Menjadi Asing
Ada yang lucu dari sebuah buku yang aku baca. Bagaimana seseorang yang begitu memahami satu dengan lainnya dalam hitungan sesaat menjadi orang yang sama sekali tidak saling mengenal. Apakah kamu percaya?
Bagaimana kalau hal itu terjadi pada kita?
Sayangnya pertanyaan-pertanyaan ini bahkan belum sempat aku utarakan kita telah menjadi orang asing satu sama lain. Memang yaa jika menyangkut perasaan bahkan orang sepintar apapun sepertinya akan bodoh. Maka banyak dari kaum mu terkadang enggan mengunakan perasaan melainkan otak dan pikirian.
Aku masih tidak mengerti. Walaupun terkadang aku menjalaninya hubungan dengan tidak ada rasa yang terlibat di dalamnya. Memangnya kamu bahagia?
Jika kamu bertanya balik pada ku maka ku jawab, aku bahkan tidak tahu waktu itu bahagia seperti apa. Mungkin itu juga yang membuat kita akhirnya menjadi orang asing ya?
"Seseorang yang dulu begitu dekat, kini harus saling terdiam dengan perasaan canggung"- Merayakan Kehilangan.
Aku membaca itu, lalu yang ku tulis selanjutnya adalah...
Maka biarkan keadaaan ini ada sampai kamu menjadi asing.
Tidak lagi ku kenal, tidak lagi ku rasa, sampai peduli pun lenyap dari kamus "kita".
Bodoh yaa? Kenapa terus menerus merasa sayang yang tulus dengan hal yang kemungkinannya kecil. Seolah kejadian-kejadian beberapa tahun itu kembali berputar. Ah... benar. Kejadian beberapa tahun yang lalu yaa... Apa ini merupakan ujian yang sama?
Apakah orang yang berbeda itu akan kembali menjadi dua orang yang asing padahal aku hanya perlu menggenggamnya?
Terkadang aku menikmati bagaimana proses kita menjadi asing. Namun ada kalanya aku terseok bahkan banyak dari aku menyalahkan aku.
Dalam tiap doa, ku panjatkan nama juga kebahagian mu. Selalu. Dengan tulus, jika memang menjadi asing adalah yang tepat juga terbaik maka aku nikmati dan ku perjuangkan tiap detik kedepannya.

0 comments: