Sisa Perjalanan

00:24 LuqyLugy 0 Comments


This story inspired by Day6 song, Hurt Road. Happy Reading! :)

“Seharusnya lo tau kalau yang kita jalanin gak akan semuanya indah. Seharusnya lo tau kalau yang namanya jalan bareng yang dihadapi juga bareng gak selau cuman jalan yang dipenuhi bunga. Gue bukan malaikat apalagi Tuhan yang bisa jamin jalan disetiap langkah lo bakal terus baik-baik aja. Gue cuman bisa ada di samping lo saat lo lewatin berbagai macam jalan.”

Terbayang kembali kalimat lelakinya dalam pikiran gadis cantik itu. Jangankan untuk menangis, untuk bernafas jika saja dilakukan dengan diperintah mungkin dia enggan memerintah paru-parunya untuk menarik oksigen. Yaa... gapapa sih mengurangi pemakai oksigen dimuka bumi ini. Sayangnya Tuhan sebagai pengendali segala seolah menghukum gadis itu untuk tetap di bumi menjalankan kehidupannya.

“Haaaaaa… Bisa mati bego gue kalo gini terus” ungkap gadis itu kemudian mulai merangkak dari tempat tidurnya untuk menyalakan laptopnya setelah tadi puas berbaring menghadap langit-langit kamarnya.

Sudah sebulan wanita itu meninggalkan sosok lelaki yang selama ini selalu di sampingnya. Ya gak di samping banget yang kemana-mana berdua sampe ke kamar mandi berdua juga, gak gitu. Sebenarnya dia tidak yakin dengan hubungan yang di mulai dengan lelaki itu. Namun kata-kata itu membuatnya berpikir kenapa gak dicoba terlebih dahulu. Akhirnya dia memutuskan untuk menerima lelaki itu, walaupun tanpa perasaan cinta seperti kebanyakan pasangan pada mulanya. Lalu kenapa sekarang dia memikirkannya seolah ada penyesalan dalam dirinya.

Bahkan dalam hubungan dengan mantannya itu tidak ada panggilan sayang. Menurutnya hubungan mereka malah sangat amat sederhana. Kalau kangen ya ketemu, gak bisa ketemu video call, kalo laper ya makan, kalo sakit ya istirahat. Mereka tau kalau mereka paling susah sama hubungan yang ribet.

Pernah suatu hari saat mereka sedang berada di daerah yang berbeda karena kerjaan mengharuskan lelakinya pergi selama lima hari ke daerah Sumatera. Sialnya, mereka memang belum bertemu selama seminggu karena perempuan keras kepala ini mendapatkan banyak kerjaan dari kantor, dan harus pulang menemui orang tuanya juga yang seharusnya mereka bisa bertemu paling tidak 3 kali seminggu sekedar untuk makan malam bersama atau saat akhir pekan mereka akan menghabiskan waktu melepas penat, bukan netflix and chill yaa. Mereka belom seberani itu. Akhirnya seminggu yang akan ditambah lima hari itu pun berujung berat untuk perempuan itu.

“Gila yaaa udah gak ketemu seminggu terus sekarang gue bakal ditinggal lagi lima hari.” protes si perempuan dalam sambungan telfon dengan pacarnya yang katanya di awal hubungan tidak ada rasa cinta itu.

“Yaa mau gimana lagi, lo kan sibuk banget, gue senin udah take off ke Kepri liat pengeboran di sana.” Jawab si laki-laki tidak kalah sengitnya dengan si perempuan. Sebenarnya lelaki ini juga kesal dengan perempuannya kalau sudah kerja kadang amat sangat sulit dihubungi. Terkadang tidak ada kabar sama sekali. Si lelaki harus mencari info dari instastory teman-teman kantornya kalau si perempuan memang masih hidup, tidak sakit hanya terlalu fokus pada kerjaannya.

“Yaaa.. malem ini kek makan bareng.” Berusaha meminta dengan suaranya dibuat manja, walaupun dia yakin pacarnya itu tidak akan kemakan oleh suara manjanya dia. Dia sendiri suka merasa aneh dengan dirinya sendiri.

“Gak bisa Dee, gue belum packing, belum lagi lo tau kan gue masih mesti submit kerjaan dulu.”

“Sekarang siapa yang ga inget waktu dan sibuk?”

“Elo” jawab enteng si cowok.

“Yaudah deh gue cuma kangen aja. Semangat kerjanya jangan lupa vitamin, jangan lupa makan yang bener yaaa.” Dengan nada yang benar-benar tulus. 

Walaupun hubungan ini memang tidak diyakini sepenuh hati oleh si perempuan namun dia menghormati bahwa saat ini dia sedang menjalani hubungan dengan seseorang yang menjaga hatinya dan dia juga berusaha untuk menjaga hatinya.

“Hmm… lo juga. Yaudah yaa gue selesain ini” si cowok hanya menjawab dengan datar. 

Sepertinya dia memang lagi sibuk untuk mengsubmit kerjaannya supaya bisa cepet berkemas dan istirahat lalu sambungan itu terputus. Tidak ada rasa sakit hati sama sekali dengan jawaban si lelaki itu. Karena memang begitu hubungan mereka, jika tidak bisa mengapa harus memaksa supaya dibisakan, seolah-olah itu sebuah pembuktian cinta mereka dengan menghampiri satu sama lain. Jika salah satu dari mereka tidak bisa maka mereka akan mengerti jika memang sedang ada yang didahulukan. Mengerti satu sama lain.

Selang dua jam dari sambungan telfon. Bel apartemen si perempuan berbunyi. Si empunya apartemen tahu sebenarnya siapa yang datang. Tapi dia sama sekali tidak menduga bahwa yang datang membawa pizza. She’s craving for pizza dan hampir aja pesen gofood.

“Kok dateng?” tanya si perempuan dengan senyuman di wajahnya tapi tatapan matanya jelas mengarah ke kotak pizza yang dipegang oleh pria jangkung.

“Orang disambut kek bilang makasih udah dibawain pizza gitu. Mana yang disenyumin pizza bukan yang bawa pizza.” Protes pria yang mengusap pelan kepala perempuan itu.

Si perempuan hanya tersenyum nyengir lalu mereka menghabiskan pizza itu dengan cerita bawel oleh si punya apartemen yang ditanggapi dengan senyuman dan kadang jokes ringan dari si lelaki.

Teringat satu kenangan membawa kenangan-kenangan yang lainnya berdatangan. Si perempuan selalu ingat bagaimana pacarnya selalu bilang kalau makan berdoa dulu atau selalu sigap kalau-kalau dia jatuh atau tersandung batu. Percaya atau tidak perempuan ini memiliki hobi jatuh. Kalau lagi sibuk pacarnya itu akan memesankan kopi melalui gofood dengan pesan ke Mas gojek-nya 'Aku udah beliin kopi, jadi gak usah beli kopi lagi' Walaupun dia sibuk terkadang sebisa mungkin dia akan menyempatkan untuk saling memberikan perhatian.

“Gila yaaa… padahal awalnya gak sayang gitu malah abis putus jadi keinget terus. Satu lagi Dee cowok baik yang lo sia-siain” Kali ini perempuan yang menyebutkan namanya sendiri tersenyum getir sambil menatap layar laptopnya yang entah sejak kapan sudah menyala. Akhirnya dia memutuskan untuk me-streaming radio yang biasa dia dengarkan.

Yoi gaes sekaranggg billa mau bacain surat nih dari cowok yang kayaknya si baru baru ini putus dari pacarnya.. 

Suara penyiar terdengar dari laptopnya.

“Ah lagi segmen love letter toh” batin Dee

Gue bacainn yaaa…

Hallo Dee, gue terlalu pengecut buat ngirim ini langsung ke elo. Ya gue juga gak tau sih gue kirim ke radio ini bakal dibaca atau enggak juga dan lo bakal dengerin apa enggak, gue cuman bisa usaha sampai sini.

Mungkin kalimat pertama yang pengen gue ucapin “Apa kabar Dee?” Kabar lo pasti gak bakal jauh beda dari keadaan gue. Gak terpuruk tapi gak bahagia-bahagia amat juga. Gak usah ngeles bilang enggak dan pura-pura bahagia. Lo pasti ada nyesel juga kan putus sama gue. hehehe.

Dee, gue mau bilang maaf dan terima kasih telah melewati jalan ini sama gue. Tapi emang mungkin masa jalan-jalan sama guenya udah abis jadinya kita harus terpisah dengan jalan yang kita pilih masing-masing. Dari awal gue udah bilang gue gak bisa janjiin kebahgian dalam jalan yang kita tempuh karena gue bukan Tuhan. Makasih karena lo gak terpatok untuk hanya menikmati jalan yang penuh dengan bunga tapi mau juga melewati jalan yang rusak sama gue. Kalau diizikan Tuhan gue berharap di persimpangan jalan selanjutnya Tuhan mau berbaik hati buat kita menempuh jalan yang sama dengan keadaan yang siap dan lebih kuat. Maaf karena saat berada di jalan ini sama gue gak banyak bunga yang lo liat di jalan. Terima kasih Dee.

Your J.

Oyaa, Mas J ini nitip lagu hurt roadnya Day6 buat Mba Dee semoga Mba Dee pas lagi denger yaa.

Dee dengar semua dan dia tau, amat sangat mengerti tulisan ini untuk dia. Juma, laki-laki yang menulis surat itu. Kata-kata yang sejak awal yang selalu dia bilang tidak bisa menjanjikan jalan yang baik-baik saja dalam hubungan ini. Dia mengerti, tangis yang selalu ditahan akhirnya pecah juga malam itu. Dia sebal dengan dirinya sendiri yang memutuskan untuk mendengar radio bukannya membaca buku. Tapi dalam tangisnya terbersit rasa syukur. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh Juma, dia tau selanjutnya jalan yang akan dia tempuh.

0 comments: