Andaikan.
Saat itu, detik itu aku terpikirkan sesuatu. Saat kamu mulai menjauh, kembali membentuk ruang yang tak dapat ku sentuh, kembali menjadi seseorang yang tak lagi ku kenal, asing. Akhirnya kata asing bertemu dengan kita. Aku dengan bodoh hanya mempersiapkan perpisahan yang nantinya akan terjadi. Aku lupa bahwa kamu bisa pergi kapan saja. Tiap detiknya adalah kemungkinan dari kepergianmu.
Tiap detiknya adalah awal dari perpisahan.
Mengadu pada Tuhan? Tentu saja. Aku berkata,
"Tuhan, ada kata yang tidak bisa ku ucap padanya yang hanya mampu ku jadikan untaian doa untuknya."
Doa itu akan aku ucap sampai aku bosan. Sampai aku tahu bahwa awal perpisahan kita menjadi perpisahan yang sesungguhnya. Aku ingin keras kepala untuk yang satu ini. Aku ingin menjadi aku yang dulu. Entah sakit apa yang akan ku derita nanti, kali ini ingin ku paksa sampai aku bosan dalam tiap lima waktu ku menyebutkan nama mu.
Hebat ya kita. Bisa berpura-pura dalam ketidakpastian dan mengatakan bahwa mungkin semua baik. Terkadang terbesit dalam diriku, apakah kamu juga takut akan kehilangan sosok ku nantinya? Bagaiamana jika suatu saat nanti aku menghilang tiba-tiba? Itu hanya bayangan semu yaa. Harapan yang terus menerus aku pupuk sampai rasanya aku hidup dalam imaji.
Jika nanti kamu benar-benar pergi satu yang akan ku pastikan, berbahagialah. Aku membiarkan mu pergi karena memang ku yakin kamu akan bahagia. Tenang rasa sakit ku akan sepenuhnya menjadi tanggungjawabku. Aku dan rasa kehilangan ini telah ku persiapkan. Aku pelan-pelan menjadi orang yang amat ahli dalam mengondisikan rasa sakit. Kamu tidak perlu khawatir. Ah... jangan-jangan ini juga hanya imajinasi ku saja kalau kamu mengkhawatirkan aku.
Mungkin suatu saat nanti aku akan teringat tentang hal-hal bodoh yang kita lakukan. Tawa mu yang selalu aku rindukan. Atau bahkan hal yang paling menyebalkan dari dirimu ku rindukan. Ahhh... aku membenci diri ku yang merindukan kamu. Tapi aku nikmati. Meridukan mu adalah bagian dari hari-hariku.
Sampai akhirnya aku bebas. Aku dengan aku kembali bertemu dengan orang yang secara perlahan bisa menghapus sosok mu. Bisa dengan mudah menggeser kedudukan mu. Ketika hari itu terjadi aku akan tersenyum dengan lebar menyambutnya, mempersilahkannya duduk dan kembali menikmati hari-hari ku dengannya. Yang ku semogakan tidak lagi ada bayang mu. Karena aku sudah sembuh dan bisa berlari tanpa bantuan mu lagi. Menjaga aku tanpa dekapan mu lagi. Melindungi aku tanpa tangan mu sebagai genggaman ku bertumpu. Aku mampu dengan aku sendirian.
Terima kasih ya.


0 comments: