalah dan meninggalkan Sasa berkencan dengan novelnya, tanpa menyentuh roti yang dibelinya.
Sekitar jam tujuh malam Niko sampai di rumah Sasa, tentu saja yang menyambut Niko omnya Sasa. Sasanya? Mungkin di kamarnya.
“Niko.. mau nyari Sasa atau mau ambil obat?” Tanya Om Sasa.
“Ambil obat kok om.” Jawab Niko seadanya sambil melihat-lihat ke dalam rumah, mencari sosok sahabat keras kepalanya.
“Ohh.. yaudah ambil aja, di pohonya yaa.. Ntar om panggilin Sasanya” Seolah menyadari tingkah Niko yang mencari Sasa.
Sempat ngedumel dalam hati akhirnya tante Sasa hanya dijawab dengan senyuman oleh Niko. Kirain kan udah diambilin tinggal ambil bawa pulang. Eh taunya masih harus ambil di pohonnya. Emang males si Sasa tuh, gak bisa dimintain tolong. Bener-bener ambil dari pohonnya langsung.
“Apa?” Sosok yang dicarinya tadi muncul juga dihadapannya dengan tangan yang berlipat di dadanya. Soo Bossy. Mukanya jutek banget. Sayangnya Niko tidak bisa langsung menjitak anaknya karena posisi dia yang masih di atas pohon.
“Awas yaa Saa.. gue turun, gue jitak lo. Bantuin ambilin kek, apa kek, biar dateng gue bisa langsung balik gitu.” Protes Niko.
“Ya kan, lo bilangnya ambil obat. Gue mana tau obatnya di atas pohon juga.” Jawab Sasa tidak kalah sengitnya. See? the most stuborn people in the world.
“Kalah dah gue kalau udah gini mah.” Jawab Niko dan akhirnya turun, setelah selesai dengan pekerjaannya. Sementara Sasa ikut mengikuti langkah Niko yang mendudukan dirinya di teras rumah Sasa.
“Minum dong Sa…”
“Dih manja banget.” Tapi Sasa menuruti perkataan Niko dan membawakannya air putih dingin. Sasa tau banget kalau Niko sekarang emang butuhnya air putih dingin.
“Thank you, Sa ada yang mau gue ceritain” Intonasi nada Niko sudah mulai cukup serius, memang Niko bukan anak yang neko-neko. Cenderung cool malahan agak susah berbaur sama teman-teman sekelasnya. Terkadang terkesan sombong, yang jadiin perantaran sifat Niko sama teman-temannya yang lain memang Sasa. Sasa lebih merakyat gitu deh anaknya. Walaupun cueknya kadang nauzubillah.
“Okkee.. paan?” Walaupun kata orang-orang cewek sama cowok itu gak mungkin untuk sahabatan berdua aja karena pasti diantara mereka atau bahkan keduanya bisa ada yang saling suka tapi bagi Sasa dan Niko hubungan mereka memang benar-benar hanya sebatas sahabat. Tidak mungkin lebih. Sekali lagi yaa, digaris bawahi kalau mereka ini SAHABAT TANPA RASA RASAAN!
“Gue naksir kaka kelas di OSIS” sela Niko sebentar, Sasa mengerti pasti ini ada apa-apanya. “Tapi dia udah punya pacar, dan sekarang dia sama pacarnya lagi gak baik-baik aja. Kaka ini sering banget curhat sama gue, yaaa terus lo taulah yaa.”
Sasa memang gak ikut OSIS, tapi dia tau persis siapa ‘KAKA OSIS’ yang dimaksud sama Niko. Di sekolah sudah banyak kesebar soal hubungan mereka berdua, hanya saja Sasa males bertanya sama Niko. Toh Niko nanti cerita sendiri, dan perasaan Sasa benar. Niko gak mungkin gak cerita kalau dia udah gak bisa handle masalahnya.
“Hmm… gue tau. Tapi lo ngerti kan Nik? Dia masih cewek orang? Gue gak mau yaa sahabat gue dibilang perebut bini orang.” Jawab Sasa sangat amat jelas.
“Saaa.. tapi ini dia juga udah mau putus sama cowoknya.”
“Yaaa.. enggak dong Nik, bisa aja si kaka ini bakal balikan lagi sama pacarnya terus lo bakal gimana? Udah gak usah aja.”
Akhirnya Niko memutuskan untuk mendengarkan perkataan Sasa.
Selang dari seminggu dari sesi curhat, Sasa yang sedang ikut mengobrol dengan teman-teman sekelasnya.
“Sa, Yaaa!! Sini gue kasi gosip baru.” Tata salah satu teman kelas mereka yang emang biang gosip banget, gak ada gosip yang gak dia tau.
Sasa hanya ikut duduk di bangku yang sudah dibentuk lingkaran sama penghuni perempuan kelasnya.
“Niko jadian sama Ka Ima! Lo gak tau Sa?” Mendengar kabar itu tentu saja sang sahabatnya amat sangat terkejut.
“Anjir si Niko gak bilang gue” Jawab Sasa.
“Mana berani dia bilang lo Sa, lonya galak gitu.” Sasa enggan tau siapa yang nyautin perkataannya namun yang dia tau dia harus ngomong sama Niko.
Karena gak mungkin ngomong di kelas bisa-bisa jadi gosip baru buat si Tata. Akhirnya Sasa memutuskan menghampiri sahabatnya di parkiran sekolah aja.
Sasa menunggu Niko di parkiran motornya, namun pemandangan yang dilihatnya benar saja sekarang Niko ada yang ngawal. Mereka keliatan bahagia, maklum masih seumur jagung pikir Sasa. Akhirnya Sasa memutuskan untuk mengiriminnya pesan singkat aja.
Rumah gue. Seselesai lo aja sama cewek lo.
Tidak ada sejam Sasa menunggu sahabatnya, sahabatnya sudah datang.
“Cepet juga.” Sasa menghampiri Niko dengan muka betenya.
“Gue gak berhak jelasin lo apa-apakan Sa?” Jawab Niko, karena Niko mengerti arah pembicaraan mereka akan dibawa kemana.
“Yaa.. enggak. Suka-suka lo aja, tapi gue gak suka yaa ada yang ngomongin lo di depan gue.”
“Ngomongin gue? Ka Ima tuh udah putus sama cowoknya Sa!”
“Mau udah putus atau belum tapi waktunya gak tepat Nik. Oke kalo emang udah putus kasi break sebentar.” Jawab Sasa gak kalah emosinya.
“Saaa… lo gak suka kan sama gue?” akhirnya Niko menanyakan hal itu.
“Gila apa lo? sejak kapan gue punya perasaan suka, udah deh gak usah ngadi-ngadi. Gue ngelarang lo itu jelas ya Nik, itu pacar orang dan lo gak seharusnya jadi bantalan nangis dia setiap ada dia ada masalah. Lo gak seharusnya dapet gosip-gosip murahan soal perebut pacar orang.” Sasa sudah benar-benar hampir marah oleh kelakuan dan jalan pikiran Niko sekarang ini.
“Perebut? Kek apa yang dialami sama Om lo sama tante gue?” Niko juga tidak kalah emosi. Dia sudah banyak pikiran dengan hubungan-hubungannya bukannya dia tidak tau tapi dia sendiri juga bingung menghadapinya tapi dia sayang sama hubungan yang dia jalani saat ini. Klise kisah cinta anak SMA. Tapi lain urusannya dengan urusan keluarga mereka yang memang sudah ribet dari awal.
“Lo ngelewatin batas Nik.” Jawab Sasa dengan nada datar dan meninggalkan Niko sendirian. Niko pun langsung pulang ke rumahnya tanpa pamit seperti biasanya.
.
.
.
Hari ini menjadi seru karena akan melakukan kelas olahraga yanga mana mereka akan melakukan penilaian melalu pertandingan basket. Sasa memang tidak terlalu ahli dalam basket, namun saat ini yang dia mau hanya melupakan pertengkaran dinginnya dengan Niko. Sejak hari itu dari keduanya gak ada yang mau bicara terlebih dahulu. Sasa sadar dia juga emosi mengatur-atur hubungan Niko, dan Niko juga sadar kalau dia telah mengungkapkan yang melewati batas persahabatan mereka. Tapi keduanya tetap teguh dengan ego masing-masing.
Namun tidak ada yang menyadarinya kecuali Liya, teman sebangku Sasa. Liya tau betul kalau Sasa itu gak bisa yang namanya berantem lama-lama tapi dia juga jarang dalam sejarah hidupnya buat minta maaf duluan. Makanya dia paling menghindari berantem, biasanya dia akan cuek dan pura-pura gak peduli dari pada ujungnya malah berantem. Lain kalau urusan Niko emang orang yang udah dianggappnya sahabatnya. Liat aja sekarang di lapangan walaupun dia sedang gak pegang bola tapi dia akan lari dari ujung lapangan ke ujung lapangan lainnya yang Liya liat cuman buat ngeluarin emosinya doang.
“Sa bolanya!” teriak Tata dari ujung lapangan tempat mereka sementara Sasa bersiap di ujung lapangan lainnya dibawah tiang basket lawan. Entah saking panasnya tempo permainan mereka Tata terlalu kencang melempar bola ke arah Sasa sehingga bola basketnya tidak diterima dengan baik oleh Sasa membuat jari jempolnya terkena lemparan bola basket yang berat dan kencang yang berujung jempol sasa bengkok.
Akhirnya semuanya berkumpul di pinggir lapangan, melihat itu Niko juga akhirnya menghampiri Sasa. Guru olahraga mereka melihat jempol Sasa. Niko yang disitu langsung bertanya kepada guru olahraga mereka. Dan duduk di samping Sasa.
“Coba gue liat.” Niko mengambil tangan kanan Sasa. Tanpa berbicara sepatah kata pun Sasa mebiarkan saja Niko mulai memijit jempolnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara serak yang keluar dari mulut Sasa.
“Saa.. kiitt..” sambil terlihat air matanya terjatuh di lapangan basket itu. Namun tidak ada yang berani menyela mereka. Bahkan Tata saja yang mau membantu Niko, untuk ‘bertanggung jawab’ atas perbuatannya dihentikan oleh Liya dengan bahasa tubuh gelengan kepala.
“Udah jangan nangis. Nanti pulang sekolah kita urut di Buk Minten.” Jawab Niko.
Semakin kencang tangis Sasa hanya saja dia berusaha menahannya dengan menggigit pipi bagian dalamnya. Tengsin juga nangis di lapangan basket drama begini gara-gara jempolnya. Gak keren.
Namun satu yang disadari oleh kedua orang yang bersahabat itu. Sasa dan Niko tau yang dimaksud sakit oleh Sasa bukan jempolnya melainkan pertengkaran mereka. Bagaimana dia kehilangan sahabatnya karena kesalah pahaman masa lalu mereka yang bahkan mereka belum lahir sudah ada kesalah pahaman itu, ditambah permasalahan pacar barunya Niko. Yang membuat Sasa sadar bahwa rasa sakit memang terkadang butuh untuk ditangisi. Tentu saja rasa sakit pertengkaran dengan sahabatnya lebih dari rasa sakit jempolnya saat ini. Mereka berdua tau itu, rasa sakit itu, apa yang ditangisi oleh Sasa. Namun keduanya tetap diam di pinggir lapangan basket.

0 comments: