Pohon Duren
Aku akan menagih pada Tuhan untuk bahagia-mu, bahagia-ku, bahagia kita. Aku akan minta senyuman dan ucapan selamat pagi dari kamu yang akan aku dapatkan tiap pagi nantinya.
"Kamu percaya ga, kisah yang dimulai dengan salah satu diantara dua orang yang membangun kisah itu disembuhkan oleh pasangannya, tidak akan lama?"
"Emang ada yang bilang kayak gitu?"
"Adaaa tauuuu. Katanya, kan orang ini sembuh karena orang lain. Berarti dia menaruh bahagianya pada sosok manusia. Berarti suatu saat nanti saat dia kehilangan orang itu, dia akan berhenti bahagia. Atau ketika orang itu melakukan kesalahan yang mengecewakan dia akan bersedih bahkan sedihnya bisa saja berlarut-larut menghancurkan dirinya sendiri. Makanya hubungan yang seperti itu tidak akan lama."
"Katanya kan? yaa makanya jangan menaruh bahagia di orang lain."
"Tapi, kamu pengecualian."
"Aku?"
.
.
.
Dia pengecualian. Awal aku mengenalnya, dia adalah sosok yang ku kagumi bagaimana dia bisa dengan tenang mengatasi masalahnya. Bagaimana dia bisa memberikan solusi yang cukup solutif atas permasalahan hidup anak remaja ini. Aku pikir ini sebuah kekaguman... sampai akhirnya aku berada di satu titik, aku akan mengusahakan bahagia kami dengan baik.
Bahagia itu bukan ditaruh di sosok manusia. Bukan. Bahagia itu kita sendiri yang ciptakan. Aku memilih untuk bahagia dengan dia. Mudah? tentu tidak. Banyak sekali naik turunnya, bahkan mungkin ada waktu kami berdua tidak ingin saling menemui. Namun, pilihan ku adalah, aku ingin bahagia. kita bahagia.
Hal yang akhir-akhir ini paling ku syukuri adalah setiap panggilan video yang kami lakukan dan yang pertama kali ku lihat adalah muka bahagianya sambil berkata "Haiiiiiii..." dengan ceria. Ahh, padahal baru beberapa jam yang lalu aku mendapatkan panggilan videonya yang ceria. Aku sudah sangat merindukannya.
.
.
.
"Iyaa, kamu... pengecualian. Semoga kita pengecualian dari kata-kata orang itu. Eh... bukan semoga. Tapi harusss jadi pengecualian."
"Kamu taruh bahagia kamu di aku?"
"Engga. Tapi mungkin Tuhan ngasi waktu kamu dihidup aku, karena mau aku memilih. Aku pilih bahagia ketika ada kamu di sekeliling aku. Makin lama, aku ternyata bukan sekedar nyaman kamu berada di sekeliling aku. Aku butuh kamu ada sama aku. Karena secara gak langsung aku merasa bahagia bersama kamu."
.
.
.
Tuhan amat sangat baik. Aku selalu diberikan banyak ujian yang ku yakin aku masih banyak remedial dan catatan merah dalam buku kehidupan ku. Kamu hadir dalam kondisi ku dan kondisi kita yang luar biasa. Namun, Tuhan masih sangat amat baik karena aku masih banyak diberikan sabar yang sangat lapang. Kita sama-sama mau bertahan dan sama-sama merasa saling butuh juga bahagia bersama.
"Aku sayang kamu sebesar pohon duren."
"Aku sayang kamu sebesar dua kali pohon duren."
Tulisan ini dibuat dengan keadaan sangat merindukan manusia favorit-ku.

0 comments: