Before I Go

19:04 LuqyLugy 0 Comments


[Warning this one is triggering story.]

Cerita ini sudut pandang dari seorang Kale dari cerita Hold You. Baiknya baca Hold You dulu baru ini, linknya https://artandhate.blogspot.com/2021/08/hold-you.html

[inspired by Sophie Pecora’s Song Before You Go rewrite lyrics]

So, before I go 
I hope you know, it’s not your fault 
Couldn’t stopped by bleeding 
It’s hard for me to talk 
When I can’t barely breath

- Before I Go, Sophie Pecora

Sebuah coffee shop yang berdiri bersebrangan dengan sebuah halte busway memperlihatkan salah seorang pengunjung lelaki yang sedang memandangi perempuan aneh. Lelaki itu sesekali tersenyum memandangi pemandangan yang mampu mengalihkan atensinya dari pekerjaan. Beberapa saat perempuan itu terlihat seperti manusia ibukota yang beraktifitas menunggu angkutan umum namun hal itu berganti ketika ada seorang kucing yang menghampiri.

Perempuan itu mengeluarkan beberapa makanan kucing yang ditaruh di tangannya dan memberikan kucing tersebut makan. Kale yang sedari tadi memperhatikan perempuan itu merasa bahwa perempuan ini berbeda. Kebanyakan orang-orang akan membawa alas atau menggunakan selembar kertas bekas untuk memberikan kucing liar makan. Sudah beberapa busway melewatinya namun dia masih bersabar membiarkan kucing itu memakan makanannya sampai habis.

Mungkin saja dia menggunakan ojek online. Batin Kale.

Setelah kucing itu menghabiskan makanannya, perempuan itu mulai tersenyum dan mengelus kepala kucing itu sejenak lalu mengucapkan terima kasih. Senyum yang ada di perempuan itu menular kepada Kale. Dia ikut tersenyum ketika perempuan itu mengucapkan terima kasih dan terkikik geli ketika si perempuan mulai mengaduh kesakitan karena berdiri setelah lama berjongkok.

Tidak lama kemudian sosok perempuan itu menaiki tangga menuju halte busway. Kale terus melihat perempuan itu sampai perempuan itu hilang dari padangannya. Satu hal yang membuat hari ini Kale bersyukur, dia menemukan pemandangan yang membuat hatinya hangat.

“Bahkan orang yang tampak memiliki segalanya sekalipun juga merasakan penderitaannya sendiri. Kita semua menghadapi tantangan yang tak dapat dibayangkan orang lain. Ingatlah bahwa penampilan luar bukanlah segalanya.”

- Love for Imperfect Things, Heenim Sunim

Sabtu siang tidak pernah menjadi hal yang menarik bagi seorang perempuan yang saat ini sedang membaca buku di sebuah kafe depan halte busway yang biasa dia naiki. Saat dia datang tadi, kafe ini tidak seramai saat ini. Mungkin karena sedang jam makan siang dan juga dihari Sabtu banyak orang yang berpikir sama dengannya untuk keluar bertemu kerabat atau teman. Hanya dia yang tertarik untuk keluar dan bertemu buku-buku yang masih terbungkus rapi di atas mejanya dengan segelas kopi.

Perempuan itu sepertinya tidak terpengaruh saat disekitarnya ramai dengan obrolan - obralan seputar kabar, pekerjaan, maupun masalah. Dia hanya terfokus pada buku dan musik yang mengalun di kedua telinganya melalui earphone. Sampai ada seseorang yang mengetuk mejanya pelan. Mau tak mau perempuan itu menoleh ke arah orang itu. Seorang lelaki tinggi dan sedikit pucat dengan sweater dongker juga bahu kanan yang membawa tas selempang laptop lalu kedua tangan dipenuhi oleh kopi dan kue khas dari kafe itu.

“Boleh gabung?” Tanya lelaki itu setelah melihat perempuan di depannya dengan tatapan bingung dan melepas satu earphone yang terpasang.

Perempuan itu melihat sekitarnya dan sadar kalau memang tidak ada meja yang terlihat kosong. Hanya mejanya saja yang diisi dengan buku-buku, mau tak mau perempuan itu hanya mengangguk pada lelaki asing ini. 

“Untung banget ada yang bisa gabung. Tadi gue udah tanya beberapa bilangnya ada yang mau dateng.” Ucap lelaki itu panjang lebar.

Perempuan dengan satu earphone ini semakin bingung namun tidak kembali membaca ataupun memasang kembali sebelah earphone-nya. Dia memperhatikan lelaki itu yang mulai menaruh tas dan mengeluarkan sebuah laptop, yang membuat perempuan itu menarik beberapa bukunya yang berada di atas meja untuk ditaruh di samping kursi.

“Eh sorry ya” Sepertinya lelaki itu sadar akan tindakannya. 

It’s okay” Jawab si perempuan tanpa senyuman dan menyeruput sedikit kopinya.

“Gue Kale. Kale Ravindra.” Lelaki itu tersenyum. Entah kenapa senyum itu membuat perempuan yang sedari tadi Kale repotkan itu ikut tersenyum namun amat sangat kaku.

“Dee.” Jawab perempuan itu singkat.

“Di? De sama I?” Tanya Kale membuat senyum perempuan itu tidak lagi canggung dan mengambil selembar tisu yang dibawa Kale bersamaan dengan tangannya yang lain mengambil pulpen dari tempat pensil yang tidak ikut dipindahkan.

Dee.

Just Dee?” Pertanyaan ini hanya mendapat anggukan dari seempunya jawaban. 

Dee kembali tersenyum. Dia merasa sangat senang hanya dengan mengungkapkan namanya.

“Aneh,” Komentar Kale, membuat si empunya nama semakin tersenyum dan sedikit tertawa.

“Bukan aneh tapi unik.” Dee menanggapi.

Sedari tadi Kale memperhatikan mata Dee yang ternyata memiliki warna yang cukup berbeda dari kebanyakan orang. Warna mata dengan coklat cerah serta kaca mata yang cukup tipis membingkai wajah perempuan yang hanya memiliki nama dengan tiga huruf itu.

“Ternyata bisa ngomong beberapa kata yaa” Celetukan Kale membuat Dee kembali tertawa ringan, dan begitulah awal mula Dee dan Kale bertemu.

Kale tahu perempuan ini adalah perempuan unik yang pernah dia perhatikan juga di kafe ini. Perempuan kucing yang membuat harinya terasa lebih baik. Dee. Just Dee.

The fire is growing 
I can’t get away 
From this running through my head 
Burning every reason to stay

- Before I Go, Sophie Pecora

Malam itu yang terdengar suara barang-barang yang sengaja dipecahkan. Suara-suara disertai teriakan-teriakan seorang perempuan yang terus menerus menyalahkan anak lelaki yang sedang menangis sambil memeluk mainan-mainan yang dihancurkan oleh ibunya.

“Kamu itu emang gak bisa dibaikin?!” Teriak seorang Ibu itu sambil berusaha menahan amarah.

“Nilai kamu bisa langsung turun cuman mama beliin mainan begituan?! Mending kamu gak usah pernah main lagi!”

“Mama sekolahin kamu bukan buat mama malu!”

“Kalau nilai segini gimana kamu bisa bertahan di sini Kale! Masuk kamar mandi!” Teriakan itu menggema di seluruh rumah itu.

Kale yang semalam memang tidak belajar karena terlalu asik bermain tidak menyangka bahwa gurunya akan memberikan ulangan dadakan hari ini. Hal yang paling tidak disangka oleh Kale adalah mamanya yang menemukan kertas ulangan dadakan itu.

Hampir seluruh mainan baru Kale hancur hari itu oleh mamanya. Bahkan Kale hanya bisa menangis takut. Suara itu terus menggema, rasa sakit pukulan-pukalan itu kembali terasa. Teriakan demi teriakan terus dirasakan oleh Kale.

Kale terbangun dengan terengah-engah dan langsung meminum air yang selalu ada di samping tempat tidurnya. Dia mengeluarkan dua butir obat depresan. 

Beberapa hari ini Kale rutin kembali menemui dokternya karena merasa tertekan dan mulai mendengar suara-suara yang tidak pernah sebelumnya dia dengar. Bahkan ketika dia sedang tidak tidur hanya termenung biasa, dia bisa mendengar suara itu.

“Kamu pikir kamu itu sempurna Kale?”

“Kamu sampah.”

“Diaaaaammmmmmm!” Kale berteriak sendiri di dalam kamar itu. Dia langsung mencari hp dan menghubungi kekasihnya.

“Hallo, Kal?” Jawab seorang perpemuan dari seberang sana. 

Mendengar suara itu membuat Kale berhasil kembali ke dunianya. Kale tersenyum sejenak sebelum menjawab sambungan telfon itu.

“Dee.. Kamu belum tidur?” terdengar oleh Kale suara ketikan laptop, padahal jam sudah menunjukan lewat dari tengah malam. 

Belum sempat Dee menjawabnya Kale menambahkan, “Tidur ah Dee. Jam berapa nih?”

“Jam dua. Iya ntar jam tiga aku tidur. Tanggung tadi aku udah minum kopi. Kamu mimpi buruk lagi?” Dee masih fokus namun sebisa mungkin dia menanggapi sang kekasih.

Dee tau kalau Kale akhir-akhir ini mengalami mimpi buruk. Tapi Kale tidak pernah cerita kalau dia menemui psikiater dan juga mengenai suara-suara yang selalu menghantuinya. Sebisa mungkin dia tidak ingin Dee tau, pekerjaan dan tanggungan yang sedang diemban Dee saat ini sudah cukup berat menurut Kale. Jika Kale bercerita dia takut membuat Dee semakin khawatir.

“Aku kesana yaa? Temenin kamu.” Entah darimana Kale berani menanyakan itu. 

Suara ketikan laptop sejenak tidak terdengar oleh Kale. Kale tau kalau Dee orang yang amat tidak suka privasinya diganggu bahkan oleh orang terdekatnya. Namun jawaban yang diterima Kale membuat Kale merasa diterima di dalam kehidupan Dee.

“Iyaa boleh. Tapi tidur di sofa.” Lalu suara ketikan itu kembali terdengar.

I’ll be there in 30 minutes. Mau dibawain apa?”

“Iya. Sate. Hati-hati."

Setelah mendengar jawaban Dee. Kale langsung menutup telfon dan bergegas untuk ke warung sate yang masih buka memenuhi keinginan perempuan workholic itu.

Sekitar pukul empat pagi Dee baru bisa menyelesaikan apa yang dia kerjakan sejak pulang kantor. Sebenarnya dia memiliki waktu kerja yang amat fleksibel. Hanya saja semalam dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk mengetik sebuah cerita. Apalagi setelah diganggu oleh kekasihnya itu. Kale bolak balik dari dapur menuju ruang tamu untuk sekedar mengisi air hangat atau tiba-tiba ingin makan mie semua itu membuat konsentrasi Dee buyar. Itu mengapa dia tidak pernah menyukai seseorang mengunjungi apartemennya ketika dia sedang menulis.

Tetapi dia tidak bisa menampik bahwa dia mengkhwatirkan kondisi lelaki yang sedang tertidur di sofa panjangnya ini. Dia menatap lelaki yang akhirnya bisa tertidur nyenyak. Sesekali Dee mengelus bahu lelaki itu ketika Kale terusik dan dia sedang mengetik sambil bersandar pada sofa tempat kekasihnya tidur.

Sekarang yang dilakukan Dee hanya memandangi wajah sang kekasih sambil mengelus rambutnya perlahan. Tenang seperti bayi. Perlahan Dee mengecup pelipis lelaki itu, kemudian berdiri menuju kamarnya untuk tidur.

“Selamat tidur Kale Ravindra.”

When I hurt under the surface 
You try to reach my hand to hold 
You can heal but I won’t

- Before I go, Sophie Pecora

“Deeeeeeeeee...!!!” Panggil Kale yang sedari tadi dicuekin sama pacarnya itu.

Sejak tadi mereka memang sepakat untuk mengunjungi kafe pertama kali mereka bertemu namun sepertinya kencan yang diharapkan Kale harus pupus karena perempuan di depannya ini sejak sejam yang lalu menatap layar laptop tanpa pernah memperhatikan Kale.

Kalau tau Dee akan membawa pekerjaan sudah pasti Kale akan menjemput perempuan itu dan tidak akan membiarkan dia membawa laptop. Dee yang tau rencana Kale sejak sejam sebelum waktu janjian sudah berada di kafe. Jika digabungkan perempuan ini sudah dua jam menatap layar laptop dan hanya bertukar sapa sebentar meminta ijin mengerjakan apa yang ada di hadapannya.

“Iyya. iyya ini udah mau selesai.” Ucap Dee yang sudah mengetahui pasti Kale kesal setengah mati. 

Akhirnya setelah lima belas menit menunggu Kale mendapatkan waktu Dee sepenuhnya.

Lagu Sam Smith mengalun tepat ketika Dee menutup dan memasukan laptop ke dalam tas. Seluruh waktu yang dia punya saat ini untuk Kale yang sedari tadi menunggu sambil menatap jendela kafe.

“Dee tau lagu ini?” Kale tersenyum menatap wajah Dee yang sudah tidak terhalang oleh layar laptop.

Entah mengapa Kale lupa akan masalahnya jika sudah bertemu dengan tatapan hangat Dee. Dee yang ikut tersenyum melihat senyum Kale kemudian mengelus pelan punggung tangan Kale seolah meminta maaf karena telah mengabaikannya.

“To Die for. Kenapa emangnya?” Jawab Dee melihat ke arah mata Kale seolah mencari permasalahan yang tidak pernah sanggup untuk diceritakan oleh Kale.

“Ada percakapannya di musik videonya bilang ‘Does that scare you?’ terus dijawab sama Sam ‘I don’t wanna be alone’...”

Dee terus memperhatikan Kale. Dee yakin ada hal yang Kale ingin katakan melalui percakapan yang dia coba bangun. Ada yang dikhawatirkan oleh Kale yang seharusnya bisa terbaca oleh Dee.

Dee mengulang percakapan itu, “Does that scare you? You don’t wanna be alone?”

Kale tersentak dengan pertanyaan Dee tetapi dia buru-buru menutupi dengan mengambil cangkir kopi yang berada di sampingnya dan kembali menatap jalan. Padahal baru saja dia sangat bersyukur bisa melihat senyuman di wajah Dee.

Dee kembali mengelus pelan punggung tangan Kale seperti sebelumnya seolah tau apa yang selama ini disembunyikan oleh Kale. Kale menatap Dee kembali. Dee kemudian tersenyum ketika Kale kembali berhadapan pada Dee. Dee sangat ingat kalau Kale amat sangat senang jika melihat Dee tersenyum. Karena itu sebisa mungkin Dee mengurangi sikap kurang bersahabat kalau sedang bersama Kale. Kecuali jika lelaki itu sedang jahil.

“Setiap orang wajar memiliki ketakutan Kal. Wajar juga gak pernah mau sendiri. Aku juga kemana-mana pasti sebisa mungkin minta temenin kamu kalau kamu punya waktu juga pasti kamu ikutin aku ke ujung dunia kan? Tapi Kale, kadang kesendirian itu ngebuat kita tau kalau keberadaan seseorang itu amat sangat penting. Jadi kamu gak bakal menyia-nyiakan kehadiran orang itu.”

Kale tersenyum. Seandainya Dee tau, bahwa selama ini kesendirian tidak pernah mudah untuk diungkapkan, bahkan untuk jujur dan bergantung sangat sulit saat ini. Kale membantin kepada dirinya sendiri dan meringis akan diri sendiri. Lelah amat sangat melelahkan.

Kale mengingat semua kenangan itu sesaat setelah dia mendengar langkah Dee keluar dari apartemen karena pertengkaran hebat mereka. Dia hanya tidak mau Dee pergi. Tidak pernah mau. Ketakutan-ketakutan yang seharusnya bisa diatasi menjadi bumerang buat dirinya sendiri juga hubungan mereka. 

Dia menyakiti Dee. Kale akan kehilangan Dee.

Dee tidak akan pernah memaafkan Kale jika sampai Kale menghambat karir yang sudah susah payah dibangun olehnya.

“Kamu benar-benar cuman parasit di hidupnya.”

“Kale Ravindra, gak lebih dari seongok daging penghambat atas hidup orang yang disayanginya.”

“Buat apa hidup Kale?”

Suara-suara itu kembali. 

Dee tidak pernah tau sampai hari kembalinya menemui Kale untuk terakhir kali, Dee tidak pernah merasakan apa yang Kale rasakan. Dee tidak pernah punya kesempatan.

Bukan.

Kale yang tidak memberikan ruang kepada Dee untuk dapat membantunya keluar dari bayang-bayang yang sebenarnya tidak pernah ada.

Don’t need to worry 
Don’t want you too break 
Cause your beautiful smile the only reason 
that I ever had stayed

- Before I Go, Sophie Pecora

Jakarta, 21 Januari 2020

Teruntuk Dee Suraiya,

Hallo di sini Kale Ravindra yang berhasil merubuhkan muka dingin Dee Suraiya. Aku tau pasti kamu ngerasa sebel bangetkan Dee. I’m so sorry.

Dee... banyak yang belum aku ceritain. Bahkan aku gak tau mau nulis apa dan sebenarnya untuk apa aku nulis ini. Mungkin jaga-jaga. Kalau-kalau nanti aku melakukan hal bodoh atau aku memang bodoh. Dee again I’m so sorry.

Aku memang orang yang tidak pernah baik. Itu yang aku coba hilangkan dan aku yakini bahwa itu salah, tetapi amat sulit dan melelahkan. Kamu tau kenapa aku amat sangat menyayangi kamu yang tersenyum? Aku tau kalau itu ternyata obat yang ampuh. Tapi bukan berarti kamu harus senyum 24 jam. Engga Dee.

Dee, satu-satunya yang dapat ku syukuri pada Tuhan karena kamu sempat hadir di hidup aku yang sebentar ini. Dee aku minta maaf. 

Aku minta maaf karena semua terasa begitu berat dan tak pernah mampu aku ceritakan. Aku mencoba untuk membanginya, tetapi aku tidak pernah bisa. Aku tidak akan bisa menghilangkan senyum itu. Maaf Dee.

Maaf Dee, jangan pernah menghukum diri kamu sendiri. Karena jika sampai itu terjadi, aku sendiri sudah tidak tau lagi bagaiamana cara menghukum diri aku.

Selamat hidup berbahagia Dee.

Forever Yours, Kale Ravindra.

Dee meremas surat yang berulang kali dibacanya. Tangis yang selama ini dia tahan, akhirnya keluar begitu saja.

“Dasar bodoh....” isaknya sambil memeluk nisan bertuliskan Kale Ravindra.

0 comments: