Menghargai Pertemuan
Lebih pilih mana meninggalkan atau ditinggalkan? Keduanya bukan pilihan yang menyenangkan. Tetapi di dalam keduanya ada perpisahan juga pertemuan. Dan keduanya adalah hal yang sangat aku syukuri. Sangat.
Maka, aku akan berusaha untuk bersamai waktu yang masih ada. Bercerita mengenai nanti ataupun yang sudah terlewati. Banyak tawa dan tangis yang beriringan yang masih bisa terus untuk dikenang. Masih pula ada amarah dan sesal yang belum terselesaikan. Untuk yang satu ini aku masih bodoh untuk menyelesaikannya. Dulu sekali aku pernah menulis hubungan dengan manusia sulit. Selalu sulit. Tapi terkadang ada yang tidak sesulit itu. Dalam menghargai pertemuan itu terkadang, aku lupa.
Kepada mama, aku lupa terkadang kalau mama adalah salah satu yang memberikan kehidupan, perpanjangan nafas ku selama ini. Untuk papa, terkadang sesal ku adalah tidak selalu bersamai mu di sisa waktu yang sangat jarang kita dapatkan. Ah... kali ini akan sangat jarang kita dapatkan. Untuk si kecil gendut, yang terkadang aku lupa kalau beban punggungnya juga terlalu berat. Maafkan karena sering sekali ku lupakan cara menghargai pertemuan dengan mereka. Sekarang aku pergi aku tahu waktu untuk membereskan luka-luka itu akhirnya menemukan titik temu. Benarkan Tuhan?
Namun ada beberapa luka yang kali ini sepertinya seperti sebuah pelarian. Kepada mereka yang terluka karena sikap dan tutur kata ku, maafkan aku. Senang sekali rasanya di sisa waktu yang sedikit ini banyak pertengkaran yang aku rasakan dan sepertinya memang sudah keterlaluan ya... Pertengkaran kali ini kita lebih banyak diam dan tidak berniat untuk berbicara. Bolehkah aku berkata maafkan aku?
Padahal aku kesal setengah mati, tapi di sini aku berusaha mengucap maafkan aku. Maafkan aku.
Ternyata meninggalkan kali ini tidak akan pernah semudah meninggalkan yang terdahulu. Bahkan dalam perpisahan kali ini aku sudah ditunggu dengan pertemuan-pertemuan lainnya. Kenapa yaa, rasanya berat sekali?
Jika nanti aku kembali aku akan menyambut pertemuan ini dengan ketidak sabaraan, sebuah senyuman yang lebar, mungkin letih yang akan aku sembunyikan. Bolehkan pertemuan yang nanti kita lalui dengan saling menghargai pertemuan yang entah kapan lagi akan dipertemukan.

0 comments: