Eldest.
I have been afflicted by a terminal uniqueness
I've been dying just from trying to seem cool
Teringat atas sebuah percakapan sebelum kami tidur saat itu. Tiba-tiba saja aku berbicara padanya... oiya, saat itu kami masih dalam mode berpacaran yang mana mungkin saat itu pemikiran-pemikiran random ku tidak akan mengganggu hidupnya. Aku selalu, sebisa ku menahan tetapi yang selalu terjadi adalah... memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu ku pikirkan (dia belum tahu sifat ku yang ini) jadi sepertinya dia mendapatkan jebakan batman. Mau tidak mau menjawab pertanyaan random ku sebelum tidur,
"Sayang, kenapa yaaa anak perempuan pertama seolah dibranding jadi manusia paling kuat di muka bumi ini. Memangnya anak laki-laki pertama ga sama capeknya? Bukannya semua anak pertama bebannya sama? Bukannya manusia itu punya porsi capeknya masing-masing yaa? Kenapa mesti membandingkan lelahnya manusia satu dengan lainnya?"
Aku tiba-tiba teringat menanyakan hal random ini karena banyak postingan di twitter yang mengatakan kalau anak perempuan pertama manusia terkuat, terkeras kepala di muka bumi ini. I feel that as an eldest daughter. But why??? Kenapa harus di branding seperti itu?
Tidak dalam hitungan menit dia membalas pesan singkat ku dengan,
"Karena secara sosial, perempuan dan laki-laki sudah dicap berbeda, dan lebih kuat laki-laki. Jadi saat berada di posisi yang sama, misalnya sama-sama anak pertama maka otomatis yang perempuan pasti dianggap lebih hebat."
Dia kembali menambahkan untuk pertanyaan ku perihal membandingkan lelah, "Terkadang bukan membandingkan, tetapi manusia itu naluriahnya mencari teman, agar tidak merasa sendiri. Jadi, perasaan yang hadir adalah ohh... ada juga yang lebih capek selain aku."
"Padahal kami atau aku sebagai anak perempuan tidak merasa lelah sebagai peran anak perempuan pertama. Peran yang lainnya iya, mungkin aku lelah. Tapi untuk yang satu itu aku menikmatinya." Ku balas pesannya dengan sedikit pembelaan.
"Tapi aku rasa galak dan keras kepalanya kamu karena kamu tumbuh sebagai anak perempuan pertama." Jawabannya kali ini agak membuat ku tidak terima.
Tapi ku lewatkan saja karena saat itu topik pembicaraan kami sudah berganti dengan mengirimkan foto sebelum tidur. Ah... aku merindukan masa itu. Aku merindukan dia.
That was a lie
Every eldest daughter was the first lamb to the slaughter
So we all dressed up as wolves and we looked fire
So we all dressed up as wolves and we looked fire
Mengingat hal-hal kecil yang dahulu pernah kami lakukan atau percakapan yang sebenarnya tidak penting dan malah melahirkan tulisan ini, aku dipenuhi rasa syukur.
Bagaimana dahulu aku menceritakan padanya kalau aku tidak memiliki niat untuk menikah, karena tidak sanggup sepertinya berkoordinasi dengan papanya anak-anak kalau sampai aku menikah. Atau aku tidak tahu apakah orang yang nantinya akan ku habiskan waktu untuk hidup di dunia ini mau berkompromi dengan sifat-sifat ku begitupun sebaliknya.
Aku, anak perempuan pertama tanpa sadar berpura-pura baik-baik saja agar tidak membuat khawatir mama papa. Atau mungkin agar tidak dikasihani. Tidak bisa menikah tidak sama dengan tidak mau menikah. Yaaa... setelah bertemu dengan laki-laki ini aku tahu kalau semua itu ternyata bisa berubah. Tidak apa-apa ternyata menikah. Tidak apa-apa ternyata menyayangi seseorang dan disayangi oleh seseorang.
Tidak apa...
Saat aku marah-marah pada dunia, dia akan tertawa kecil dan mencium ku balik hanya agar dunia ku kembali mereda tidak dipenuhi banyak tekanan. Padahal dia tahu persis bagaimana beratnya menjadi anak pertama. Mungkin benar kata orang-orang, karena dia laki-laki yang digunakannya lebih banyak logika ketimbang perasaan.
Bagaimana bisa mengontrol perasaan dan lebih mendominasi logika untuk menghadapi dunia yang saat itu tidak baik? Dia mengajariku untuk lebih bernafas, untuk menutupinya dengan tawa, atau menutup kedua telinga ku agar tidak berisik.
Terkadang aku sedih, karena aku tahu bagaimana beban dan sibuknya dia dalam menjalani dunia. Tidak ada yang mengerti dan dia masih harus menutupinya dengan tawa dan senyuman yang menghiasi wajah gantengnya. Ingin ku peluk dan ku genggam tangannya mengajaknya kabur sejenak melihat laut. Beristirahat dari kepura-puraan.
Kami sama-sama anak pertama. Anak pertama yang keras kepala. Kami sama-sama berpura-pura sampai lupa kalau kami sedang berpura-pura. Sampai topeng yang kami gunakan perlahan menjadi muka asli kami dalam menghadapi dunia. Hanya Tuhan yang tahu aslinya. Bahkan aku tidak tahu topengnya begitupun dia, dia tidak mengetahui topeng yang sedang ku kenakan.
And this isn't savage
But I'm never gonna let you down
I'm never gonna leave you out
So many traitors
Smooth operators
But I'm never gonna break that vow
I'm never gonna leave you now, now, now
Walaupun dengan topeng yang menyerupai muka asli aku berjanji setidaknya pada diri ku sendiri. Kalau aku mau menjadi aku, aku mau sembuh dan aku mau tumbuh menjadi lebih baik. Aku tidak akan meningglkan diri ku lagi.
Yaaa.. wajar dengan banyak nya penipu, pengkhianat. Manusia-manusia bertopeng yang jahat, apa yang bisa diharapkan? Memiliki sebuah topeng yang terpasang untuk menghadapi mereka.
Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Sekarang pun aku masih di tempat yang sama dengan aku yang tumbuh menggunakan topeng yang lebih baik. Menjadi aku yang lebih baik.
Aku menatapnya tersenyum. Lelaki hebat ku, akan selalu menjadi lelaki hebatku.

0 comments: