Tak Apa, Kali ini Angin Bersama Mu
Awan sepertinya sedang sangat ramah pada perjalanan ini... Aku menatap hamparan laut luas dari sebuah deck kapal laut dengan secangkir kopi yang sengaja ku letakkan dekat jendela agar angin membantu ku untuk meredakan panas membuatnya kembali hangat.
Laut tuh sepertinya memang diciptakan untuk berpikir. Melihat laut seolah berdialog dengan diri sendiri semakin sering, terus berulang-ulang. Sampai akhirnya aku berhenti di sebuah pertanyaan, bagaimana kalau aku berhenti?
Aku terdiam... Bagaimana yaa? apakah itu suatu hal yang seharusnya tidak aku pikirkan juga? Namun akhir-akhir ini melihat dunia sangat melelahkan dan semakin ingin untuk berhenti. Tentu tidak, tidak dengan memutuskan sendiri. Hanya ketakutan tidak berdasar karena jenuh dan akhirnya tiba-tiba berhenti disaat aku belum benar-benar siap.
Aku saat ini ternyata takut tiba-tiba menemui akhir cerita hidup ku sendiri. Apa yang sebenarnya aku takutkan? Banyak.
Takut belum cukup memiliki amal yang menutupi dosa-dosa ku.
Takut tidak bisa sendirian pada petak yang hanya satu kali dua meter itu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat. Bagaimana jika lidah ku kelu?
Ketakutan yang seharusnya tidak perlu. Karena, untuk apa?
Sampai ketakutan-ketakutan itu berubah menjadi sebuah kesedihan tidak berdasar. Komedinya adalah kesedihan itu memunculkan aku sangat merindukan mu. Kehadiran mu, menutup kedua telinga ku, lalu memeluk ku dengan erat dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Kali ini aku kembali belajar sendirian dan kembali pada-Nya. Ketakutan lain muncul. Bagaimana jika bukan kamu? Bagaimana jika aku berhenti mencintaimu? Bagaimana jika Tuhan berkhendak untuk membalikkan hati ku dan tidak lagi bersama kamu? Padahal sudah banyak sekali alasan yang bisa ku gunakan untuk berpaling. Ketidak pastian dan hilangnya saling. Aku takut.
Tak apa, hanya sejenak. Ku harap hanya sejenak. Ku harap aku tetap di sini... hanya maju beberapa langkah karena menyayangi ku. Yaa karena aku menyayangi aku, aku maju beberapa langkah semoga kamu tidak terlewat ketika berjalan ke arah ku.
Bagaimana ini? aku tidak tahu apa-apa. Aku kembali ketakutan kita tidak pernah berada di jalan yang sama. Padahal itu adalah risiko yang ku pilih.
Ku sisip kopi yang seharusnya tidak ku minum. Kopi kedua ku hari ini. Biarlah, hanya hari ini. Hari ini saja. Dunia tidak henti-hentinya berdengung di kepala ku.
Angin semakin kencang, bukan lagi elusan tangan pada pungung ku yang menenangkan. Kali ini seteguk kopi secara perlahan dan angin laut yang menyapa ku dan meyakinkan ku, jika kali ini juga akan terlewat. Aku terlewat rasa sakitnya hanya sejenak lalu kembali menjadi biasa... seperti biasa.

0 comments: