Merangkai Cerita Sehebat Ini
Mengutip dari lirik lagu Feby Putri yang berujudul Usik. Memang yaaa sebaik-baiknya rencana maka rangkaian cerita paling tepat dan hebat adalah dari Sang Maha Pembuat Cerita itu sendiri.
“Tapi menurutku Tuhan itu baik”
Inget gak kamu, dahulu kita pernah menyalahkan mengapa hal ini terjadi pada kita. Mau menyalahkan orang padahal yang lebih salah adalah diri sendiri. Ingin protes dan membela diri sendiri berlindung dibalik kata ‘kamu berhak baik-baik saja’. Mungkin, jika saat itu menerima dan tidak menjadikan orang lain maupun keadaan sebagai kambing hitam apakah semua akan lebih baik?
Sayangnya, kita selalu berpikir ‘Jika’, ‘Seandainya’. Hei. Berhenti. Ayok, Tuhan Maha Baik kan? Luka-luka itu juga pasti ada dalam cerita yang dituliskan oleh-Nya. Sekarang, saat ini, detik ini bagaimana membalut luka itu sendiri sebaik-baik merawat orang lain, maka sebaik-baik itu juga kita merawat luka sendiri.
Ingatkan aku pernah berkata, memang kedepannya akan lebih berat. Tapi tolong jangan pernah memutuskan untuk pergi sendiri. Jaga diri baik-baik. Seperti sekarang luka-luka itu sebuah pijakan untuk terus-menerus lebih kuat. Jika menyerah hanya karena beberapa luka bagaimana bisa berdiri tegap? Pijakannya akan berkurang dan membuat timpang.
Yakin. Jika berusaha untuk terus menerus menjadi lebih baik dan berprasangka baik juga pada Tuhan semua akan baik. Ah sepertinya aku harus menambahkan satu lagi untuk kamu, merespon segala perasaan pertama kali dengan biasa biasa saja ya. Aku tahu kadang perasaan-perasaan yang sudah lama kamu ingin rasakan terkadang rasanya menggebu-gebu dan tidak sabar untuk lebih sering bahkan lebih banyak untuk dirasakan. Tapi percaya merespon semuanya dengan biasa saja dan sesuai porsinya akan membuat kamu lebih tenang. Si cemas, perlahan-lahan pasti bisa teratasi dengan baik.
Kita memang tidak pernah bisa memilih perasaan yang kita miliki. Tapi kita bisa mengkontrol dan merespon dengan cara apa perasaan itu, yakan? Terima kasih yaaa, karena menjadi kuat tidak pernah bisa mudah.
Tidak apa, tidak apa-apa. Kita tidak harus merespon segala sesuatunya secara sempurna. Lagian sempurna tiap orang-orang itu beda. Salah menurut satu orang bukan berarti salah menurut sebagian lainnya. Ah iya, salah itu juga hal yang wajar. Inget gak kata-kata di buku Wandering Stars, ‘Wajar jika banyak salahnya, ini kan pertama kali kita menjalani hidup.’ Jadi tidak apa-apa berbuat salah. Jangan takut, kalau salah, akui tanpa alasan dan perbaiki. Oke?
Jadi, hiduplah. Tak apa, semua akan baik-baik saja.

0 comments: