Curcol : The Forty Rules of Love
Prolog kali ini adalah aku pernah bilang gak sih kalau mau ganti seri curcol. Tapi aku lupa jadi apa. Hahahahaha. Yaampun mohon maaf yaa. Apa kabar? Semoga hari dimana kamu membaca ini kebaikan selalu menyertai yaa.
Mari untuk beberapa postingan ke depan aku akan memulai untuk menggunakan bahasa 'aku' dan 'kamu'. Ada apaaaa nihh? Gaa ada apa-apa. Mau ganti suasana aja. Hehehehe. Aku nulis ini tuh selangnya lama antara aku selesai baca. Jadi, aku harus kembali membuka lagi bukunya.
Let's goooo. Kali ini aku mau bahas bukunya Alif Shafak yang judulnya The Forty Rules of Love.
Novel ini adalah novel pertama bahasa Inggris yang berhasil aku tamatkan. Ya, agak minder sebenarnya baca novel dengan bahasa Inggris. Tapi kali ini tuh kayak kebutuhan. Aku bacanya emang agak lama karena memang keterbatasan aku menerjemahkan dan keterbatasan waktu aku membagi membaca novel. Tapi novel ini cukup baik buat pemula kok. Aku masih bisa dengan nyaman membaca novel ini.
Novel ini bercerita tentang dua masa dimana masa sekarang yang bercerita tentang Ella sebagai seorang penerjemah novel dan Aziz seorang penulis novel Sweet Blasphemy. Lalu ada cerita lainnya dengan masa waktu yang berbeda yang menceritakan pertemuan Rumi dengan gurunya Shams of Tabriz.
Ella seroang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang akhirnya menemukan arti sebuah cinta pada Aziz. Well, kamu harus baca sih gimana sosok Ella yang amat sangat teratur sampai akhirnya dia sadar kalau hidupnya monoton berbanding terbalik sama seseorang yang berani untuk mencinta melawan untuk bahagianya dia. Setidaknya itu yang aku rasain ya...
Sama halnya dengan Rumi dan Shams bagaimana dengan waktu yang terbatas Shams harus bisa mengajarkan Rumi untuk bisa lebih luas dalam melihat dunia?
Yang aku dapat sejauh aku membaca novel ini adalah bagaimana cara mencintai dari segala sisi dan dari segala tingkat strata sosial. Aku dituntun melihat cara mencintai dan sudut pandang dari seorang pelacur. Bagaimana mereka (maaf), hanya dipakai untuk sebagai pemuas nafsu yang ternyata mereka juga akan runtuh ketika ada yang menyayanginya dengan tulus. Memangnya semua orang tidak punya hak yang sama perihal sayang dan menyayangi? Hal ini yang pertama yang aku dapat dari novel ini.
Lalu kemudian cerita Rumi dan Shams, bagaimana penjelasan tentang cinta untuk menerima bukan hanya dari seorang istri, bahkan ada konflik antara Rumi dan anaknya. Yang menurut aku novel ini tuh paket komplit. Bagaimana Rumi akhirnya kehilangan Shams dan melawan rasa sakitnya. Sampai akhirnya dia menuangkan itu dalam puisi-puisinya.
Salah satu yang buat aku penasaran mau baca kumpulan puisi Rumi juga adalah buku ini.
Aku gak tau, cuman fase hidup aku ketika menulis ini dan membaca novel ini berbeda jadi agak bias. Jadi sekarang saat aku baca lagi bukunya, aku mau nangis. Hahahahaha. Ketika satu orang pergi bukan berarti semua dunia hilang. Kita hanya perlu menyayangi dia dengan lebih menyayangi diri kita sendiri.
Membaca novel ini ada berbagai sisi yang kadang baru bisa dipahami ketika kamu lagi diposisi yang berbeda. Setidaknya itu yang aku rasakan. Aku kasi beberapa quotes-nya yaaa.
"If you want to change the way others treat you, you should first change the way you treat yourself..."
"It wasn't death that worried me, for I didn't see it as an end, but dying without leaving a legacy behind."
"Knowing your self will lead you to the knowledge of God."
Liat sendiri kan yaa bahkan dari quotes-nya aja yang aku pilih tuh tentang mencintai diri sendiri. Novel ini tuh bikin mikir, kalau bukan jatuh cinta sama diri sendiri, kalau ga sayang sama diri sendiri pada saat jatuh gimana? Siapa yang mau sayang dan cinta? Jadi jaga diri baik-baik ya. Novel ini bagus loh buat makin sayang diri kamu sendiri dan bonusnya lagi kamu bisa merasakan perpanjangan tangan Tuhan itu benar-benar ada. Tuhan benar-benar sayang kamu.
Dadaaaahh sampai nanti di cerita aku lainnya. Full of hope you'll have a beautiful day. Everyday.


0 comments: