Mengalahkannya.
Aku menunggu, terus menunggu walau lelah sudah menyertai ku.
Sosok perempuan yang raut mukanya tidak pernah bisa berbohong, pergi tanpa sepatah kata pamit. Pesan yang ku kirimkan tak kunjung dibalas sampai ku tahu bahwa dia telah pergi dari salah seorang teman. Kepindahannya yang mendadak tanpa kabar sejak setahun yang lalu menjadi tanya. Tidak hanya aku, bahkan banyak dari teman-teman yang lain bertanya apakah aku mendapatkan kabar darinya?
Pertanyaan-pertanyaan yang lain menjadi muncul. Aku mengingat salah satu percakapan acak yang kami lakukan. Kala itu kami sedang duduk di sebuah aula besar, karena hujan deras kami tidak dapat pulang. Aku iseng bertanya soal kehidupan padanya.
"Kamu kira-kira berencana hidup berapa lama lagi?"
Dia menengok ke arah ku dengan muka mengenyit bingung. Aku sangat hapal dengan ekspresi itu, dia sedang menebak ke arah mana pembicaraan ini.
"Hmm... aku pernah mikir buat hidup satu tahun lagi. Tapi akhir-akhir ini, mungkin lebih dari dua puluh tahun bisa aku coba." Pandangannya kembali ke arah depan melihat aula yang luas.
"Kenapa?"
"Yang satu tahun karena aku mau menyerah, bumi dan isinya tidak ramah. Bintang satu deh pokoknya. Yang lebih dari dua puluh tahun mungkin karena saat ini aku merasa cukup."
"Cukup?"
"Al, hidup yang sekarang coba aku jalani bukan perihal kemarin atau besok, tapi sekarang. Sekarang aku harus ngapain ya? Main ujan?"
Dia tiba-tiba berdiri pandangannya mengajak ku untuk menerobos hujan.
"Enggak ya. Sakit nanti. Dengerin aku. No."
Dia kembali duduk dan memasang muka sedihnya. Sungguh tatapan muka itu sudah tidak berpengaruh untuk ku.
"Enggak. Nanti sakit." Aku kembali mengulang kalimat nanti sakit. Terkadang sikap keras kepala yang dimilikinya membuat aku sangat kewalahan.
"Iyaaa. Engga." cicitnya.
"Lagian yaa Al, hidup itu kan emang tempatnya belajar. Kadang aku selalu lupa kalau aku harus hidup di masa sekarang bukan nanti. Jadi kamu juga yaa, belajar untuk mikirin saat ini aja dulu. Boleh kok mikirin nanti tapi jangan sampai rencana itu malah merusak kamu yang saat ini."
"Maksudnya?"
"Yaaa, ketika rencana itu ternyata gak terlaksana sesuai yang kamu mau, banyak dari orang-orang akhirnya malah jadi stress terus gak sedikit juga jadi saling menyalahkan. Makanya, aku cuman mau menikmati apa yang sekarang aku lakukan perihal hasilnya bukan di aku, bukan jadi bagian yang bisa aku kontrol dan aku tebak. Mungkin aku lagi belajar untuk berjalan dan menikmati setiap momennya. Kayak sekarang, Altair dan Ila menunggu hujan dengan topik kehidupan."
Aku terkekeh mendengarnya.
"Yaudah, berhenti tuh ujannya. Yuk ah balik."
"Ih padahal lagi seru." Dia berdiri untuk mengikuti langkah kaki ku.
"Al..." Panggilnya membuat ku menengok ke arahnya.
"Jangan pernah mau dikalahin sama hidup."
Aku termenung sesaat. Hanya sepersekian detik, aku menggenggam tangannya agar dia mulai berjalan.
"Udah jangan mikir hidup lagi pulang yuk ah."
Jangan mau kalah dari hidup kan La?
Aku gak pernah mau kalah, tapi kenapa kamu biarin aku buat melawannya sendirian.
Malam itu aku kembali menjadi orang yang putus asa atas kehadiran seseorang yang amat dan sangat kurindukan. Bisakah kamu kembali saja? Atau sekedar kata sapaan yang biasa kamu lakukan? Masih bolehkah aku berharap?

0 comments: