Mencoba Mencapai Permukaan
Kata orang, rindu itu indah
Namun bagiku, ini menyiksa
Sejenak kufikirkan
Untuk ku benci saja dirimu
Namun sulit ku membenci
- Bimbang, Melly Goeslow
Aku berjalan mengitari pesisir pantai yang entah sudah berapa jauh dari kerumunan. Sepi, tenang, suara deburan ombak kecil seperti mencoba memerotes pasir pinggir pantai yang menghalanginya untuk lebih jauh. Suara deburan ombak ini... selalu mengingatkan aku tentang sesuatu yang enggan untuk ku ingat.
Bagaimana mengatakannya? Teringat namun tidak ingin diingat. Laut adalah kecintaan ku, kamu tahu. Semua tahu. Namun, sedikit yang tahu kenapa? Kebanyakan bagus. Setiap cerita ada ku selipkan laut, ntah ku juga tidak tahu mengapa. Peran terus berganti, tetapi laut tidak. Laut tidak pernah berganti menjadi bagian dari perantara membawa ketenangan.
Suara laut, jika kamu berada di permukaan maka yang kamu dengar adalah suara air yang beradu dengan udara serta sayup sayup suara makhluk berterbangan lainnya. Terkadang tidak hanya langit biru yang beradu warna pada pandang mu, hijau pepohonan juga menjadi pemanis sekaligus pelengkap keindahan. Terkadang semakin membawa kamu masuk pada ketenangan.
Jika kamu berada di dalamnya, terus... berada di kedalamannya... semakin sedikit yang kamu dengar. Namun sekali kamu mendegar hentakan maka nyaring sekali yang terdengar, walau kadang rasanya jauh. Dominasi warna yang bisa kamu lihat juga tergantung kedalamannya masih dekat dengan permukaan maka makin banyak warna yang bisa kamu lihat, merah, hijau kebiruan, cokelat, favorit ku mungkin oranye. Warna karang, oranye atau warna ikan nemo. Semakin dalam kamu hanya akan menemukan dominasi warna biru dan hewan-hewan laut yang diceritakan dahulu menakutkan, galak, seram, berbahaya.
Lalu, bagian laut mana yang mendeskripsikan kamu?
Kedalaman laut. Mungkin dulu masih dipermukaan... menyenangkan dipenuhi banyak warna, mengembirakan. Tempat ku selalu memberikan senyum terbaik-ku. Oranye bak senja adalah dua warna yang selalu memberikan suara bisikan, tenang hari esok kita coba lagi. Sayangnya, ketika esok aku coba lagi aku semakin terbawa pada kedalaman yang menakutkan itu.
Satu hal yang baru ku sadari semakin dalam, maka dingin akan semakin menyergap mu. Dingin dan kesendirian.
You're taking my life from me
- Drowning, Woodzy
Tak apa, pada akhirnya itulah sebuah kehidupan. Bertemu, melepaskan, terlepas, dilepaskan, meninggalkan, ditinggalkan, terpisah, berpisah, dipisahkan, dan perlahan menjadi asing.
Seperti tenggelam, awalanya tidak menyadari dan semua baik-baik saja... hanya terasa dingin, lebih sunyi, semakin dingin dan terus dingin. Ketika menengok ke samping kiri dan kanan sudah tidak ada siapa-siapa. Perlahan kepanikan, tidak ada genggaman lagi bahkan tidak ada yang bisa digenggam air yang terus menerus dicoba untuk digapai ke permukaan hanya semakin membuat kehabisan nafas... lama-lama rasanya tercekik, sulit bernafas, sakit sesak di dada... dan akhirnya... tidak ada rasa yang bisa dirasa. Bukan lagi sakit, mungkin ada kata yang bisa menggambarkan kata melebihi kata sakit?
Tak apa, Tuhan baik, ketika tahu kalau sudah tidak ada siapa-siapa ternyata masih ada Tuhan. Ketika tidak ada genggaman sama sekali, ternyata saat itu... saat terdiam dan tidak berusaha apa-apa, Tuhan lagi mengajak untuk digenggam, untuk diingat. Bayangkan, bayangkan saja... ini untuk ku, tak apa tidak untuk mu... bayangkan Tuhan berkata,
Tak apa, diam saja dan terus berdoa pada-Ku. Aku selalu bersama mu. Aku berada di sisi-Mu. Kali ini percaya pada-Ku. Ku ingatkan dengan rasa sakit ini karena sepertinya kamu mulai lupa. Kamu mulai terlalu asik menyelam dan berenang. Tak apa... Kita usahakan lagi. Sini Aku genggam, Aku bersama-Mu. Aku, hanya Aku yang mampu dan bisa melihat apa yang tidak bisa orang lain lihat. Hanya Aku yang paham. Biarkan Aku yang bekerja, takdir-Ku. Kali ini beristirahatlah. Berdoa dan mengusahakan yang baik buat dirimu sendiri. Yang bukan dalam kendali mu, itulah Takdir-Ku. Jangan... coba usahakan dengan doa dan memohon pada-Ku. Coba usahakan dengan hanya katakan pada-Ku. Memohonlah pada-Ku. Aku yang memberikan rasa sakit, berarti hanya Aku yang mampu menyembuhkannya kan?
Semakin tenang, semakin diam, semakin aku tidak mengatakan apa-apa dan percaya kalau kali ini bukan tangan makhluk yang ku genggam. Udara perlahan memasuki dada ku yang terasa sesak. Perlahan ayunan kaki ku untuk mencapai permukaan tidak terasa terlalu berat, perlahan... aku kembali mencoba mencapai permukaan dengan lebih tenang. Perlahan... semua bisa terasa lebih baik.

0 comments: